Deputi Pengkajian Strategik Lemhannas RI: Sawit sebagai Pengungkit dan Pelopor Agrobisnis Nasional

Deputi Bidang Pengkajian Strategik Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Prof. Dr. Ir. Reni Mayerni, M.P. menjadi pembicara pada Webinar Nasional Strategi Penguatan Kebijakan Pengelolaan Sawit Secara Berkelanjutan dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat dalam Rangka Ketahanan Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Rabu (10/02). Reni yang mewakili Gubernur Lemhannas RI mengangkat topik Menjaga Kedaulatan Negara Melalui Optimalisasi Pemanfaatan Kelapa Sawit Sebagai Sumber Energi Terbarukan.

Pada kesempatan tersebut Reni menyampaikan bahwa bicara mengenai ketahanan nasional adalah bicara bagaimana kondisi dinamis bangsa untuk menanggulangi ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan sehingga pendekatannya berasal dari salah satu gatra yang ada, yakni gatra ekonomi. Sejalan dengan gatra tersebut, ada gatra pendekatan spasial geografis yaitu pendekatan provinsi, terlebih sawit berada di beberapa provinsi di Indonesia.

“Satu-satunya yang bisa menjadi pengungkit dan pelopor agrobisnis nasional adalah tanaman sawit,” ujar Reni. Menurut Reni, sektor pengembangan industri kelapa sawit sangat strategis bagi pembangunan perkebunan di Indonesia karena mampu menjadi pengungkit dan pelopor pembangunan agrobisnis nasional. Terlebih lagi ada 2 potensi energi yang dapat dihasilkan dari kelapa sawit, yaitu biodiesel dan biopower. “Tentu saja ini akan berkontribusi dalam ketahanan daerah, bahwa ketahanan-ketahanan yang ada di daerah spasial akan menjadi ketahanan nasional,” tutur Reni.

Industri sawit juga berkontribusi dalam pembangunan daerah, sebagai sumber daya penting untuk pengentasan kemiskinan. Minyak sawit juga merupakan produk perkebunan yang paling siap sebagai sumber energi terbarukan. Kehadiran minyak sawit menjadi biodiesel, lanjut Reni, dinilai sangat strategis untuk mendukung upaya pemerintah mengantisipasi krisis energi di masa depan serta membantu menekan subsidi BBM yang berasal dari energi minyak mentah.

“Efek pasar global sangat bagus, kita melihat tren sawit di dunia saat ini cukup stabil,” kata Reni. Meskipun terjadi penurunan di awal tahun 2020, tetapi di Juni sampai Desember masih terjadi peningkatan konsumsi minyak sawit. Dari sisi oleokimia terjadi peningkatan yang signifikan karena digunakan untuk hand sanitizer dan sabun karena terjadi peningkatan konsumsi di dalam negeri yang disebabkan oleh pandemi. Sisi biodiesel juga terjadi peningkatan dari B20 menjadi B30. Data juga menunjukkan bahwa total konsumsi tahun 2020 sebesar 17,35 juta ton, yakni meningkat 3,6% dibanding tahun sebelumnya.

“Kalau kita melihat produksi dan konsumsi ekspor dan impor kelapa sawit 2015-2020, kita melihat bahwa terjadi penurunan volume tinggi untuk ekspor,” ujar Reni. Minyak sawit Indonesia pada tahun 2020 memang turun 9,05% dibandingkan 2019. Namun, nilai ekspornya mengalami peningkatan dari 20,22 M pada 2019, menjadi 22,97 M pada 2020. “Jadi di saat pandemi ini meskipun terjadi penurunan di berbagai negara namun terjadi peningkatan ekspor dari wasit. Ini menunjukan sawit Indonesia sangat menjanjikan meskipun dalam kondisi yang sangat rentan di pandemi ini,” kata Reni.

Pada kesempatan tersebut, Reni juga menyampaikan mengenai perkembangan konsumsi domestik kelapa sawit tahun 2015 sampai 2020. Dapat dikatakan bahwa secara umum konsumsi domestik kelapa sawit untuk biodiesel mengalami tren peningkatan. Dari sisi perkembangan konsumsi biodiesel 2010 sampai 2019, Reni menyampaikan bahwa tren peningkatan konsumsi domestik terhadap biodiesel menunjukkan konsumen Indonesia semakin sadar dengan pentingnya pemakaian bahan bakar yang ramah lingkungan. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada peluang lebih besar untuk memanfaatkan konsumsi kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan dibandingkan diekspor ke luar negeri. Hal tersebut dapat memberikan manfaat bagi Indonesia, di antaranya adalah mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, dapat menurunkan dan mengurangi defisit neraca perdagangan, serta dapat menurunkan dan mengurangi polusi udara di Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, Reni juga menyampaikan hal yang dipandang perlu guna optimalisasi pemanfaatan kelapa sawit. Reni memandang perlu dibentuknya Badan Otoritas Sawit. “Meskipun kita tahu ada BPDPKS yang sudah melaksanakan fungsi-fungsinya, kami melihat perlu diperluas, apakah itu pembentukan badan tersendiri atau memperluas jangkauan apa yang sudah dilakukan oleh BPDPKS,” kata Reni. Hal tersebut bertujuan untuk menyelesaikan masalah tumpang tindih regulasi dan tumpang tindih baik antarkementerian maupun antara pusat dan daerah untuk mengembangkan industri sawit ke depannya.

Reni juga berharap makin banyaknya kebijakan yang mendorong pengembangan industri pengolah sawit berskala kecil dan menengah. “Mendorong industri pengolahan berskala kecil terbentuknya klaster-klaster dari turunan sawit yang kami sebut media factory sharing,” ujar Reni. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pola pembinaan, pelatihan, fasilitas (rumah produksi maupun mesin), dan pemasaran produk terhadap petani sawit dapat didukung oleh program kementerian dan lembaga. “Kementerian dan lembaga yang kami undang untuk harmonisasi kebijakan masih ada yang harus diselesaikan sehingga jalannya masing-masing bisa lebih baik dan tertata lagi. Sehingga kami berharap harmonisasi ini bisa dilakukan oleh pemerintah secepatnya,” tutur Reni.

Kemudian Reni menyampaikan beberapa saran. Pertama, Reni merasa diperlukan pengembangan platform terintegrasi mulai dari data petani, data lahan, info saprotan, data panen, data transaksi, data stok, data permintaan, data harga pasar, dan analitik dashboard, Hal tersebut dapat dikembangkan oleh BUMN holding sawit jika nanti terbentuk. Kedua, di sisi pengembangan SDM pengelola sawit, perlu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, profesionalisme, kemandirian dan dedikasi pekebun, tenaga pendamping, dan masyarakat perkebunan kelapa sawit sehingga posisi tawar dari petani sawit dapat diupayakan bersama untuk meningkat. Hal tersebut dapat didukung melalui sertifikasi dan peningkatan keterampilan pekebun sawit dan industriawan sawit.

Ketiga, dengan mengembangkan dan memperluas penelitian tentang produk turunan sawit yang inovatif dan menyesuaikan dinamika pasar. Reni berpandangan bahwa penting untuk mendapatkan hak paten, baik dilingkup nasional maupun internasional. Inovasi produk kelapa sawit di dunia kurang lebih ada 7.456 paten. Namun, dari seluruh paten yang ada Indonesia hanya memiliki 3 inovasi paten Indonesia, jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia dengan 79 inovasi paten dan Singapura dengan 34 inovasi paten. Keempat, pengambil kebijakan harus menyiapkan tim negosiasi sawit yang andal dari berbagai bidang dan melakukan penguatan peran Indonesia dalam Dewan Negara Produsen Minyak Kelapa Sawit atau Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) agar meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam menentukan harga sawit ditingkat internasional. Keanggotaan dalam CPOPC juga harus dimanfaatkan untuk menguatkan diplomasi internasional.


<script src="https://code.responsivevoice.org/responsivevoice.js?key=oK4OtHmB"></script>


Hak cipta © 2024 Lembaga Ketahanan Nasional RI. Semua Hak Dilindungi.
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 10 Jakarta 10110
Telp. (021) 3451926 Fax. (021) 3847749