RTD Bahas Akselerasi Transformasi Industri Manufaktur Indonesia

Kedeputian Pengkajian Strategis kembali menggelar Round Table Discussion (RTD) atau Diskusi Meja Bundar pada Kamis (24/5) pagi, selama kurang lebih empat jam di ruang Kresna Gd. Astagatra Lemhannas RI. Kali ini mengangkat topik hangat dari bidang ekonomi yakni "Akselerasi Transformasi Ekonomi berbasis Manufaktur guna Meningkatkan Kemandirian dan Daya Saing dalam rangka Ketahanan Nasional".

 

Dengan dipimpin langsung oleh seorang moderator Taprof Bidang Ekonomi Lemhannas RI Ending Fadjar, S.E., M.A., kegiatan diskusi berlangsung menarik karena mampu menghadirkan berbagai masukan-masukan bermanfaat bagi tim perumus terkait topik yang diangkat. Masukan tersebut tentunya dapat diperoleh melalui informasi dari paparan yang disampaikan oleh keempat narasumber, di antaranya Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Sri Adiningsih, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Andy Noorsaman, serta Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Amalia Adininggar Widyasanti.


Kegiatan RTD dibuka secara resmi oleh Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo dengan didampingi oleh Wagub Marsdya TNI Bagus Puruhito beserta Sestama Komjen Pol. M Iriawan. Pemilihan tema oleh tim pemurus dilatarbelakangi oleh masih relatif rendahnya jumlah industri berbasis manufaktur yang ada di Indonesia, sedangkan didominasi oleh industri komoditi.

 

Airlangga sebagai narasumber utama mengungkapkan bahwa sering terjadi kekeliruan terhadap persepsi masyarakat terkait kontribusi manufaktur Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (GDP). “Indonesia persepsinya keliru, negara industri itu banch marknya 17 persen dari GDP. Posisi manufaktur kita diatas 17 persen terhadap GDP, kita masuk ranking nomor empat di dunia, setelah Korea, China dan Jerman kemudian Indonesia,” jelasnya.


Sistem ekonomi Indonesia berorientasi dalam negeri, berbeda dengan negara seperti Singapura dan Vietnam yang berorientasi pada ekspor. Industri Indonesia diarahkan pada substitusi impor dimana akan mengurangi devisa, kemudian dilakukan pendalaman struktur, pengurangan import bahan baku penolong, serta orientasi ekspor dengan target ekspor 10 persen dari GDP.


Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2018 sebesar 5,06 persen, dan angka ini tergolong tinggi untuk standar dunia, dan pertumbuhan sektor industri relatif stabil diatas angka 5 persen. “Ini yang sering buat pemerintah di kritik, karena tidak sesuai dengan janji 7 persen, karena dunia arahnya slowing down. Pertumbuhan sektor industri relatif stabil, tapi kita punya industri yang tidak lemah, yaitu industri mesin dan perlengkapan sudah manufaktur, pertumbuhannya 14,98 persen, tiga kali dari pertumbuhan ekonomi,” ujar Airlangga.


Berbicara masalah investasi, yang tertinggi saat ini pada sektor tersier seperti perbankan, perhotelan yang masih berada di angka 45 persen secara konsisten baik Penanam Modal Asing (PMA) maupun Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN). Kita memiliki undang-undang penanaman modal, dimana tidak dibedakan antara PMA dan PMDN, karena yang terpenting dari suatu sektor industri yakni kepemilikan aset, tenaga kerja dan bangunan/gedung yang dibangun di Indonesia. “Bagi industri yang paling penting adalah asetnya di Indonesia, dan yang memiliki saham terbesar itu ya republik, 30 persen pajak.  Yang pertama dapat kan pajak, pajak dibagi sebelum deviden, jadi industri untuk mengcreate jobs dan pemerintah menerima devidennya dalam bentuk pajak,” jelasnya.



Hak cipta © 2020 Lembaga Ketahanan Nasional RI. Semua Hak Dilindungi.
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 10 Jakarta 10110
Telp. (021) 3451926 Fax. (021) 3847749