LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI

Visi pembangunan Pemerintahan Jokowi-JK, sebagaimana tercantum dalam Nawacita  adalah terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Untuk mewujudkan visi pembangunan tersebut harus didukung dengan adanya hubungan yang baik antara negara dengan masyarakat/ warganya.

Hubungan yang baik tersebut sangat erat kaitannya dengan pemenuhan hak dan kewajiban warga negara. Hak adalah sesuatu yang mutlak menjadi milik kita,  sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang harus kita lakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Sebagai warga negara, tentunya kita layak untuk menerima hak dan memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kewajiban itu. Pertanyaan mendasar yang perlu untuk kita ketahui yaitu, apakah hak sebagai warga negara sudah kita terima dengan baik dan apakah kita sudah melakukan kewajiban yang seharusnya dilaksanakan oleh warga negara? Banyaknya kejadian yang mencerminkan tidak seimbangnya hak dan kewajiban sebagai warga negara, antara lain terjadinya intoleransi, korupsi, kepatuhan yang rendah dalam membayar pajak, pelanggaran lalu lintas, kejahatan terhadap anak dan perempuan yang kesemuanya akan bermuara pada terjadinya disharmoni sosial, apalagi tidak disertai dengan penegakan hukum yang kuat.

Untuk mengetahui bagaimana hak diterima dan kewajiban dilakukan oleh warga negara, serta perlunya penguatan hukum, makaLemhannas RI  melakukan jajak pendapat terhadap 598 responden warga negara Indonesia yang berdomisili di 12 kota besar di Indonesia.

Download Hasil Jajak Pendapat

 

Padamu negeri, kami berjanji untuk berbakti dan mengabdi....

sang-saka-merah-putih-yang-kalah-dengan-bendera-parpol.jpgKalimat tersebut di atas, tidaklah asing di telinga kita, terutama ketika menyanyikan lagu Bagimu Negeri, baik pada upacara bendera maupun diberbagai kesempatan lainnya. Sekalipun tidak asing, tetapi apakah kalimat tersebut mampu memberikan makna bagi kita sebagai warga negara?

Lagu yang diciptakan oleh Kusbini di tahun 1942 terinspirasi dari rentetan sejarah panjang bangsa kita, termasuk tidak terlepas dari peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang sebentar lagi akan kita rayakan.  Pemuda – Pemudi “Indonesia” di era tahun 1928 telah memperlihatkan baktinya terhadap bangsa, dengan menyatakan tekad untuk negeri yang bernamakan Indonesia. “bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia”, “berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia” dan “mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”.Kini, menjelang perinagatan Hari Sumpah Pemuda ke –88 tahun 2016, Lemhannas RI menggelar jajak pendapat terhadap 464 responden yang berdomisili di 12 kota besar di Indonesia untuk memotret “Bagaimanakah penghayatan makna Sumpah Pemuda saat ini”?

 

Banggakah kita menjadi Indonesia?

kaos-garuda-di-dadaku-2-5906295.jpgSumpah Pemuda merupakan salah satu tonggak sejarah terpenting bagi bangsa Indonesia. Para Pemuda – Pemudi kala itu telah bertekad dan bersatu untuk membebaskan bangsa dari kolonialisme selama ratusan tahun.

Dengan ikrar sumpah bertanah air yang satu, berbangsa yang  satu, dan berbahasa yang satu yaitu bahasa Indonesia, menjadi tekad dan bukti kecintaan para pemuda - pemudi kala itu terhadap negeri ini. Sumpah ini, merupakan hasil keputusan bersama kaum muda pada Kongres Pemuda kedua pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928 di Jakarta yang waktu itu masih bernama Batavia.

Tekad bersama kaum muda yang dilandasi rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme ini menjadi pelopor seluruh bangsa Indonesia untukmenentang segala kolonialisme dan meraih kemerdekaan. Hingga 17 (tujuhbelas) tahun kemudian Indonesia pun berhasil memproklamirkan kemerdekaannya. Inilah yang menjadi kebanggaan kita bagaimana peran kaum muda dalam perjalanan sejarah bangsa. Lalu bagaimana kita melihat kaum muda di era saat ini?

Mencermati hasil jajak pendapat yang dilakukan Lemhannas, perlu mendapat perhatian serius kepada kaum muda saat ini, meskipun ada secercah harapan yang perlu kita pupuk untuk meriah cita – cita bangsa ke depan. Dalam jajak pendapat tersebut, hanya 17,9% yang hafal isi Sumpah Pemuda, namun lebih dari 90% responden mengetahui bahwa tanggal 28 Oktober diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda. Dalam hal lain, responden juga menunjukkan kebanggaannya terhadap Indonesia seperti yang diperlihatkan hasil jajak pendapat. Lebih dari 90% responden yang menyatakan kebanggaannya terhadap kekayaan alam yang dimiliki Indonesia.   Hasil lain menunjukkan, 78% responden merasa bangga memiliki bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Kemajemukan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, adat, ras, dan golongan, terbukti dapat dipersatukan oleh bahasa Indonesia. Bahkan, oleh negara lain Bahasa Indonesia, dijadikan sebagai bahasa kedua bagi penduduk Ho Chi Minh City ibu kota Vietnam. Dan di Australia Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa populer keempat.[1] Hal ini menunjukkan Bahasa Indonesiamenjadi alat persatuan, tidak hanya bagi bangsa Indonesia, tetapi juga bagi bangsa–bangsalain.

Di samping bangga terhadap tanah air dan bahasa Indonesia, 97% responden juga bangga menjadi warga Indonesia, sekalipun masih terdapat 1,5% responden mengaku tidak memiliki kebanggaan sebagai bagian dari warga Indonesia. Sekalipun jumlahnya tidak signifikan, hal ini perlu menjadi perhatian kita bersama, mengapa masih ada warga negara yang tidak bangga terhadap negaranya sendiri. Seharusnya sebagai warga negara kita harus bangga dan mencintai Indonesia, apapun keadaannya. Kebanggaan inilah yang menjadi modal dasar bagi kita untuk berpiki, bersikap dan bertindak dalam konteks pengabdian kepada bangsa dan negara.

Sikap perilaku anak negeri yang paling menonjol dianggap tidak membanggakan adalah perilaku koruptif. Hal ini terlihat dari 55% pendapat responden yang menilai, bahwa tindakan tidak terpuji ini, membuat tidak bangga. Memang perilaku korupsi seolah telah mengakar budaya yang terus menggerus kehidupan berbangsa dan bernegara. Malah, para pejabat publik yang seharusnya menjadi teladan dan panutan masyarakat, justru banyak yang terjerat kasus korupsi. Deputi Pengawasan Internal dan Pengaduan KPK, Ranu Wiharja menyebutkan 18 Gubernur dan 343 Bupati/Wali kota terjerat kasus korupsi[2].

 

Bahasa Indonesia, Bahasa Pemersatu.

cxmkkuowsaao5ek-large-571a2b76a123bd3b0a16d76c.jpgBahasa memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi antar individu, kelompok, dan organisasi sosial dalam berbagai konteks kehidupan. Terkait dengan Bahasa Indonesia, pemanfaatannya di 12 kota besar di Indonesia, ternyata lebih dari 60% responden melihat, bahwa penggunaan bahasa Indonesia sudah baik. Sementara, sebanyak 28% responden masih tetap menggunakan bahasa daerah dalam kesehariannya. Namun perlu dipahami, Bahasa daerah merupakan kekayaaan budaya kita yang tetap perlu dipelihara dan dilestarikan.

Indonesia sebagai bagian dari dunia global, memang tidak terlepas dari pengaruh bahasa asing di Indonesia.  Tidak bisa dipungkiri, bahwa bahasa internasional, seperti Bahasa Inggris, sangat membantu berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang dari negara lain. Bahasa Inggris, yang merupakan bahasa asing di Indonesia mempunyai peranan besar pula bagi Indonesia itu sendiri. Namun demikian, kekhasan sebagai bangsa yang memiliki bahasa ibu, tetap perlu untuk dijaga dan dipertahankan, sehingga dampak pengaruhnya tidak meluas. Penggunaan bahasa Indonesia, sebagai bahasa Ibu, harusnya tetap dikedepankan. Seperti misalnya di tempat-tempat umum, di baliho, papan reklame, nama perumahan dan lain-lain, yang justru menggunakan bahasa asing. Sekalipun demikian, 77% publik masih melihat wajar dan tidak berlebihan dalam penggunaan bahasa asing tersebut.

Terkait dengan pemuda, perlu diapresiasi bahwa 51% responden menilai bahwa pemuda Indonesia saat ini lebih bangga menggunakan istilah-istilah bahasa Indonesia dalam percakapan-percakapan sehari-hari. Namun demikian, kita juga merasa prihatin, karena lebih dari 40% responden juga melihat pemuda kita bangga menggunakan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Oleh karenanya, sebanya 67% responden tetap menekankan perlunya sekolah – sekolah terhadap penguasaan bahasa Indonesia dalam pendidikan. Bahkan, 85% responden menginginkan tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di Indonesia harus bisa berbahasa Indonesia. Bila diperlukan, memberlakukan tes kemampuan bahasa Indonesia dan menjadi salah satu syarat wajib para TKA yang akan bekerja di Indonesia. Hal ini penting dilakukan sebagai suatu langkah untuk menjunjung tinggi bahasa Indonesia.

 

Pemuda kita dewasa saat ini

narkoba_merdeka_mati.jpgKita tentu sangat berharap, bahwa pemuda-pemudi kita saat ini dapat meneladani hidup kaum muda tempo dulu, yang memiliki semangat membara menyatukan hati dan tekad, bahwa hidup bukan untuk berorientasi individual, tetapi berorientasi yang lebih luas yaitu bagi bangsa dan negara. Namun sangat disayangkan, lebih dari 65% responden justru berpendapat, bahwa kaum muda kita saat ini dinilai berorientasi cenderung individualistis. Tentu saja hal ini memprihatinkan kita sebagai bangsa. Syamsuddin Haris, peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menyatakan bahwa kohesi sosial yang menjadi pengikat bangsa Indonesia yang begitu beragam, kinisemakin mengendur akibat menguatnya pragmatisme politik dan ikatan-ikatan primordial. Kondisi ini semakin diperparah lagi oleh lebarnya kesenjangan sosial ekonomi. Ini membuktikan bahwa penyebab kendurnya ikatan kebangsaan di Indonesia disebabkan semakin kuatnya nilai pragmatisme, termasuk pragmatisme kekuasaan.[3]

Sekalipun pemuda kita masih berorientasi individual, tetapi 60% responden berpendapat sudah ada organisasi kepemudaan di lingkungannya. Lebih dari 40% responden menilai bahwa organisasi kepemudaan tersebut telah memberi pengaruh positif bagi lingkungan dan 17% responden lainnya menilai keberadaan organisasi kepemudaan belum memberikan pengaruh yang positif bagi lingkungannya. Oleh karena itu, perlu didorong organisasi kepemudaan tersebut agar mampu memberikan pengaruh positif bagi lingkungannya. Bagi Lemhannas RI, organisasi tersebut menjadi potensi sebagai agen perubahan dalam memantapkan dan mengaplikasikan nilai – nilai kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Keprihatinan yang dirasakan oleh sebagian responden terhadap pemuda Indonesia saat ini adalah keterlibatan dalam penggunaan narkoba. Lebih dari 50% responden merasakan kekhawatirannya terhadap penggunaan narkoba oleh para pemuda. Wajar saja hal ini mengkhawatirkan, karena dampak negatif bagi pengguna narkoba tidak hanya merusak kesehatan dan kejiwaannya, tetapi bahkan tidak menutup kemungkinan juga dapat merusak generasi bangsa. Tercatat, pencandu narkoba di Indonesia semakin menjamur dan pada umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun, artinya usia tersebut ialah usia produktif atau usia pelajar.[4]

 

Saatnya Mengabdi dan Berbakti pada Negeri

10859503_10203300380736996_1630327896_n.jpgMomentum peringatan Hari Sumpah Pemuda,seharusnya menjadi kesempatan yang baik bagi kita untuk merefleksikan sejauh mana bakti dan pengabdian kita untuk negeri tercinta Indonesia. Sebanyak 84% responden melihat persatuan dan kesatuan masyarakat di lingkungannya masih terjaga dengan baik, bahkan sebanyak 40% responden berpendapat masih ada semangat kegotongroyongan dalam masyarakat lingkungannya. Ini tentu dapat menjadi modal berharga agar bakti dan pengabdian kepada negeri bisa diwujudkan.

Sebanyak 80% responden memandang perlu adanya gerakan bersama untuk lebih mencintai tanah air tercinta ini, antara lain melalui penciptaan lingkungan yang bersih dan pengelolaan sampah yang baik.  Lingkungan yang bersih akan menghindarkan dari sumber – sumber penyakit yang menjadikan kita nyaman dan betah untuk berada di rumah. Ini bagian kecil yang paling mungkin dilakukan oleh setiap individu. Dalam mengelola sampah, kita bisa meniru bagaimana Surabaya menjadi salah satu kota di Indonesia yang dinilai mampu mengelola sampah dengan baik, melalui program 3R (reduce, reuse, recycle). Tidak hanya itu, Program 3R dinilai telah menjadi landasan upaya pengelolaan sampah secara mandiri oleh masyarakat, dalam rangka mengurangi sampah dan mengambil nilai ekonomis dari sampah. Surabaya, bahkan telah menjadi role model negara-negara di Asia Pasifik.Hal ini sangat penting pula dapat dikembangkan untuk seluruh masyarakat Indonesia, sehingga dapat menjadi gerakan bersama dalam rangka membangun bakti dan pengabdian bagi negeri tercinta Indonesia.

Wujud bakti dan pengabdian kita kepada negeri, dapat dilakukan dengan mencintai produk dalam negeri. Lebih dari 80% responden berpendapat, bahwa dengan menggunakan produk dalam negeri, merupakan wujud cinta kepada tanah air. Gerakan cinta produk dalam negeri ini, tidak hanya menjadi tugas Pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat tanpa kecuali. Namun demikian produsen dalam negeri juga harus dituntut dapat meningkatkan kualitas produk yang bermutu dengan harga yang kompetitif untuk pasar dalam negeri, sehingga akan terus dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat.

 

Penutup

Lagu Bagimu negeri, seharusnya tidak hanya sekedar kita nyanyikan, tapi seharusnya dapat kita petik makna yang terkandung dalam lirik lagi tersebut dan mengimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sebagai bagian untuk memaknai hari Sumpah Pemuda. Berjanji untuk mencintai negeri dengan sepenuh hati, berbakti dan mengabdi tanpa pandang bulu, bukan karena pamrih apa – apa, tetapi karena kewajiban bagi setiap warga negara. Tentu, masih ada banyak berbagai cara kita untuk dapat berbakti dan mengabdi yang dapat dilakukan.Sehingga tekad dan cita-cita Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928, tetap bisa kita wujudkan, untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan bersatu, yaitu bangsa Indonesia.

 Selamat Hari Sumpah Pemuda!!!

 


[1]http://arifashkaf.wordpress.com/2015/03/14/mengapa-kita-harus-bangga-dan-cinta-tanah-air

[2]http://nasional.kompas.com/read/2016/08/03/12090731/kpk.18.gubernur.dan.343.bupati.wali.kota.terjerat.korupsi

[3]Kompas, Minggu 16 Oktober 2016.

[4]http://hmmpb.blogspot.co.id/diakses pada tanggal 19 Oktober 2016.

 

 

Tim Penyusun:

  1. Kolonel Caj Drs. Mujianto, M.Sc
  2. Megawarni Simamora, S.E., M.M
  3. Dr. Danang Sri Wibowo R, S.T., M.T.
  4. Shinta Tri Lestari, S.H., M.Kn.
  5. Bhayu Atmojo Putro, S.IP, M.Si.
  6. Pria Jarkasih, S.E., M.Sc.
  7. Nety Nurda, Skom, M.T.
  8. Tisnaini Adelini, S.H.
  9. Ikcha Maulidya, S.Psi.

 

 

Berikut Hasil Lengkap Jajak Pendapat:

 

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_1.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_2.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_24.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_23.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_22.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_21.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_20.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_19.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_18.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_17.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_16.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_15.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_14.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_13.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_12.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_11.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_10.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_9.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_8.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_7.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_6.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_5.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_4.jpg

PADAMU_NEGERI_KAMI_BERBAKTI_Tabel_3.jpg

 

Metode Jajak Pendapat:

Pengumpulan pendapat melalui telepon ini diselenggarakan Lemhannas RI pada 8 s.d 10 Oktober 2016. Sebanyak  464 responden berusia minimal 17 tahun dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari buku telepon terbaru, dengan sampling error sekitar 4,5 %. Responden berdomisili di 12 kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta,  Surabaya, Medan,  Palembang, Denpasar, Banjarmasin, Pontianak,  Makassar,  dan Manado. Jumlah responden di setiap wilayah ditentukan secara proporsional. Meskipun demikian, kesalahan di luar pencuplikan dimungkinkan terjadi. Hasil jajak pendapat ini tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat seluruh masyarakat di negeri ini.

Memasuki usia Republik Indonesia yang ke-71 pada tahun 2016, nasionalisme dan cinta Tanah Air  ternyata masih sangat kuat di hati masyarakat. Akan tetapi, kentalnya nasionalisme dan kecintaan terhadap Tanah Air  masih dihadapkan pada perilaku destruktif sebagian warga negara yang langsung atau tidak langsung dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini terekam dari hasil jajak pendapat menjelang peringatan HUT RI terhadap 514 responden yang berdomisili di 12 kota besar di Indonesia untuk memotret bagaimana kondisi nasionalisme dewasa ini.

Kondisi Nasionalisme Saat Ini
      Setidaknya ada tiga kondisi nasionalisme yang tergambar dalam masyarakat dewasa ini, yaitu pemahaman nasionalisme, rasa nasionalisme dan bagaimana perilaku nasionalisme itu tumbuh di masyarakat. Pemahaman nasionalisme merupakan sebuah pengetahuan (knowledge) yang mengarah kepada wawasan kebangsaan yang tidak sektoral dan tidak individual. Rasa kebangsaan berkaitan dengan perasaan seseorang yang senantiasa merindukan dan mencintai tanah airnya; sedangkan perilaku nasionalisme merujuk kepada suatu sikap dan tindakan cinta Tanah Air dalam kondisi apapun.  
merah putih      Pemahaman publik akan nasionalisme terlihat dari jawaban hampir seluruh responden (92 %) yang menganggap pentingnya peringatan HUT RI di lingkungan tempat tinggal. Pemahaman yang sama terlihat dari jawaban 96,1 % responden dengan melakukan pengibaran bendera Merah Putih di halaman rumahnya. Hampir seluruh responden (96,7 %) juga masih merasa bahwa menghafal lagu kebangsaan Indonesia Raya merupakan kewajiban bagi setiap warga negara. Pada konteks ideologis, nyaris seluruh responden (95,9 %) masih berpandangan bahwa setiap warga negara wajib hafal Pancasila. Pada tataran tertentu, hal ini mengindikasikan bahwa publik masih memiliki pemahaman nasionalisme atau cinta Tanah Air yang sangat kuat; hal ini tentu sangat membanggakan.
      Demikian pula dengan rasa Nasionalisme publik yang sangat membanggakan. Hal ini terlihat dari jawaban 91 % responden yang masih memiliki kepedulian ketika saudara sebangsanya disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Philipina. Kentalnya rasa nasionalisme di kalangan publik juga terlihat dari jawaban 92 % responden yang merasa bahwa bencana di daerah lain di Indonesia sebagai bencana di daerahnya sendiri, sehingga hampir seluruh responden (94 %) pun tergerak memberikan sumbangan kepada mereka yang tertimpa bencana. Rasa kebangsaan lain yang tergambar dalam jajak pendapat ini adalah berkaitan dengan kehadiran Tenaga Kerja Asing (TKA) di negara kita. Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa 46 % responden merasa terganggu dengan kehadiran para TKA, hal ini tak ayal dianggap oleh 61 % responden karena akan menggeser peluang lapangan kerja bagi bangsa sendiri. Bahkan, 47,9 % responden menilai bahwa kehadiran TKA tersebut dapat mengancam Ketahanan Nasional.
      Walaupun pemahaman dan rasa nasionalisme publik membanggakan, akan tetapi perilaku nasionalisme saat ini berada pada taraf memprihatinkan. Hampir seluruh responden menunjukkan kekuatirannya terhadap perilaku destruktif sebagian warga negara, seperti penyalahgunaan narkoba, perilaku korup, aksi terorisme, dan peredaran vaksin palsu.
      Korupsi merupakan salah satu perilaku masalah moral terbesar di negeri ini. Peliknya masalah korupsi di negeri ini tercermin dari pandangan 66,9 %  responden bahwa korupsi telah mencederai nasionalisme dengan sangat parah, sedangkan 29,4 % responden menganggapnya parah. Hal ini sangat beralasan mengingat besarnya kerugian negara akibat korupsi. Sebagai gambaran, menurut Indonesian Corruption Watch (ICW), pada tahun 2015 korupsi telah mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 31,077 triliun. Sekalipun pemerintah  berusaha sungguh-sungguh telah melakukan pemberantasan korupsi dengan berbagai upaya, tetapi justru kasus korupsi terus bermunculan di negeri ini. Para pelaku, tidak saja pejabat negara, tetapi juga politisi, akademisi, pengusaha, aparat hukum dan tidak ketinggalan juga tokoh-tokoh dari kalangan LSM yang selama ini ikut menyuarakan korupsi. Tertangkapnya Panitera Pengganti PN Jakarta Pusat dalam operasi tangkap tangan KPK beberapa waktu yang lalu, menunjukkan betapa tidak jeranya para pelaku korupsi tersebut.  

 

darurat narkoba
     Penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu ancaman potensial dan strategis yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia.  Hasil jajak pendapat juga mengungkapkan bahwa 95 % responden melihat narkoba telah mencederai nasionalisme dengan sangat parah dan parah. Narkoba sendiri telah sangat merusak moral dan masa depan bangsa. Hingga November 2015, pengguna narkoba di Indonesia mencapai 5,9 juta orang; dan yang mengerikan adalah setiap harinya 50 orang anak bangsa meninggal sia-sia akibat narkoba. Oleh karena itu, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyatakan bahwa Indonesia saat ini masuk dalam kategori darurat dan perang terhadap narkoba.
      Perilaku destruktif lainnya ditunjukkan dengan keterlibatan sebagian anak bangsa dalam gerakan radikal maupun kelompok teroris. Perilaku ini oleh 88 %  responden dinyatakan sebagai perilaku yang telah mencederai rasa nasionalisme bangsa Indonesia dengan sangat parah dan parah. Dengan dalih kemurnian agama, mereka mengklaim menjadi martir; tetapi aksi mereka justru mengacaukan negara. Serangan dan ledakan bom Thamrin Jakarta, Januari 2016,  menunjukkan bahwa pelaku teroris masih terus berkeliaran dan menjalankan aksinya. Sekalipun para tokoh utama teroris yang beraksi di Indonesia akhirnya telah ditangkap dan terbunuh oleh pihak keamanan, tetapi ternyata terorisme tidak mati dan masih tumbuh di Indonesia.
      Perilaku-perilaku lain yang telah mencederai bangsa sendiri adalah merebaknya peredaran vaksin palsu yang sangat merugikan masyarakat. Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa 90,6 % menganggap tindakan ini telah sampai pada kategori sangat parah dan parah dalam mencederai nasionalisme.
Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa tindakan-tindakan destruktif yang tersebut di atas pada gilirannya membuat 58 % responden khawatir akan timbulnya ancaman bagi keutuhan NKRI.

Nasionalisme di Masa Depan
      Walaupun perilaku nasionalisme sebagian warga negara berada pada tahap memprihatinkan, akan tetapi pemahaman dan rasa nasionalisme masih dapat dibanggakan. Hal ini diperkuat dengan hasil jajaknasionalisme bungkarno pendapat yang menunjukkan bahwa hampir seluruh responden (96 %) tetap mencintai negeri ini dalam kondisi apapun. Selain itu, 97 % responden juga menyatakan  tetap bangga sebagai bangsa Indonesia. Tentu hal tersebut memberi harapan besar akan keberlangsungan bangsa kita di masa yang akan datang karena menjadi modal sosial yang besar.
Upaya untuk menggelorakan kembali jiwa dan semangat nasionalisme bangsa Indonesia harus terus dilakukan, sehingga semangat pengorbanan menyala-nyala sebagaimana terjadi ketika mengusir imperialisme penjajah tetap tumbuh di negeri tercinta ini.
Untuk itu, diperlukan suatu konsep nasionalisme yang mampu menggelorakan kembali jiwa dan semangat nasionalisme kebangsaan. Semangat nasionalisme sangat diperlukan dalam pembangunan bangsa agar setiap elemen bangsa bekerja dan berjuang keras mencapai jati diri dan kepercayaan diri sebagai sebuah bangsa yang bermartabat. Tiap-tiap elemen yang ada dalam masyarakat di Indonesia perlu memiliki konsep nasionalisme yang dapat diterjemahkan sebagai perilaku konstruktif di dalam kehidupan nyata.
      Nasionalisme sendiri seyogyanya tidak terbatas pada tataran pemahaman dan rasa, tetapi harus mampu diwujudkan dalam perilaku yang nyata dalam mencintai bangsa dan negara. Proklamator Republik Indonesia Ir. Soekarno menegaskan bahwa nasionalisme tidak sebatas pada adanya keinginan untuk bersatu atau persatuan sikap karena persamaan nasib. Lebih dari itu, Soekarno menekankan bahwa nasionalisme harus diwujudkan dengan tindakan konstruktif dalam kecintaan terhadap Tanah Air.
Menumbuhkan perilaku nasionalisme yang konstruktif terhadap Tanah Air dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya dengan penegakan hukum dan aturan yang berlaku secara konsisten. Wujud bela negara saat ini menurut masyarakat Indonesia adalah menaati aturan hukum (49 %), bekerja dengan baik (26,3 %), dan membayar pajak (20,6 %). Selain penegakan hukum dan peraturan, agama, budaya dan pendidikan dapat menjadi pintu masuk dalam upaya membangun perilaku nasionalisme yang konstruktif.
      Agama memiliki peranan penting dalam kehidupan umat manusia, bukan saja untuk kehidupan kini di dunia, tetapi juga kelak dalam kehidupan masa yang akan datang. Dalam bukunya Nasionalisme Kiai, Konstruksi Sosial Berbasis Agama, Ali Machsan mengatakan bahwa salah satu konsep pemahaman nasionalisme  para kiai adalah rasa keterikatan (al-ashabiyah) sekelompok orang yang berada dalam geografis tertentu yang memiliki kesamaan tujuan untuk membangun suatu sistem tatanan kehidupan. Pengelompokan tersebut merupakan kebutuhan obyektif yang bersifat fitri bagi manusia. Atas dasar inilah nasionalisme tidak dibangun dengan sentimen keagamaan, tetapi dibangun atas pluralitas (al-ummah), rasa persaudaraan (al-qau-miyah), solidaritas dalam keragaman (asy-syu ubiyah), kesederajatan (al-musawah), dan cinta tanah air (al-wathaniyah). Banyak pihak menilai bahwa agama bertentangan dengan nasionalisme, dan bahkan dianggap sebagai faktor perusak keutuhan bangsa. Akan tetapi, agama ternyata dapat menjadi faktor perekat bangsa (integrating forse) sekaligus bisa menjadi basis ikatan solidaritas sosial yang kuat (supra identity) antar warga bangsa.  Tentu, bukan hal salah apabila pencerahan nasionalisme digelorakan di tempat-tempat ibadah. Justru melalui tempat ibadah ini nasionalisme dapat disuarakan, sehingga dapat menjadi perekat bangsa dan menjadi basis ikatan solidaritas sosial yang kuat antar warga bangsa.
Peringatan HUT RI ke-71 merupakan momentum untuk  melakukan pencerahan tentang bagaimana nasionalisme  dapat diwujudkan dalam perilaku yang konstruktif.
Dirgahayu Indonesia.


Tim Penyusun:
Prof. Dr. Ir. Djagal W. Marseno, M.Agr.
Mayjen TNI Muhamad Hasyim, Sos.
Kolonel Caj.Drs. Mujianto, M.Sc
Megawarni Simamora, S.E., M.M
Dr. Danang Sri Wibowo R, S.T., M.T.
Shinta Tri Lestari, S.H., M.Kn.
Pria Jarkasih, S.E., M.Sc.
Tisnaini Adelini, S.H.
Bhayu Atmojo Putro, S.IP, M.Si.
Nety Nurda, Skom, M.T.
Ikcha Maulidya, S.Psi.
Muhammad Farid

 

 

 

graph1 graph2
graph3 graph4
graph5 graph6
graph7 graph8
graph9 graph10
graph11 graph12
graph13 graph14
graph15 graph16
graph17 graph18
graph19 graph20