LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI

 

Selasa (22/12), “Tepat pada tanggal 22 Desember, tanggal dimana momen sejarah kebangkitan perempuan indonesia digelorakan. Peringatan Hari Ibu (PHI) setiap tahunnya diselenggarakan untuk mengenang dan menghargai perjuangan kaum perempuan indonesia, yang telah berjuang bersama-sama kaum laki-laki dalam merebut kemerdekaan dan berjuang untuk mencapai kemajuan bangsa”, ujar Gubernur Lemhannas RI Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji, DEA dalam Upacara PHI di Lapangan Tengah Lemhannas yang dihadiri oleh para Pejabat Struktural.

 

Momentum hari ibu diharapkan kali ini juga menjadi refleksi, introspeksi dan renungan bagi semua kalangan, untuk terus berinovasi dan berkreasi memajukan kiprah  perempuan sehingga mampu sebagai agent of change di semua bidang pembangunan.

 

Bagi generasi muda,PHI telah mewariskan nilai-nilai luhur dan semangat perjuangan yang tidak pernah luntur dari para founding father dan para perempuan pejuang untuk  mempertebal tekad dan semangat untuk bersama-sama melanjutkan dan mengisi pembangunan dengan dilandasi semangat persatuan, kesatuan dan kegotongroyongan.

 

Bertepatan dengan PHI  ke-87 tahun 2015 tema yang diangkat adalah ”kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam mewujudkan lingkungan yang kondusif untuk perlindungan perempuan dan anak”, dengan melihat situasi dan kondisi bangsa indonesia saat ini dan menyelaraskan dengan arah kebijakan pembangunan sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2015-2019 serta mewujudkan nawa cita sebagai salah satu agenda nasional.

 

Di lain sisi, Peran kaum laki-laki dan keluarga dalam pembangunan juga menjadi hal yang harus terus ”dikampanyekan” untuk menjadi satu gerakan massive dan berkesinambungan dalam rangka penghapusan segala bentuk kekerasan dan perlakuan  diskriminatif lainnya terhadap perempuan (dan anak). Hal tersebut Berdasarkan Fakta lapangan yang  menunjukkan masih maraknya berbagai bentuk kekerasan  serta kompleksitas masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat saat ini seperti : kekerasan, kejahatan seksual, trafficking, pornografi, infeksi menular seksual dan hiv/aids, narkoba, kriminalitas dan lainnya disebabkan karena runtuhnya pondasi ketahanan dalam keluarga.

 

Oleh karena itu, ketahanan keluarga (melalui penanaman nilai-nilai budi pekerti, keimanan dan ketakwaan) menjadi salah satu pilar untuk menjawab dan mengatasi berbagai permasalahan tersebut.