LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
Portal Lemhannas RI - Items filtered by date: Selasa, 03 April 2018

Kepala Biro Umum Brigjen Pol.  Drs.  Triyono Basuki memimpin acara Pelaporan Kenaikan Pangkat bagi Prajurit TNI dan PNS di lingkungan Lemhannas RI, Rabu (4/4) pagi di ruang Dwiwarna Purwa Gd.  Pancagatra Lemhannas RI. Jumlah personel Lemhannas yang dilaporkan kenaikan pangkatnya yakni TNI sebanyak 20 orang,  dan PNS sebanyak 39 orang.  Triyono dalam sambutannya menyampaikan bahwa kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi dari pangkat semula merupakan bentuk pehormatan dan penghargaan dari Negara Republik Indonesia bagi para personel Lemhannas yang terpilih dengan kriteria maupun syarat yang telah ditentukan.


"Kenaikan pangkat merupakan bagian dari pembinaan karier personel yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi, kesejahteraan moril dan materiil sehingga akan terpelihara tekad dan motivasi dalam bekerja," ujar Triyono selepas membuka acara kenaikan pangkat. Para personel yang menerima kenaikan pangkat kedepannya akan mengemban amanah yang sangat tinggi nilainya. Oleh karenanya diharapkan kenaikan pangkat hendaknya menjadi pendorong untuk bekerja lebih baik dan profesional dalam melaksanakan tugas.


Selain itu kenaikan pangkat diharapkan mampu menjadi role model atau teladan bagi pejabat dan pegawai lainnya, sehingga dapat memberikan motivasi dan semangat perubahan untuk meningkatkan kinerja organisasi yang semakin baik lagi, memberikan manfaat bagi Lemhannas RI, terlebih bagi Masyarakat, Bangsa dan Negara.

Di publikasikan di Berita

Persatuan Istri Anggota (Perista) Lemhannas RI menyelenggarakan acara pertemuan rutin para anggotanya beserta Karyawati sebagai ajang silaturahmi dan berbagi ilmu dengan menghadirkan narasumber yakni seorang Designer ternama Didi Budiardjo untuk memberikan pengenalan mengenai Batik, di ruang Dwiwarna Purwa Lemhannas RI, Rabu (4/4).


Ketua Perista Herlina Agus Widjojo membuka kegiatan pertemuan, dalam sambutannya Ia mengenang perjuangan R.A Kartini sebagai pahlawan yang memajukan peradaban perempuan Indonesia, salah satunya dengan mengajak untuk membatik. “Saat beliau dipingit, dia mengumpulkan perempuan di sekelilingnya untuk membatik, dan hari ini kira sudah kehadiran seseorang yang masih muda dan sangat mengerti tentang batik, ialah Didi Budiardjo,” ujar Herlina. Ia juga berpesan kepada para anggota Perista agar dapat memanfaatkan ajang pertemuan ini untuk menambah pengetahuan seputa batik.


Batik telah dinobatkan sebagai salah satu warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009, dan semenjak saat itu setiap tanggal 2 Oktober dikenal sebagai hari batik nasional. Didi Budiardjo memperkenalkan secara mendetail tentang filosofi batik, sembari menunjukkan koleksi-koleksi batik miliknya. Menurutnya pengertian batik sendiri adalah satu teknik yang berkembang di Indonesia dengan menggunakan Rintang Warna Malam/Lilin. Didi berulang kali menegaskan bahwa terdapat perbedaan antara Batik dan Tekstil Motif Batik, yakni Tekstil Motif Batik menggunakan metode printing, berbeda dengan Batik sesungguhnya yang menggunakan penghalang/perintang warna malam dalam proses pembuatannya. “Disebut batik apabila melalui proses warna malam, apakah batik tulis ataupun batik cap,” ujar Didi.


Sembari diperdengarkan Gending Pakurmatan, yakni Gending yang dimainkan saat Raja menyambut tamu-tamunya, Didi Budiardjo yang menunjukkan koleksi batik-batiknya mampu mengubah suasana di ruang Dwiwarna layaknya di dalam Keraton. Batik dibagi menjadi dua bagian, yakni Batik Keraton dan Batik Pesisiran. Ia menjelaskan bahwa di Keraton terdapat 11 motif larangan, di antaranya yang paling terkenal adalah motif Parang. “Kalau orang Jawa berkunjung ke Keraton sebaiknya tidak menggunakan motif Parang, karena hanya diperuntukkan bagi keluarga Raja dan Raja,” jelasnya.


Selain itu Didi juga menceritakan tentang awal mula keberadaan batik yang berasal dari masyarakat agraris. “Nenek moyang bangsa Indonesia juga merupakan bangsa agraris, mereka bercocok tanam dan belum masuk ke Keraton. Batik Pangbangan adalah cikal bakal dari batik, yang berwarna merah. Ketika masuk Keraton, batik menjadi lebih beragam,” katanya.

Di publikasikan di Berita