LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
Portal Lemhannas RI - Items filtered by date: Senin, 02 April 2018

Peserta PPRA LVII dan LVIII Tahun Angkatan 2018 menerima kuliah umum dari Ketua Program Studi Master of Science S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Dr. Bernard Loo Fook Weng yang mengangkat topik “Tiongkok dan Penolakan Wilayah Anti Akses (A2AD) di Laut Cina Selatan (LCS) serta Implikasinya untuk Asia Tenggara” di Auditorium Gadjah Mada, Gedung Pancagatra Lemhannas RI, (3/4) pagi.


Dalam diskusi tersebut, Dr. Bernard memaparkan klaim Tiongkok di Laut Cina Selatan yaitu Operasi Asimetris yang melibatkan penjaga pantai dan pembangunan pulau buatan dan militerisasi berkelanjutan. Terkait operasi asimetris, Dr. bernard menyampaikan Tiongkok melakukan berbagai upaya  dalam mengklaim LCS diantaranya pengenaan di Zona Identifikasi Pertahanan Udara, tindakan militer di laut, serta taktik asimetris di laut. Dr. Bernard juga menyampaikan tentang sejarah terjadinya bentrokan bersenjata di LCS.


Selanjutnya, Dr.Bernard memaparkan taktik asimetris yang dilakukan Tiongkok di wilayah Laut Cina Selatan diantaranya dengan merancang ulang kapal bekas PLAN (angkatan laut Tiongkok) untuk dipergunakan sebagai kapal penjaga pantai wilayah Tiongkok. Selain itu, taktik ini juga didukung dengan kapal militan maritim, nelayan yang dipersenjatai dikenal dengan “Little Blue Man” dan dianggap sejajar dengan kapal milik Rusia yakni “Little Green Man” di Crimea. Sejak tahun 2014, kapal militant tersebut semakin berkembang dan sering merekrut personel purnawirawan PLAN.


Dr. Bernard kemudian memaparkan upaya lain Tiongkok dalam melakukan klaim terhadap Laut Cina Selatan dengan membangun pulau-pulau buatan di Tiongkok sejak tahun 2014, yang diklaim dapat melindungi kapal-kapal nelayan selama musim topan. Bukti menunjukkan bahwa pulau-pulau buatan tersebut sedang dimiliterisasi. Selain itu, Dr. Bernard juga memaparkan mengenai strategi Tiongkok dalam menguasai wilayah laut Cina Selatan yang dikenal dengan strategi kubis yaitu dengan mengumpulkan kekuatan sedikit demi sedikit di sekitar Laut Cina Selatan.


 Kegiatan Ceramah ini kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang melibatkan peserta PPRA LVII dan LVIII dan ditutup dengan foto bersama serta penyerahan cenderamata.

Di publikasikan di Berita