LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
Portal Lemhannas RI - Items filtered by date: Rabu, 07 Februari 2018

DR. Ir. Ngakan Timur Antara. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian memberikan ceramah kepada peserta pemantapan nila-nilai kebangsaan (Taplai) terkait peran industri dalam pertumbuhan ekonomi, Kamis (8/2) di ruang NKRI Gd. Pancagatra Lemhannas RI. Menurut Ngakan peran industri tidak terlepas dari persoalan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Perindustrian memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, terlebih saat ini pemerintah menekankan kepada pelaku usaha untuk mengoptimalkan bonus demografi. “Mengapa? Karena apabila bonus demografi itu tidak dikelola dengan baik bukan menjadi bonus tapi akan menjadi beban negara,” ujar Ngakan.


Menurut Ngakan rasa nasionalisme juga sangat penting dalam berekonomi. Ia memberikan contoh dengan mulai diberlakukannya peraturan wajib memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) baru produk-produk tertentu. “Saya ambil salah satu contoh mengapa nasionalisme itu penting di dalam kita berekonomi, misalkan sekarang ada produk yang diberlakukan wajib SNI. Kalau dia tidak mempunyi label SNI dia tidak boleh beredar. Kita memberi pengakuan terhadap produk yang ber-SNI ada lembaganya, yakni lembaga sertifikasi produk,” jelas Ngakan.


Pemberian sertifikat produk bagi pelaku usaha merupakan bentuk standarisasi bisnis. Standarisasi bisnis tidak akan mampu bertahan apabila perekonomian nasional tidak berkembang, oleh karena itu perlu adanya perpaduan antara standar, bisnis, dan nasionalisme. Badan Litbang Industri disini berperan sebagai pembina lembaga sertifikasi produk yang beroperasi di tingkat nasional. Litbang Industri melakukan pengembangan produk melalui inovasi teknologi, memberikan solusi terhadap permasalahan industri, meningkatkan daya saing industri nasional dan melakukan penerapan teknologi dalam meningkatkan nilai tambah barang.


Banyak media memberitakan terkait kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang dinilai relatif menurun. Ngakan memberikan gambaran terminologinya bahwa sektor industri terhadap PDB menurun karena pada dasarnya kontribusi bersifat realtif, dengan menurunnya PDB nasional yang sebelumnya berada pada 20%, sehingga terjadi deindustrialisasi. Deindustrialisasi merupakan proses kebalikan dari industrialisasi yaitu penurunan kontribusi sektor manufaktur alias industri pengolahan nonmigas terhadap PDB. Dalam konteks ini, penurunan juga terjadi dari aspek output produksi dan tenaga kerja sehingga sektor kegiatan manufaktur mengalami penurunan nilai tambah. Gejala ini juga kerap disebut deindustrialisasi negatif di tengah belum matangnya per tumbuhan ekonomi suatu negara seperti Indonesia.


Indonesia saat ini sudah berkontribusi sebanyak 2,5% pada pertumbuhan global, paling tinggi di ASEAN, dan nomor lima di dunia. Konstribusi tertinggi yakni Tiongkok yang menunjukkan kemajuan pesat dalam sektor manufaktur dan menempati peringkat teratas didunia sejak 2010. Sementara Indonesia sebagai sesama negara berkembang, naik secara lambat dari peringkat 18 di tahun 1990 ke peringkat 11 di tahun 2015 dan peringkat 9 di tahun 2016.

Di publikasikan di Berita