LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
Portal Lemhannas RI - Items filtered by date: Selasa, 06 Februari 2018
Rabu, 07 Februari 2018 00:00

Humas Lemhannas RI Kunjungi Media Group

Kepala Biro Humas Settama Lemhannas RI Brigjen TNI Mindarto didampingi Kepala Bagian Humas dan Kepala Bagian Protokol dan Dokumentasi, mengunjungi kantor Media Group di Kebon Jeruk, Jakarta (06/02).  Kunjungan dilaksanakan untuk meningkatkan hubungan baik yang telah terjalin antara Lemhannas RI dan Media Group.

 

Kunjungan Humas Lemhannas RI disambut baik oleh Public Relations and Publicity Manager Henny Puspitasari didampingi Kepala Sekretariat Redaksi Media Indonesia Sadyo Kristiarto, Wakil Pemred MetroTVNews.com Khudori, beserta jajaran. Henny Puspitasari menyampaikan bahwa mengingat sudah adanya Nota Kesepahaman antara Lemhannas RI dan Media Group, kesempatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu forum untuk mengevaluasi dan saling memberi masukan bagi kedua belah pihak.  

 

Sebelumnya, Lemhannas RI bekerja sama dengan Eagle Institute Metro TV melaksanakan kompetensi film dokumenter Eagle Award pada tahun 2015 dengan tajuk “Merajut Indonesia”. Kegiatan tersebut merupakan salah satu kolaborasi Lemhannas RI dan Metro TV dalam upaya menggugah dan membangkitkan semangat akan tanggung jawab seluruh elemen bangsa dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Lemhannas RI sebagai lembaga pemerintah menyadari pentingnya peran media dalam mendukung program kerja Lemhannas RI khususnya dalam menyampaikan kinerja Lemhannas RI dan turut serta menguatkan ketahanan nasional bangsa. Pada kesempatan tersebut, Media Group juga menyampaikan beberapa informasi dan masukan kepada Humas Lemhannas RI terkait alur kerja redaksi di media agar hubungan kerja antara humas dan jurnalis dapat lebih efektif dalam hal peliputan kegiatan lembaga.

Di publikasikan di Berita
Rabu, 07 Februari 2018 00:00

Pre Course Calon Peserta PPRA Mancanegara

Calon peserta PPRA LVII dan LVIII tahun ajaran 2018 yang berasal dari negara sahabat, menerima pembekalan awal tentang pengenalan kelembagaan yang disampaikan oleh Kepala Biro Humas Settama Lemhannas RI Brigjen TNI Mindarto, Rabu (7/2) di Ruang Gatot Kaca, Gd. Astagatra Lt. III, Lemhannas RI. Peserta terdiri dari 14 orang peserta asing yang berasal dari 11 negara, yakni Australia, Bangladesh, Fiji, Malaysia, Nigeria, Pakistan, Saudi Arabia, Singapura, Sri Lanka, Timor Leste, dan Zimbabwe.


Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala Bagian Kerja Sama Internasional Kolonel Lek Rujito D. Asmoro. Ia menyampaikan pesan kepada para peserta mancanegara, agar terus meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia agar dapat mengikuti program pendidikan dengan baik. “Bahasa Indonesia mengalami tantangan dalam kehidupan, terutama di era media sosial. Bapak-bapak harus terus berusaha untuk mengimprove listening, speaking, kemudian reading, dan yang paling berat adalah tahap menulis.” ujar Rujito.


Selanjutnya, Brigjen TNI Mindarto memberikan paparan mengenai sejarah berdirinya Lemhannas RI, arti lambang Lemhannas, visi & misi, struktur organisasi Lemhannas serta program kerja Lemhannas.


Adapun acara berikutnya dilanjutkan dengan paparan tentang tata tertib Lemhannas RI oleh Brigjen Pol Drs. Triyono Basuki P, M. Si., pengenalan kurikulum, taskap dan binta oleh Dr. Yulianus Pongtuluran , S.E., M.Ed., dan pengenalan bidang studi kepemimpinan oleh Drs. Hanif Salim, M.A.

Di publikasikan di Berita

Pada Rabu (7/2), Duta Besar Nigeria untuk Indonesia melakukan kunjungan ke Lemhannas RI untuk melakukan Courtesy Call kepada Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI Purn Agus Widjojo di Ruang Tamu Gubernur, Gedung Trigatra, Lemhannas RI.

 

Dalam Courtesy Call tersebut Duta Besar Nigeria untuk Indonesia mewakili Nigeria War Defence College memberitahukan mengenai rencana kunjungan peserta pendidikan Nigeria War Defence College ke Indonesia. Dalam kunjungan ke Indonesia, para peserta pendidikan tersebut rencananya akan berkunjung ke Lemhannas RI, Kementerian Pertahanan RI, dan Institusi Pertahanan dan Kebijakan di Indonesia.

 

Berkaitan dengan kunjungan ke Lemhannas RI, Para Peserta dari Nigeria War Defence College Defence ingin mengetahui lebih dalam mengenai Counter Terrorism and National Security in Indonesia. Duta Besar Nigeria berharap kunjungan tersebut nantinya akan memberikan manfaat bagi kedua negara dan juga institusi militer dari kedua negara.

 

Menanggapi hal tersebut, Agus Widjojo menyambut positif rencana kunjungan tersebut dan akan mempersiapkan materi kunjungan dengan baik. Agus Widjojo juga berharap bahwa kunjungan dan diskusi yang nantinya akan dilaksanakan dapat memberikan manfaat bagi kedua institusi.

 

Courtesy Call tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai detail kunjungan dan foto bersama.

Di publikasikan di Berita

Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin berkesempatan memberikan ceramah dihadapan seluruh peserta pemantapan nilai-nilai kebangsaan (Taplai) Enterpreneur Organization (EO) di Lemhannas RI, Rabu (7/2) siang. Materi yang diangkat dalam kelas taplai tersebut yakni mengenai toleransi beragama di Indonesia.

 
Menurut Lukman, manusia adalah makhluk yang terbatas tidak dapat mempelajari semua secara komperhensif (menyeluruh) itulah mengapa adanyaa keragaman beragama. “Karena sesuatu yang begitu sempurna datang dari sang maha kuasa, kemudian di interpretasikan oleh umat manusia yang terbatas, jangan kan antara satu agama dengan agama yang lain, di internal tiap agama itu keragaman nya luar biasa,” ujar Lukman.


Lukman mengatakan bahwa manusia sebagai umat beragama yang menyadari akan adanya perbedaan keyakinan antar warga negara, sudah semestinya tidak saling men-judge bahwa dirinyalah yang paling baik diantara umat beragama lainnya. “Mestinya tidak ada diantara kita yang paling berhak memiliki otoritas untuk menyatakan bahwa sayalah yang paling benar dan anda yang lain salah,” jelas Lukman. Meskipun setiap penganut ajaran agama sudah tentu harus meyakini bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling baik, tetapi Lukman menghimbau agar jangan sampai merasa menjadi yang paling benar kemudian menyalahkan agama lain.


Hal tersebut merupakan kunci utama dalam bertoleransi yakni rendah hati dalam beragama, saling menghormati dan menghargai adanya perbedaan. “Hal tersebut adalah titik yang harus di cermati dengan baik, karena itu adalah awal mula dapat bertoleransi dengan baik,” ujar Lukman. Agama menjadi faktor yang sangat signifikan dalam menjaga kemajemukan warga, demi terjaganya keutuhan bangsa dan negara. Selain toleransi dan rendah hati dalam beragama, esensi dan subtansi agama pada hakekatnya adalah untuk memanusiakan manusia agar harkat, derajat, dan martabat kemanusian dapat terjaga. “Semua agama mengajarkan keadilan, hargai, lindungin HAM persamaan di depan hokum,” tambah Lukman.


Didalam kehidupan masyarakat agamis, agama tidak bisa dipisahkan dari segala akitifitas keseharian manusia, terlebih dalam berpolitik. “Perlu dicermati bahwa bukan memisahkan agama dengan politik karena ini adalah sesuatu hal yang tidak mungkin dipisahkan karena kita bukan bangsa yang sekuler. Ciri negara sekuler yaitu memisahkan secara drastis persolan kehidupan dengan keagamaan. Mereka dapat memisahkan secara tegas dan tidak ada urusan anda mau rajin beragama atau tidak,” tegas Lukman.


Ia berpesan kepada para peserta taplai EO yang berlatarbelakang sebagai pegiat usaha bahwa yang harus dicermati adalah untuk tidak menyalahgunakan agama untuk tujuan yang memiliki kepentingan tertentu.

Di publikasikan di Berita

Indonesia dapat dikatakan sebagai miniatur dunia karena jenis keragaman dunia tersebut hadir disini, dan semua itu disimbolisasikan oleh 5 sila Pancasila. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latief dalam ceramahnya dihadapan peserta pemantapan nilai-nilai kebangsaan (Taplai) Enterpreneur Organization (EO), Rabu (7/1) pagi di Lemhannas RI.


“5 sila Pancasila tersebut menggambarkan Indonesia sebagai suatu heterogenitas multikulturalisme bangsa ini,” ujar Yudi Latief. Yudi menjelaskan bahwa Pancasila menjadi inspirasi dalam berprestasi, bukan hanya prestasi sebagai individu tetapi menjadi prestasi bersama. Namun permasalahan yang dihadapi bangsa ini yakni cenderung menciptakan pencapaian secara individu, dan sulit untuk mengubah kepada capaian yang berjejaring. “Problem kita justru ketika capaian2 pribadi itu harus berjejaring menjadi suatu kekuatan collectivate,” kata Yudi.


Yudi memberikan gambaran singkat makna dari ke 5 sila Pancasila kepada peserta taplai. Seperti pada sila pertama yang menyiratkan bangsa Indonesia sebagai bangsa dengan multi agama. Sesuai Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945, yang menyatakan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama. Kemudian dalam sila ke dua yang mensiratkan kemajemukan penduduk berdasarkan ras manusia. Sedangkan pada sila ke tiga menggambarkan bangsa ini sebagai bangsa yang beragam, namun pada saat yang sama menyadari akan adanya tautan-tautan persatuan. Penjelasan terkait sila ke empat, yakni mengenai keberagaman partai dan aliran partai politik, serta sila kelima yang menggambarkan kemajemukan dari segi lapisan kelas sosial.


Menurut Yudi, dalam hal membumikan Pancasila didalam kehidupan sehari-hari, pertama-tama penting untuk memahami 5 isu strategis, diantaranya adalah Pemahaman Pancasila, Inklusi Sosial, Keadilan Sosial, Pelembagaan Pancasila, dan Keteladanan Pancasila.

Di publikasikan di Berita