LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
Portal Lemhannas RI - Items filtered by date: Rabu, 10 Januari 2018

Dalam rangka meningkatkan efektifitas kurikulum pendidikan di Lemhannas RI, Kamis (11/1) pagi diadakan diskusi kaji banding kurikulum dengan menghadirkan PhD Cand. Wibawanto Nugroho, M. A., M.PP sebagai pembicara utama dihadapan para peserta diskusi yang merupakan lulusan setingkat Lemhannas di negara lain. Wibawanto sendiri merupakan lulusan dari National Defense University Amerika Serikat. Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo hadir dalam diskusi beserta Wagub, Sestama, dan Deputi Pendidikan Tingkat Nasional.


Gubernur dalam sambutannya beropini bahwa pendidikan di Lemhannas RI terkesan menitik beratkan ke materi semata, berbeda dengan kurikulum national defense luar negeri yang berfokus memaksa peserta untuk berpikir. “Saya punya perasaan, di Lemhannas itu seolah-olah titik beratnya di materi. Ini loh konsensus dasar kebangsaan, ini loh Pancasila, ini loh UUD 45, ini loh strategis, dan lain lain tanpa mencoba menantang kepada peserta, lantas untuk apa semua ini? Akan diapakan itu semua?” tanya Agus Widjojo kepada peserta. Agus Widjojo berharap dengan kegiatan diskusi ini, peserta dapat mengambil manfaat yang nantinya dapat diimplementasikan untuk meningkatkan kurikulum di Lemhannas RI dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. “Dalam rangka berdiskusi, mana yang bisa kita pakai untuk meningkatkan kurikulum Lemhannas, dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan,” tambah Agus Widjojo.


Wibawanto sebelumnya telah menyusun tesis pada saat menyelesaikan pendidikannya di National Defense University, di Washington D.C Amerika Serikat dengan mengangkat topik posisi Indonesia menjadi bangsa pemenang di tingkat global ditentukan secara signifikan oleh kualitas Lemhannas RI sebagai institusi pencetak pemimpin nasional RI.


Dalam paparannya, Wibawa mengungkapkan bahwa tujuan akhir dari penyelenggaraan pendidikan setingkat pendidikan di Lemhannas Amerika Serikat berfokus pada mencetak ahli strategi dan pemimpin strategis, baik militer dan sipil yang memiliki ketahanan tinggi. Hal tersebut dimaksudkan agar dapat mempertahankan serta memajukan kepentingan nasional menjadi bangsa pemenang, dalam menghadapi tatanan dunia yang selalu berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi.” Artinya bahwa rel-nya mereka itu sudah global bukan nasional, masuk dalam satu program, kita diajarkan untuk memajukan ketahanan nasional,” ujar Wibawanto.


Kemudian Wibawanto membandingkan dengan kurikulum yang dijalankan di Lemhannas RI. Menurutnya pendidikan di Lemhannas RI bertujuan akhir untuk mencetak dan membekali lulusannya sebagai ahli strategi, pemimpin dan penasehat strategis yang dapat membawa bangsa ini siap menghadapi lingkungan strategis di masa depan. Tentunya untuk mencapai tujuan sebagai bangsa pemenang di tingkat global.

Di publikasikan di Berita

Dalam rangka persiapan Program Pendidikan Reguler Angkatan LIX yang akan diselenggarakan pada Tahun Ajaran 2019, Lemhannas RI melalui Biro Kerja Sama melalukan Sosialisasi Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LIX di Ruang Airlangga,  Gedung Astagatra Lantai III,  Lemhannas RI pada Kamis (11/1).

 

Kepala Biro Kerja Sama Laksma TNI Budi Setiawan, S.T. dalam sambutan pembukaan mengatakan terimakasih atas kehadiran para perwakilan dari atase pertahanan negara sahabat. Budi Setiawan mengatakan bahwa sosialisasi ini merupakan tahap awal dalam penerimaan peserta dari negara sahabat. Dalam sosialisasi ini,  lanjut Budi Setiawan,  akan dijelaskan mengenai hal mendetail terkait dengan registrasi peserta dari negara sahabat.  Lebih lanjut Budi Setiawan menjelaskan bahwa pendidikan yang dilakukan Lemhannas RI juga bermaksud untuk mempererat hubungan dengan negara sahabat.  Beberapa negara yang telah mengikuti pendidikan di Lemhannas RI adalah negara-negara Asia Timur,  Asia Tenggara,  Asia Selatan, Timur Tengah,  Negara Pasifik,  dan Australia.

 

Sosialisasi kemudian dilanjutkan dengan paparan mengenai ppra LIX oleh kolone AF Rujito D.  Asmoro.  Memulai paparannya,  Rujito menjelaskan bahwa pada Tahun Ajaran 2018,  terdapat 14 peserta dari negara sahabat yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok yaitu tujuh peserta mengikuti PPRA LVII dan tujuh peserta lainnya mengikuti PPRA LVIII. Selama kurun waktu 2009 hingga 2018 ini, Lemhannas RI telah menerima 138 peserta mancanegara.

 

Rujito lalu menjelaskan mengenai durasi pendidikan PPRA yaitu selama 30 minggu yang dibagi menjadi enam minggu off-campus dan 24 minggu on-campus. Untuk metode off-campus, para peserta mancanegara akan melakukan kegiatan pendidikan melalui teleconference dan chatting secara live dengan peserta lainnya dan pengajar. Sementara untuk on-campus akan dilakukan di Lemhannas RI dengan metode ceramah dan diskusi.

 

Selama menjalani pendidikan, para peserta mancanegara juga akan mengikuti program inti dalam pendidikan yaitu Studi Strategis Dalam Negeri (SSDN), Studi Strategis Luar Negeri (SSLN), Penulisan Kertas Karya Perseorangan (Taskap), Olah Sistem Manajemen Nasional (Olah Sismennas), dan Penyelenggaraan Seminar Nasional.

 

Untuk menjadi peserta pendidikan di Lemhannas RI, Rujito menjelaskan bahwa peserta harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu merupakan anggota aktif TNI, Polri,  atau Aparatur Sipil Negara,  berpangkat Kolonel,  Kolonel Senior, Brigadir Jenderal atau berpangkat setara untuk Aparatur Sipil Negara, berusia maksimal 53 tahun,  direkomendasikan oleh institusi asal,  telah mengikut Sekolah Komando dan pendidikan setara bagi Aparatur Sipil Negara,  dan sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan pemeriksaann lengkap di rumah sakit pemerintah atau militer.

 

Rujito menegaskan bahwa kesehatan jasmani dan rohani menjadi sala satu faktor penting dalam persyaratan untuk mengikuti pendidikan lemhannas mengingat kegiatan pendidikan yang sangat padat.  "kesehatan sangat penting.  Karena program pendidikan akan berjalan sangat padat"  tegas Rujito.

 

Selain persyaratan umum,  para calon peserta dari negara sahabat juga harus memenuhi persyaratan administratif seperti paspor,  visa,  dan dokumen lain seperti foto,  biografi singkat,  sertifikat bebas AIDS/laporan pemeriksaan HIV serta izin keamanan yang dikeluarkan oleh Atase Pertahanan Indonesia yang berada di Kedutaan Besar Indonesia di negara asal calon peserta.

 

Kolonel Rujito juga menjelaskan mengenai jadwal detail yang harus di hadiri oleh calon peserta sebelum memulai pendidikan.  Jadwal tersebut meliputi registrasi dan pengumpulan dokumen yang yang telah di perlukan serta kursus singkat Bahasa Indonesia serta material inti pendidikan di Lemmhannas RI.  Untuk fasilitas para peserta selama mengikuti kursus, Lemhannas menyediakan akomodasi di Lemhannas RI.

 

Sebelum menutup paparannya, Rujito membuka sesi tanya jawab dengan calon peserta dan diakhiri dengan makan siang bersama.

 

Sosialisasi tersebut dihadiri oleh perwakilan dari Atase Pertahanan dari Negara Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Timur, Amerika Serikat, Kanada, Fiji, Arab Saudi, Inggris, dan Turki, Perwakilan dari Kementerian Luar Negeri, Mabes Polri, Mabes TNI, Kementerian Pertahanan serta Staf Lemhannas RI.

Di publikasikan di Berita