LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
Portal Lemhannas RI - Items filtered by date: Kamis, 10 Agustus 2017

 

Rombongan peserta kursus Defence Service Command and Staff College (DSCSC) Srilanka mengunjungi Lemhannas RI dan melakukan diskusi mengenai isu keamanan kawasan di Ruang Airlangga Gedung Astagatra Lt.III Lemhannas RI, Jumat (11/08). Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Tenaga Ahli Pengajar Lemhannas RI Bidang Pertahanan & Keamanan Laksda TNI Agung Pramono, S.H., M.Hum. tersebut, kedua belah pihak terlihat antusias ketika membicarakan masalah terorisme dan Laut China Selatan.

 

Terorisme dan ekstremisme juga menjadi masalah di Srilanka. Salah satu peserta kursus DSCSC menyampaikan pemerintah Srilanka sekarang ini sangat peduli dengan pendidikan generasi mudanya agar tidak terjerumus ke dalam terorisme. Sebagai bagian dari strategi pencegahan, pemerintah Srilanka aktif melakukan diseminasi ke sekolah-sekolah hingga sekolah informal seperti Sekolah Minggu agama-agama di sana.

 

Tenaga Profesional Lemhannas RI Bidang Diplomasi dan Hubungan Internasional, Marsda TNI (Purn) Surya Dharma, S.I.P., menanggapi bahwa Indonesia juga melakukan hal yang hampir sama. “Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Olahraga dan Pemuda, dan Kementerian Agama, para pemuda dibina dengan adanya program deradikalisasi. Selain pemerintah, tokoh masyarakat dan tokoh agama juga dilibatkan dalam program tersebut,” timpal Surya Dharma.  

 

Selain terorisme, masalah Laut China Selatan juga menjadi hal yang diperbincangkan. Pimpinan rombongan DSCSC  Air Commodore Don Kapila Wanigasooriya RWP RSP & Bar USP MDS menanyakan tentang sikap Indonesia tentang China dan konflik di Laut China Selatan. Menanggapi hal tersebut, Surya Dharma menjawab bahwa Indonesia menganut kebijakan luar negeri bebas aktif yang menjadi tumpuan. “Prioritas Indonesia adalah menjaga perdamaian dan stabilitas keamanan kawasan. Indonesia selalu berperan sebagai penengah dalam konflik di Laut China Selatan dengan menaati code of conduct,” ujar Surya Dharma.

 

Agung Promono juga menambahkan bahwa Indonesia bukan claimant state dalam konflik Laut China Selatan. “ Indonesia adalah negara non claimant. Indonesia berupaya menciptakan suasana saling menghormati (mutual respect) diantara claimant states,” imbuh Agung.

 

Dalam diskusi ini, dibahas pula tentang diplomasi kultural dan ASEAN. Turut hadir pada diskusi sejumlah pejabat eselon I dan II Lemhannas RI, serta perwakilan peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 56 Lemhannas RI.

 

Selain berdisikusi, dalam kunjungannya ke Lemhannas, rombongan DSCSC Srilanka juga berkesempatan bertemu dengan Wakil Gubernur Lemhannas RI Marsdya TNI Bagus Puruhito dalam courtesy call yang dilakukan sebelum pelaksanaan diskusi. 

Di publikasikan di Berita

 

“Sejak terbentuknya ASEAN, peranan Indonesia tidak pernah surut dari tahun ketahun, setiap permasalahan yang terjadi di ASEAN, Indonesia  selalu tampil  aktif  dan bahkan ikut serta dalam memelopori penyelesaian permasalahannya, hal ini menjadikan Indonesia sebagai driving force di ASEAN” kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Wiranto, S.H. dalam kuliah umum kepada peserta PPRA LVI dan PPSA XXI Lemhannas RI dengan tema “Peran Indonesia Sebagai Driving Force Stabilitas Politik dan Keamanan ASEAN”, di Ruang Auditorium Lemhannas RI, Jumat (11/8).

 

Wiranto pada ceramahnya menyampaikan, kawasan Asia Tenggara sebelum ASEAN terbentuk merupakan kawasan yang penuh konflik dan gejolak. Negara-negara Asia Tenggara saat itu masih dalam tahap awal nation building yang penuh dinamika internal sebagai negara yang baru terlepas dari penjajahan, meskipun Thailand tidak termasuk negara terjajah, namun tetap saja kawasan tersebut menjadi ajang perebutan pengaruh kekuatan luar akibat Perang Dingin.

 

Kemampuan ASEAN menciptakan dan memelihara stabilitas dan perdamaian di lingkup kawasan telah mampu mendorong kemajuan diberbagai bidang, khususnya dibidang pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, ASEAN dinilai sebagai organisasi kawasan yang sukses apabila dibandingkan organisasi-organisasi kawasan lainnya.

 

Hingga sejauh ini, pencapaian ASEAN dalam bidang pembangunan ekonomi dapat terlihat dari kemampuan ASEAN menjadi kawasan yang lebih kompetitif dalam dinamika perekonomian dunia. Pada tahun 2015, ASEAN tercatat memiliki kekuatan ekonomi terbesar ke-6 di dunia dan terbesar ke-3 di Asia. Selain itu ASEAN juga merupakan tujuan investasi dunia, sehingga menempatkan ASEAN sebagai kawasan keempat terbesar sebagai penerima modal asing, setelah Amerika Serikat, Hongkong, dan Republik Rakyat Tiongkok. Sehingga Kekuatan ekonomi ASEAN diproyeksikan akan menjadi kelima dan keempat terbesar di dunia pada tahun 2030 dan 2050.

 

Itu semua menunjukkan bahwa ASEAN memiliki prospek yang baik di masa depan sebagai suatu kawasan ekonomi yang lebih kuat, sehingga dengan demikian, secara otomatis akan membantu meningkatkan standar kehidupan rakyat ASEAN. meskipun begitu, prospek tersebut hanya akan menjadi wacana semata jika stabilitas keamanan ASEAN terganggu, baik yang dipicu oleh faktor internal berupa instabilitas negara-negara ASEAN itu sendiri, maupun faktor eksternal yang mampu mendestabilisasi kawasan ASEAN.

 

Lalu bagaiamana peranan Indonesia di ASEAN? Masih menurut Wiranto, Indonesia merupakan negara yang memiliki posisi-posisi yang penting dalam memegang kedudukan di ASEAN. Dalam konteks inilah pandangan tentang bagaimana peran Indonesia sebagai bagian dari ASEAN selama lebih dari 50 tahun sejak berdirinya. Sekaligus juga telah merasakan kemanfaatan berupa adanya stabilitas politik dan keamanan yang terjaga, dimana tentu saja hal tersebut merupakan hasil jerih payah Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya.

 

Hal yang mendasari peranan Indonesia di ASEAN tidak terlepas dari konsistensi dari pemerintah Indonesia yang menjabarkan dari misi Indonesia ada empat, sebagaimana yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-3. yakni: melindungi segenap warga negara Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

 

Sejak terbentuknya ASEAN, peranan Indonesia tidak pernah surut dari tahun ketahun, setiap permasalahan yang terjadi di ASEAN, Indonesia  selalu tampil  aktif  dan bahkan ikut serta dalam memelopori penyelesaian permasalahannya, hal ini menjadikan Indonesia sebagai driving force di ASEAN.

 

Kondisi tersebut harus tetap dijaga, mengingat tantangan keamanan semakin kompleks dan cenderung terus bermunculan, sehingga memerlukan kewaspadaan kita bersama. Ancaman stabilitas dan perdamaian kawasan tidak lagi semata berupa ancaman tradisional, tapi jauh berkembang bersama-sama dengan ancaman non-tradisional, khususnya tidak kejahatan lintas batas.

 

“Indonesia harus terus memegang peranan pada ASEAN, Mengingat masa depan Indonesia adalah masa depan ASEAN, dan sebaliknya, masa depan ASEAN juga masa depan Indonesia. Kemajuan itu terletak pada ikhtiar kita semua, masyarakat Indonesia, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat ASEAN” ungkap Wiranto.

 

Kuliah umum yang digelar kali ini mendapatkan antusias dari para peserta PPRA LVI dan PPSA XXI yang memenuhi ruangan Auditorium Lemhannas RI, setelah melalui proses tanya jawab, acara ini diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan kepada Wiranto dan foto bersama.

 

Di publikasikan di Berita