LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
Portal Lemhannas RI - Items filtered by date: Senin, 13 November 2017

Seperti kata pepatah, ‘dibalik kesuksesan seorang pria, pasti ada wanita hebat dibelakangnya’. Ungkapan tersebut memang menunjukkan betapa pentingnya peran seorang istri sebagai pendamping suami, ataupun sebaliknya. Menjelang berakhirnya pendidikan PPSA XXI Lemhannas RI tahun 2017, diadakan penataran bagi Istri/Suami (Tar Istri/Suami) para peserta PPSA XXI. Upacara pembukaan oleh Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo dilakukan di Auditorium Gadjah Mada, Gedung Panca Gatra, Selasa (14/11) pagi.

 

Diawali dengan pelaporan kesiapan penataran oleh Deputi Pendidikan Pimpinan Tingkat Nasional, Mayjen TNI Karsiyanto, S.E. yang menyampaikan tentang tujuan diselenggarakan penataran ini. Diantaranya adalah sebagai pembekalan kepada istri/suami peserta dalam perannya sebagai pendamping pimpinan tingkat nasional, dan meningkatkan wawasan terkait etika bagi istri/suami, sehingga dapat menjadi teladan bagi keluarga besar, unit kerja maupun masyarakat. Sebagai simbol dibukanya kegiatan ini secara resmi, gubernur mengalungkan tanda peserta kepada perwakilan peserta Tar Istri/Suami.

 

Kegiatan penataran yang berlangsung selama enam hari, dari tanggal 14 – 21 November 2017 mendatang diikuti oleh 79 orang istri/suami. Materi-materi yang akan diberikan kepada para peserta penataran terdiri dari 18 unit, antara lain peran istri/ suami dalam menunjang karir suami/istri dalam perspektif psikologi dan ekonomi, peranan perempuan dalam pembangunan nasional, peningkatan ketahanan keluarga guna membangun ketahanan nasional, dan yang tak kalah pentingnya yakni etika berbusana dalam pergaulan dimana para istri akan menjadi contoh masyarakat ketika suaminya kelak menjadi pimpinan tingkat nasional.

 

Dalam sambutannya, gubernur menyampaikan harapannya agar para peserta mampu memanfaatkan kegiatan ini dengan sebaik mungkin, dalam upaya memantapkan peran peserta penataran dalam organisasi, keluarga, maupun di lingkungan masyarakat. “Saya harapkan penataran yang sangat singkat ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Pandai-pandailah menyerap pengetahuan, saling bertukar pengalaman dengan para ahli tenaga pengajar, atau penceramah, maupun antar dengan sesama peserta penataran, atau dengan peserta PPSA XXI Lemhannas RI, karena hal ini sangat penting dalam rangka menyongsong dan menghadapi tantangan tugas dan kehidupan yang akan datang,” ujar Agus Widjojo dalam sambutannya.

Di publikasikan di Berita

Sebanyak 38 pejabat eselon I, II, III, IV dilantik oleh Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo pada Selasa (14/11). Upacara pelantikan dan sumpah janji dilaksanakan di Ruang Nusantara Gedung Trigatra Lantai I, Lemhannas RI.

 

Dalam sambutannya,  Agus Widjojo menyampaikan bahwa pelantikan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pegawai agar mampu untuk mengemban tugas dan tanggung jawab pada level jabatan yang lebih tinggi.

“Kegiatan ini juga merupakan rangkaian proses mutasi pegawai, rotasi, promosi dan penugasan antar instansi. Rotasi jabatan merupakan pergeseran pegawai dalam level jabatan yang sama pada satu instansi, dengan tujuan untuk penyegaran dan peningkatan kapasitas pegawai agar mampu untuk mengemban tugas dan tanggung jawab pada level jabatan yang lebih tinggi,” terang Agus Widjojo.

 

Promosi jabatan, lanjut Agus Widjojo, diberikan kepada pegawai yang telah memenuhi standar kompetensi pada level jabatan yang lebih tinggi, yang harus dipertanggungjawabkan melalui kinerja dan integritas yang dapat diteladani oleh jajaran di bawahnya. Penugasan antar instansi juga dilakukan untuk peningkatan kapasitas pegawai ataupun sebagai bentuk penugasan khusus dari instansi induk karena kompetensi pegawai tersebut dibutuhkan oleh instansi penerima, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian kinerja instansi.

 

Selain melantik, Agus Widjojo juga melepas empat pejabat eselon I dan III yang telah mendapat penugasan di instansi lain. Diantaranya, Laksda TNI Ir. Bambang Nariyono, M.M. sebagai Pati Mabes TNI, Irjen Pol Drs. Harwiyanto, S.H., M.M., M.Hum. sebagai Analis Kebijakan Utama Bidang Bindiklat Lemdiklat Polri, Kolonel Sus Dr. Ir. Rudy A. G. Gultom, M.Sc. sebagai Ses Prodi Teknologi Penginderaan Fakultas Teknologi Unhan dan Kombes Pol Dra. Sri Suari, M.Si. sebagai Analis Kebijakan Madya Bidang Penmas Divhumas Polri.  

 

Turut hadir dalam pelantikan adalah Wakil Gubernur Lemhannas RI Marsdya TNI Bagus Puruhito, Sekretaris Utama Komjen Pol Drs. Arief Wachyunadi, para Deputi, Tenaga Profesional, Tenaga Pengkaji, Tenaga Pengajar, Pejabat Struktural Lemhannas RI dan segenap pengurus Perista.

 

Di publikasikan di Berita

Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo menjadi salah satu narasumber dalam kursus singkat yang diadakan oleh Mahkamah Konstitusi, bagi Perwakilan Mahkamah Konstitusi Negara Lain. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang perwakilan mahkamah konstitusi dari 13 negara yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, Korea Selatan, Mongolia, Afganistan, Kirgistan, Kazakhstan, Pakistan, Tajikistan, dan Azerbaijan. Pada paparannya, Agus Widjojo mengangkat topik “Pengelolaan Keberagamaan dalam Bingkai Negara Kesatuan”, yang diadakan di ruang Syailendra, Gedung Asta Gatra Lemhannas RI, Selasa (14/11) siang.

 

Agus Widjojo dalam paparannya berbicara mengenai geopolitik dan posisi geografis di Indonesia, menurutnya untuk dapat memahami geopolitik dari suatu negara, perlu dipahami terlebih dahulu tiga faktor berikut, yakni sejarah negara, makna bangsa dan negara, serta aspirasi rakyat dan ideologi yang diyakini.

 

Awal tonggak kebangkitan bangsa yang telah sekian lama terbenam dalam penjajahan, bermula ketika kebijakan politik etnis kolinial Belanda memberikan kesempatan pendidikan bagi rakyat Indonesia, kemudian didirikan sekolah serta mengirim putra dan putri terbaik Indonesia untuk belajar di luar negeri. Pendidikan mulai membuka pikiran rakyat tentang kemerdekaan.

 

Kesadaran berbangsa diawali oleh berdirinya gerakan Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908, dan selanjutnya diikuti dengan berdirinya berbagai komunitas yang dipelopori pemuda tanah air, baik organisasi keagamaan, maupun partai politik. Hingga akhirnya pada 28 Oktober menjadi hari diikrarkannya Sumpah Pemuda yang merupakan tonggak utama dalam memberikan penyemangat pemuda-pemudi Indonesia untuk menegakkan berdirinya Negara Indonesia. Semangat Sumpah Pemuda yang membudayakan nasionalisme, rasa kewarganegaraan dan semangat nasional sampai akhirnya bangsa Indonesia menyatakan Proklamasi Kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

 

Dalam ceramahnya dihadapan seluruh peserta kursus singkat, Agus Widjojo juga memaparkan terkait empat konsensus dasar bangsa. Diantaranya Pancasila sebagai dasar negara dan fondasi ideologis bangsa, Sesanti Bhinneka Tunggal Ika yang untuk pertama kalinya dicetuskan oleh Mpu Tantular dan dituangkan dalam bukunya berjudul Kakawin Sutasoma yang bermakna “Keanekaragaman berarti satu”, serta NKRI dan UUD 1945 untuk menjaga keberagaman. Seperti yang tertuang dalam pembuakaan UUD 1945, menyiratkan tujuan pembentukan pemerintah nasional dengan tugas untuk melindungi bangsa dan tanah air.

 

Untuk mempertahankan keberagaman bangsa Indonesia bukan hal yang mudah, melihat jumlah kelompok etnik mencapai 1.340 kelompok (BPS 2010), serta 245 agama dan kepercayaan yang terdapat di Indonesia. Tantangan yang dihadapi antara lain dinamika lingkungan internasional, serta adanya persaingan ide dan ideology yang terus berkembang. Oleh sebab itu melalui kursus singkat ini, diharapkan para peserta dapat memahami nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi yang dapat melindungi hak-hak warga negara dan HAM di Indonesia, serta menjadikannya sebagai titik acuan dan norma dalam kehidupan masyarakat Indonesia.   

Di publikasikan di Berita