LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
Berita

Berita (434)

 

Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo melantik pejabat eselon Lemhannas RI di Ruang Nusantara, Gedung Trigatra Lantai I, pada Selasa (30/5). Dalam pelantikan tersebut, terdapat  18 orang yang dilantik dengan jabatan eselon I hingga IV.

 

Agus Widjojo dalam sambutannya mengatakan bahwa pelantikan ini merupakan proses regenerasi di Lemhannas RI. Proses regenerasi tersebut, lanjut Agus Widjojo, bukan hanya sebuah proses alamiah namun juga wujud implementasi konstruktif atas sistem pembinaan personel dan organisasi yang bertujuan menghadirkan Lemhnnas RI  yang kredibel dan akuntabel dihadapan seluruh stakeholder.

 

Selain itu, Agus Widjojo juga mengutarakan beberapa pesan bagi para pejabat baru saja dilantik. Bagi pejabat yang dilantik menjadi Tenaga Ahli Pengajar dan Tenaga Ahli Pengkaji yang setara dengan Eselon I-A. Agus Widjojo berpesan bahwa para pejabat tidak hanya dituntut kapabel dan profesional dalam menjalankan tugas dan fungsinya, namun juga harus menjaga integritas diri.

 

Di sisi lain, lanjut Agus Widjojo, para pejabat yang dilantik sebagai Kepala Biro dan Direktur yang setara dengan Eselon II dituntut menghadirkan berbagai gagasan solutif untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan unit kerja sehingga menghasilkan output yang optimal dan memberikan dampak baik pada outcome lembaga.

 

Kemudian, Agus Widjojo juga berpesan kepada Kepala Sub-Direktorat atau Eselon III agar selalu kreatif dan inovatif serta responsif terhadap dinamika kebutuhan dalam menjalankan pengelolaan kegiatan di Unit Kerja. Sementara bagi para berpesan Kepala Sub Bagian atau Eselon IV Agus Widjojo agar mampu melaksanakan tugas-tugas pengawasan  kegiatan.

 

Selain melantik para Pejabat Eselon, Agus Widjojo juga melepas 6 Pejabat Lemhannas RI. Dalam melepas 6 pejabat tersebut, Agus Widjojo juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas pemikiran dan pengabdian yang telah dilakukan oleh para pejabat yang dilepas dari jabatannya.

 

Sebelum menutup sambutannya, Agus Widjojo menyampaikan selamat bertugas kepada para pejabat yang baru saja dilantik.

 

 

Bertempat di Ruang Tamu Gubernur, Gedung Trigatra Lt. I, Lemhannas RI pada Rabu (14/7), Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI Agus Widjojo menyambut kedatangan delegasi NIPSS (National Institute of Policy and and Strategic Studies) Nigeria yang dipimpin oleh Jonathan Mela Juma. Kunjungan tersebut kemudian dilanjutkan dengan Courtesy Call.

 

Setelah melakukan Courtesy Call, delegasi NIPSS melanjutkan kunjungan dengan diskusi yang dilaksanakan di Ruang Airlangga, Gedung Astagatra Lantai III, Lemhannas RI. dalam sikusi yang didahului dengan pemutaran video profil Lemhannas RI tersebut, Deputi Pengkajian Strategik, Prof. Dr. Ir. Djagal Wiseso Marseno, M.Agr. menjelaskan mengenai Indonesia geografi, demografi, dan kekayaan alam.

 

Indonesia, jelas Djagal Wiseso, merupakan negara yang memiliki letak geografis yang strategis. Hal tersebut karena Indonesia berad di antara dua benua dan dua samudera. Di ASEAN, Indonesia merupakan negara terbesar sehingga Indonesia harus menunjukkan perannya untuk mampu menyelesaikan masalah-masalah regional seperti salah satunya isu tiga pilar.

 

Dari segi geografis, Indonesia memiliki 17 ribu pula dengan luas 2 juta km yang meliputi darat dan laut. Indonesia, lanjut Djagal, juga memiliki 3 Alur Laut Kepulauan. Maka dari itu, lanjut Djagal Wiseso, Indonesia tidak hanya memiliki posisi strategis dan juga lokasi yang strategis.

 

Selain itu, Indonesia juga merupakan negara dengan penduduk terbesar ke-4 di dunia dengan berbagai kekayaan budaya, suku, adat istiadat, dan bahasa daerah. Namun, jelas Djagal Wiseso, Indonesia hanya memiliki satu bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia.

 

Jika dilihat dari kekayaan alamnya, Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki sumber daya melimpah. Sementara dari segi maritim, Indonesia saat ini menghadapi berbagai ancaman seperti piracy dan  illegal fishing. Selain itu, Indonesia juga sedang menghadapi masalah terkait dengan ZEE di Kepulauan Natuna yang turut masuk dalam nine-dashed line Laut Cina Selatan serta illegal fishing yang banyak terjadi di daerah tersebut.

 

Djagal Wiseso juga memaparkan mngenai Fragile States Index di tahun 2016. Mengetahui Fragile States index adalah hal yang diperlukan sebelum mengkaji mengenai technologi  agrikultur. Berdasarkan Fragile States Index selama 10 tahun terakhir, Indonesia mengalami peningkatan dalam pembangunan.

 

Diskusi tersebut kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab dengan para peserta diskusi yang terdiri dari delegasi NIPSS Nigeria dan peserta PPRA LVI.

 

Hadir dalam diskusi tersebut adalah Prof. Dadan Umar Daihani selaku Moderator, Kepala Biro Humas, Tenaga Ahli  serta beberapa Pejabat Struktural Lemhannas RI.

 

Visi pembangunan Pemerintahan Jokowi-JK, sebagaimana tercantum dalam Nawacita  adalah terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Untuk mewujudkan visi pembangunan tersebut harus didukung dengan adanya hubungan yang baik antara negara dengan masyarakat/ warganya.

Hubungan yang baik tersebut sangat erat kaitannya dengan pemenuhan hak dan kewajiban warga negara. Hak adalah sesuatu yang mutlak menjadi milik kita,  sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang harus kita lakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Sebagai warga negara, tentunya kita layak untuk menerima hak dan memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kewajiban itu. Pertanyaan mendasar yang perlu untuk kita ketahui yaitu, apakah hak sebagai warga negara sudah kita terima dengan baik dan apakah kita sudah melakukan kewajiban yang seharusnya dilaksanakan oleh warga negara? Banyaknya kejadian yang mencerminkan tidak seimbangnya hak dan kewajiban sebagai warga negara, antara lain terjadinya intoleransi, korupsi, kepatuhan yang rendah dalam membayar pajak, pelanggaran lalu lintas, kejahatan terhadap anak dan perempuan yang kesemuanya akan bermuara pada terjadinya disharmoni sosial, apalagi tidak disertai dengan penegakan hukum yang kuat.

Untuk mengetahui bagaimana hak diterima dan kewajiban dilakukan oleh warga negara, serta perlunya penguatan hukum, makaLemhannas RI  melakukan jajak pendapat terhadap 598 responden warga negara Indonesia yang berdomisili di 12 kota besar di Indonesia.

Download Hasil Jajak Pendapat

 

 

Sebagai salah satu rangkaian peringatan Ulang Tahun Lemhannas RI, Orasi Ilmiah digelar di Ruang Auditorium Gadjah Mada, Gedung pancagatra Lantai IV, Lemhannas RI pada Senin (22/5). Orasi Ilmiah tersebut dibuka oleh Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo.

 

Dalam sambutannya, Agus Widjojo mengatakan bahwa perkembangan globalisasi dan demokratisasi yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dan komunikasi memberikan dampak positif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang turut mempengaruhi pola pikir, pola sikap, dan pola tindak bansga ini di masa yang akan datang.

 

Selain itu, lanjut Agus Widjojo, bangsa ini juga tengah dihadapkan pada berbagai tantangan dan isu – isu regional maupun global. Potensi ancaman kini tidak latersebut tidak hanya bersifat fisik, namun juga perang yang dilakukan oleh pihak ketiga (proxy war).

 

Agus Widjojo menekankan bahwa hal tersebut memberikan dampak besar kepada ketahanan nasional bangsa dalam aspek geografi, demografi, sumber kekayaan alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya maupun pertahanan keamanan.

 

Maka dari itu, jelas Agus Widjojo berharap orasi ilmiah ini akan memberikan perluasan dan pencerahan wawasan serta cara pandang kita dalam menyikapi dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin kompleks demi masa depan bangsa.

 

Acara tersebut kemudian dilanjutkan dengan Orasi Ilmiah oleh Dr. Anhar Gonggong, Tenaga Profesional Bidang Sosial Budaya Lemhannas RI dengan judul Orasi  “BERTEGAK BERFIKIR – BEKERJA, MELAMPAUI KELAMPAUAN, BERIMAJINASI – RANCANGAN UNTUK HARI DEPAN INDONESIA MERDEKA” .

 

Download Materi Orasi Ilmiah

 

 

“Pada Tahun Anggaran 2018 Lemhannas RI akan melaksanakan Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LVII dan LVIII, artinya tahun depan Lemhannas RI akan merekrut calon peserta PPRA sebanyak 2 (dua) kali,  untuk itu dalam hal ini Lemhannas RI mengundang Bapak/ibu perwakilan dari instansi non pemerintah yang ada di wilayah DKI Jakarta dn sekitarnya untuk mengikuti sosialisasi program pendidikan TA. 2018 di Lemhannas RI” dalam sambutan Kepala Biro Kerja Sama Settama Lemhannas RI Brigjen TNI Ivan R. Pelealu, SE, MM, pada Rabu (17/5) dalam acara sosialisasi program PPRA LVII & LVIII TA. 2018 Lemhannas RI.

 

Penyelenggaraan sosialisasi program pendidikan PPRA LVII & LVIII yang dilaksanakan di ruang Syailendra Gd. Astagatra Lt. III bertujuan untuk menginformasikan tentang ketentuan dan persyaratan bagi calon peserta program pendidikan Lemhannas RI. Kegiatan ini dihadiri oleh para perwakilan dari instansi non pemerintah sebanyak 54 orang peserta.

 

Pada kesempatan itu, Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daehani, DEA sebagai narasumber memberikan paparan materi sosialisasi tentang ketentuan dan persyaratan bagi calon peserta program pendidikan Lemhannas RI, serta dijelaskan pula substansi tentang pelaksanaan pada program pendidikan yang ada di Lemhannas RI.

 

Dengan adanya kegiatan sosialisasi program pendidikan Lemhannas RI bagi instansi pemerintah di Lemhannas RI, diharapkan akan memberikan informasi dan pemahaman tentang program pendidikan Lemhannas RI, dan bagi perwakilan instansi non pemerintah yang hadir dapat memberikan informasi ke instansi/lembaganya masing-masing tentang program pendidikan Lemhannas RI.

                                                                                              

 

 

 

“Pendidikan Lemhannas RI memiliki tujuan untuk menyiapkan para pemimpin bangsa yang memiliki kemampuan strategis untuk mengantisipasi dan mengatasi berbagaipermasalahan bangsa secara komprehensif, untuk itu tiap tahun Lemhannas RI membuka program pendidikan Lemhannas RI guna menciptakan kader-kader pimpinan tingkat nasional yang lebih banyak lagi. Pada TA. 2018 Lemhannas RI akan membuka program pendidikan Lemhannas RI yaitu PPRA LVII dan LVIII ” dalam sambutan Kepala Biro Kerja Sama Settama Lemhannas RI Brigjen TNI Ivan R. Pelealu, SE, MM, pada Rabu (17/5) dalam acara sosialisasi program PPRA LVII & LVIII TA. 2018 Lemhannas RI.

 

Penyelenggaraan sosialisasi program pendidikan PPRA LVII & LVIII yang dilaksanakan di ruang Syailendra Gd. Astagatra Lt. III bertujuan untuk menginformasikan tentang ketentuan dan persyaratan bagi calon peserta program pendidikan Lemhannas RI. Kegiatan ini dihadiri oleh para perwakilan instansi pemerintah sebanyak 85 orang peserta.

 

Pada kesempatan itu, Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daehani, DEA sebagai narasumber memberikan paparan materi sosialisasi tentang ketentuan dan persyaratan bagi calon peserta program pendidikan Lemhannas RI, serta dijelaskan pula substansi tentang pelaksanaan pada program pendidikan yang ada di Lemhannas RI.

 

Dengan adanya kegiatan sosialisasi program pendidikan Lemhannas RI bagi instansi pemerintah di Lemhannas RI, diharapkan akan memberikan informasi dan pemahaman tentang program pendidikan Lemhannas RI, dan bagi perwakilan instansi yang hadir dapat memberikan informasi ke instansinya masing-masing tentang program pendidikan Lemhannas RI.

 

 

Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo membuka Forum Komunikasi Pimpinan Lemhannas RI dengan para Pemimpin Redaksi Media Massa Cetak, Elektronik dan Online di Ruang Ruang Anjungan, Gedung Trigatra Lantai III, Lemhannas RI pada Senin (15/5).

 

Dalam kesempatan tersebut, Agus Widjojo mengatakan bahwa saat ini Lemhannas RI sedang mempersiapkan berbagai kegiatan berkaitan dengan Peringatan Ulang Tahun Lemhannas RI ke-52 ppada tanggal 20 Mei mendatang. Tema yang diangkat pada Peringatan Ulang Tahun Lemhannas Ri kali ini adalah “Dengan Semangat Kebangkitan Nasional,  Lemhannas RI Bertekad Meneguhkan Kembali Kehidupan Kebangaan Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”.

 

Agus Widjojo mengungkapkan bahwa Ulang Tahun Lemhannas RI yang bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional ini menunjukkan bahwa Lemhannas RIdijiwai oleh semangat Kebangkitan Nasional. “Memang Betul Lemhannas Ri diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 20 Mei tahun 1965. Sehingga setiap Lemhannas RI ulang tahun maka sebetulnya adalah dipengaruhi, dijiwai oleh semangat kebangkitan nasional,” Ujar Agus Widjojo.

 

Kegiatan yang diselenggarakan sebagai rangkaian Peringatan Ulang Tahun lemhannas RI ke -52 ini adalah Gerak Jalan dan Inbox SCTV yang telah dilaksanakan pada tanggal 14 Mei, Ziarah Taman Makam Pahlawan Kalibata, dan dilanjutkan dengan Orasi Ilmiah oleh dr. Anhar Gonggong pada tanggal 22 Mei mendatang. Selain itu, Lemhannas Ri juga akan melaksanakan Upacara HUT dan Syukuran serta Peresmian Monumen Presiden Soekarno oleh Ibu Megawati pada tanggal 24 Mei mendatang.

 

Selain itu, lanjut Agus Widjojo, Lemhannas RI juga akan mengadakan Jakarta Geopolitical Forum yang rencana nya akan digelar pada tanggal 18 hingga 20 mei 2017. Pembukaan dari Jakarta Geopolitical Forum ini akan dilaksanakan di Istana Negara pada tanggal 18 Mei dan dilanjutkan dengan pelaksanaan seminar pada tanggal 19 dan 20 Mei di Hotel Borobudur Jakarta.

 

Jakarta Geopolitical Forum ini, ujar Agus Widjojo, bertujuan sebagai tempat untuk bertukar pikiran dan perspektif diantara para praktisi dan pakar-pakar geopolitik dari seluruh dunia untuk mencoba memahami makna dinamika geopolitik yang saat ini terjadi dan berubah-ubah. Dalam Jakarta Geopolitical Forum ini akan menghadirkan 17 pembicara dari berbagai Negara yang berasal dari lima benua dan 5 pembicara dari Indonesia.

 

Forum Komunikasi ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi dengan para pemimpin redaksi dan wartawan media massa dan ditutup dengan ramah tamah.

 

 

 

Lemhannas RI selenggarakan seminar Parenting dengant tema “Pola Asuh yang Menyenangkan tanpa Kekerasan dan Teriakan” di Auditorium Gadjah Mada, Gedung pancagatra Lantai III, Lemhannas RI pada Rabu (10/5).

 

Seminar yang dibuka oleh Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn)  Agus Widjojo ini menghadirkan tiga pembicara yaitu Psikolog Anak dan Remaja sekaligus penulis buku Happy Parenting Novita Tandry, Tenaga Profesional Bidang Ketahanan Nasional Lemhannas RI Mayjen TNI (Purn) Lumban Sianipar serta Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait.

 

Dalam paparannya, Arist  Merdeka  Sirait menjelaskan bahwa yang disebut dengan anak-anak adalah manusia yang berusia di bawah 18 tahun termasuk anak dalam kandungan. Anak-anak juga memiliki hak-hak yang harus dipenuhi dan dilindungi seperti salah satunya hak hidup, hakl tumbuh dan berkembang,  hak berpartisipasi, dan hak mendapatkan perlindungan.

 

Arist kemudian memaparkan bahwa saat ini telah banyak tindak kejahatan terjadi di Indonesia. Dalam tindak kejahatan itu, salah satu tindak kejahatan yang paling banyak terjadi adalah tidak kejahatan seksual pada anak. Yang lebih mengejutkan, lanjut Arist, tindak kejahatan tersebut dilakukan oleh orang terdekat korban sendiri yang seharusnya berkewajiban untuk mendidik dan melindungi hak mereka sebagai anak-anak. Untuk memotong mata rantai kekerasan terhadap anak tersebut, orang tua harus kembali memenuhi hak-hak anak secara penuh.

 

Sementara itu Novita Tandry memaparkan bahwa pola asuh dalam keluarga adalah hal yang paling dasar dalam membentuk ketahanan nasional. Untuk mengerti pola asuh yang terbaik bagi anak, orang tua harus mengerti pola tumbuh kembang setiap anak. Proses mendetail dari pola tumbuh kembang tersebut akan dialami secara bertahap oleh tiap anak. Para orang tua harus diajarkan untuk memahami proses tersebut dan tidak memaksakan hal yang belum seharusnya dialami oleh anak.

 

Tumbuh kembang anak yang paling mudah menyerap banyak informasi, lanjut Novita Tandry,  adalah ketika anak berusia 1 hingga 5 tahun. Maka dari itu, pada usia tersebut para orang tua harus memberikan pendidikan dan juga informasi yang dibutuhkan agar selalu tertanam hingga anak-anak tersebut dewasa.

 

Di sisi lain, Lumban Sianipar mengungkapkan bahwa efek dari kekerasan mental yang dilakukan kepada anak akan lebih berbekas daripada  efek dari kekerasan fisik. Seorang anak, lanjut Lumban Sianipar, anak harus diajarkan untuk menyimbangkan emosi baik yang positif dan negatif. Di satu sisi, seorang anak harus memiliki pribadi yang baik dan lemah lembut namun di sisi lain seorang anak harus mampu mengungkapkan amarahnya dengan cara yang baik. Selain itu, anak-anak juga harus mengetahui tentang kebangsaan secara dasar.

 

Seminar yang dihadiri oleh seluruh  staff dan pejabat Lemhannas RI ini ditutup dengan peluncuran buku “Happy Parenting Without Spanking or Yelling” yang ditulis oleh Novuta Tandry dan penyerahan buku secara simbolis kepada Gubernur Lemhannas RI.

 

 

Dalam rangka Peringatan Isra Mi’raj, Lemhannas RI mengadakan Acara Peringatan Isra Mi’raj yang dilaksanakan dengan judul “Melalui Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Kita Kokohkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa” di Auditorium Gadjah mada, Gedung Pancagatra Lantai III, Lemhannas RI pada  Selasa (9/5).

 

Dalam acara yang diawali dengan pembacaan Ayat Al Quran Surat Al- Isra’ ayat 1 – 3 dan Surat Al-Ankabut ayat 45 oleh  Kapten Infantri Abdul Kahar, Agus Widjojo mengatakan bahwa peristiwa Isra Mi’raj mengandung hikmah yang selalu relevan dengan kehidupan manusia hingga saat ini yang mendambakan perdamaian. Untuk itu, Agus Widjojo berharap Peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini dapat mempertebal keyakinan umat Islam pada Allah SWT dan kebenaran risalah pengabdian Nabi Muhammad SAW serta meningkatkan keimanan Umat Islam kepada Allah SWT.

 

Sebelum mengakhiri sambutannya, Agus Widjojo menekankan bahwa sudah seharusnya Isra Mi’raj menjadi spirit persatuan, spirit keagamaan, maupun spirit ibadah yang mempersatukan bangsa Indonesia. maka dari itu, Agus Widjojo menghimbau untuk terus mengobarkan semangat kebhinnekaan. “Marilah Kita terus memperkokoh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial sebagai pilar guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang rukun, damai, dan beradap serta mampu menjaga perbedaan dalam negara kita yang majemuk ini ,” pungkas Agus Widjojo.

 

Kemudian, acara tersebut dilanjutkan dengan hikmah Isra Mi’raj oleh Prof. Dr. Komarudin Hidayah. Komarudin Hidayah menyampaikan bahwa Isra berbeda dengan hijrah. Hijrah, lanjut Komarudin Hidayah, merupakan sebuah perjalalanan historis yang dapat ditelusuri saksinya sedangkan Mi’raj adalah peristiwa spiritual yang jika diteliti secara ilmiah akan menyebabkan perdebatan. Komarudin melanjutkan bahwa peristiwa Nabi Muhammad SAW pergi ke Gua Hiro merupakan salah satu contoh peristiwa empiris seperti hijrah sedangkan peristiwa Nabi Muhammad Saw bertemu dengan malaikat Jibril merupakan peristiwa spiritual. 

 

Selanjutnya, Komarudin menyampaikan bahwa kata Isra dalam Bahasa Arab berarti “malam” atau “perjalanan malam” dan Mi’raj di artikan sebagai “ke atas”. Malam Komarudin kemudian melanjutkan ceramah dengan penjelasan mengenai peristiwa Isra Mi’raj dan hikmah apa saja yang dapat diambil dari peristiwa tersebut.

 

Peringatan Isra Mi’raj ini di ikutioleh seluruh Pejabat Struktural Lemhannas Ri, para tenaga ahli Lemhannas Ri serta seluruh staf.