LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
Berita

Berita (544)

 

“Penataran Istri/Suami Peserta PPRA LVI  dilaksanakan selama lima hari dari tanggal 18-26 September 2017, diikuti oleh 96 Peserta Istri/Suami telah berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana,” ujar Plt. Deputi Pendidikan Pimpinan Tingkat Nasional Mayjen TNI Karsiyanto, dalam Laporan Pelaksanaan Penataran Istri/Suami Peserta PPRA LVI kepada Gubernur Lemhannas RI. Upacara Penutupan Penataran Istri/Suami Peserta PPRA LVI tersebut dilaksanakan di Ruang Auditorium Gadjah Mada Gedung Pancagatra Lantai III Lemhannas RI pada Selasa (26/9).

 

Dalam laporannya pula, Karsiyanto mengungkapkan harapan bagi para Istri dan Suami Peserta PPRA LVI. Karsiyanto berharap penataran tersebut dapat membekali dan memantapkan wawasan tentang peranan istri dan suami sebagai pendamping kader pimpinan tingkat nasional, menjadi teladan bagi keluarga besar unit kerja dan masyarakat serta meningkatkan keakraban, persaudaraan dan kekeluargaan antar sesama peserta PPRA LVI maupun dengan Lemhannas RI. 

 

Sejalan dengan hal tersebut, Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo dalam sambutannya mengatakan bahwa materi-materi yang didapatkan menjadi pembangkit motivasi dan mempererat tali silaturahmi.

 

“Lembaga memandang bahwa kegiatan ini penting untuk diberikan agar saudara-saudara sekalian menjadi pendamping yang memahami tugas dan tanggung jawab suami dan istri peserta PPRA LVI sebagai pimpinan tingkat nasional. Saya berharap bahwa materi-materi yang diberikan selama seminggu ini mampu membangkitkan kesadaran untuk memotivasi diri sebagai pendamping sekaligus sebagai agen-agen kebangsaan di lingkungan masing-masing. Saya juga berharap ikatan tali silaturahmi di antara peserta penataran akan semakin mempererat hubungan kekeluargaan yang harmonis di antara keluarga peserta PPRA lemhannas RI tahun 2017 pada khususnya dan keluarga alumni pada umumnya,” jelas Agus Widjojo.

 

Selain itu, Agus juga menekankan kepada peserta Penataran Istri/Suami Peserta PPRA LVI, agar dapat menjadi pendamping-pendamping yang bersahaja dan mengayomi lingkungan dimanapun para Peserta PPRA LVI bertugas nanti.

 

Penutupan Penataran Istri/Suami ditandai dengan penanggalan tanda peserta dan penyerahan sertifikat oleh Gubernur Lemhannas RI kepada peserta penataran.

 

Turut hadir dalam upacara penutupan tersebut adalah Wakil Gubernur Lemhannas RI Marsdya TNI Bagus Puruhito, S.E., M.M., para Deputi, Pejabat Fungsional dan Struktural Lemhannas RI, Perista dan tamu undangan.

 

 

Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo memberikan pembekalan kepada Peserta Penataran Istri/Suami Peserta PPRA LVI. Acara yang digelar di Ruang Syailendra Gedung Astagatra Lantai III Lemhannas RI pada Senin (25/9) dihadiri sebanyak 95 peserta Tar Istri/Suami. Dalam pembekalan tersebut, Agus Widjojo menjelaskan bagaimana peran Istri/Suami sebagai pendamping pasangannya serta peran mereka di dalam keluarga.

 

Mengenai peran Istri/Suami, Lemhannas berharap kegiatan penataran ini dapat meningkatkan wawasan, pengetahuan dan pemahaman utuh para Istri/Suami sejalan dengan berkembangnya wawasan para peserta didik Lemhannas RI. Selain itu, penataran ini juga memberikan pemahaman secara umum tentang substansi pembekalan para peserta PPRA Lemhannas RI dan mempererat ikatan batin dan silaturahmi di keluarga besar peserta PPRA LVI.

 

Agus Widjojo juga menjelaskan tentang peran istri atau suami sebagai pendamping dan penyeimbang. Sebagai pendamping, peran istri/suami akan mempengaruhi dan menentukan keberhasilan para peserta PPRA LVI menjadi pimpinan tingkat nasional berkarakter kebangsaan yang kuat, amanah dan mengutamakan kepentingan bangsa. Selain sebagai pendamping, istri/suami juga berperan sebagai penyeimbang, yaitu saling menunjang dan memberikan dukungan moral sebagai satu kesatuan keluarga yang solid.

 

Peran istri/suami, lanjut Agus Widjojo, tidak hanya sebagai pendamping dan penyeimbang, tetapi dapat berperan juga dalam keberhasilan pasangannya. Hal tersebut dikarenakan para suami/istri berperan sebagai motivator, inspirator dan wadah dalam menyelasaikan persoalan jika suatu saat ditemukan kebuntuan.

 

Selain itu, Agus Widjojo juga menyampaikan tentang hakikat hidup berkeluarga, yaitu untuk membangun kehidupan dalam suatu ikatan batin yang suci, rukun dan bahagia sehingga dapat mencegah terjadinya perselisihan dalam keluarga dan secara otomatis akan membentuk eksistensi keluarga. Pembekalan tersebut dilanjutkan dengan diskusi lebih lanjut mengenai peran istri/suami dalam lingkup keluarga dan diakhiri dengan sesi tanya jawab.

 

 

Sehubungan dengan akan diadakannya kunjungan Tim Evaluator Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) untuk melakukan Evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP),  Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Lemhannas RI mengadakan Sosialisasi kepada seluruh staf unit kerja Lemhannas RI. Sosialisasi tersebut berlangsung di Ruang Auditorium Gadjah Mada Gedung Pancagatra Lantai III Lemhannas RI pada Senin (25/9).

 

Marsma TNI Antonius Sri Munada, S.E., M.M, selaku Karo Renku menjelaskan tentang dokumen-dokumen yang perlu dipersiapkan terkait dengan evaluasi SAKIP Lemhannas RI di tahun 2016. Dokumen-dokumen tersebut berupa Rencana Kerja Tahunan (RKT), Penetapan Kinerja (PK), Laporan Kinerja (Lapkin) Unit Kerja, dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) Perorangan.

 

Selanjutnya, Dr. Yulianus Pongtuluran, M.Ed, yang merupakan Direktur Program Pendidikan Kedeputian Pendidikan Lemhannas RI mensosialisasikan tentang Reformasi Birokrasi Bidang Manajemen Perubahan. Dalam penjelasannya, Yulianus menuturkan ada delapan poin area perubahan yaitu, Bidang Manajemen Perubahan, Bidang Penataan Peraturan dan Perundang-Undangan, Bidang Sistem Manajemen SDM Aparatur , Bidang Penataan dan Penguatan Organisasi, Bidang Tata Laksana, Bidang Pengawasan, Bidang Penguatan Akuntabilitas Kinerja, dan Bidang Peningkatan Kualitas Layanan Publik.

 

“Semua ini sudah dibentuk dan dikoordinir dengan masing-masing koordinator. Tetapi untuk mencapai semua ini tidak hanya cukup kalau hanya tim yang bekerja. Butuh semua personel Lemhannas. Oleh karena itu kita minta kesungguhan untuk kita wujudkan dan tim sudah bekerja semaksimal mungkin,” terang Yulianus.

 

Dalam hal ini, lanjut Yulianus, Lemhannas RI telah melakukan beberapa hal terkait dengan upaya mendukung reformasi birokrasi. Hal tersebut berupa penyusunan analisis jabatan, Pelaksanaan survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) melalui studi penelusuran lulusan ke alumni Lemhannas RI dan pengguna alumni, Penyusunan Standar Operasional Procedure (SOP), restrukturasi kelembagaan sesuai PP No. 41 tahun 2017 dan pelatihan teknis penyusunan SOP. Selain itu, manajemen perubahan juga dilakukan untuk membantu meningkatkan capaian keberhasilan pelaksanaan Reformasi Birokrasi secara fektif dan efisien.

 

Sebagai penutup, Inspektur Lemhannas RI Brigjen Pol Immanuel Larosa yang juga merupakan Wakil Ketua Pelaksana Reformasi Birokrasi mengingatkan agar seluruh personel Lemhannas RI terus melakukan perkembangan perubahan untuk meningkatkan penilaian pada Reformasi Birokrasi.

 

Turut hadir dalam Sosialisasi tersebut para Deputi, Pejabat Struktural dan Fungsional serta Staff Lemhannas RI.

 

 

Pada Rabu (20/9), bertempat di Ruang Gadjah Mada Gedung Pancagatra Lantai III, Lemhannas RI mengadakan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM)terkait status Quality Management System(QMS) berbasis ISO 9001:2015.

 

Pada rapat yang membahas tentang status dan tindak lanjut pada sistem manajemen sebelumnya tersebut, dijelaskan pula rekomendasi-rekomendasi sistem manajemen untuk seluruh unit kerja di Lemhannas RI sebagaimana yang disampaikan oleh Vice of Management Representative Dr. Sukendramarta, M.Sc, M.Aap.Sc. dalam laporannya tentang status penerapan QMS berbasis ISO 9001:2015.

 

“Sebagian besar unit kerja telah menindaklanjuti rekomendasi dan penekanan dari Gubernur Lemhannas RI dengan melakukan tindakan perbaikan terhadap ketidaksesuaian yang telah ditemukan pada saat audit internal di bulan Agustus 2016,” ungkap Sukendramarta.

 

Selanjutnya Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo melakukan pembahasan mengenai laporan yang telah disampaikan oleh Vice of Management Representatives tersebut. Agus Widjojo menerangkan bahwa kegiatan ini merupakan titik pemeriksaan untuk mengetahui hal-hal yang sudah sesuai atau belum serta cara untuk menyempurnakannya.

 

“Ini merupakan sebuah titik pemeriksaan untuk bisa menemukan apakah memang sudah sesuai atau masih ada kekurangan-kekurangan dan penyempurnaan-penyempurnaan yang perlu dilakukan. Seperti yang sering saya katakan bahwa persyaratan-persyaratan tersebut merupakan yang harus kita penuhi, hendaknya kita memenuhi persyaratan ini tidak semata-mata karena dituntut oleh aturan-aturan ini,” jelas Agus Widjojo.

 

Persyaratan-persyaratan tersebut, lanjut Agus Widjojo, hendaknya menjadi kebiasaan sehari-hari sehingga tidak perlu ada persiapan khusus jika sewaktu-waktu akan dilakukan pemeriksaan kembali. Hal tersebut nantinya akan membuat seluruh unit dapat bekerja sesuai dengan sistem manajemen mutu.

 

Selanjutnya, sebagai penutup acara  Sukendramarta menyampaikan summary dari pembahasan dalam RTM tersebut. Dalam summary tersebut dinyatakan bahwa merupakan diperlukan komitmen bersama oleh seluruh elemen Lemhannas RI untuk mematuhi aturan-atura yang telah diberlakukan oleh ISO 9001:2015. Selain itu, aturan-aturan tersebut hendaknya menjadi sebuah kebiasaan di lingkungan Lemhannas RI.

 

Hadir dalam acara tersebut adalah Wakil Gubernur Lemhannas RI Marsdya TNI Bagus Puruhito, S.E., M.M., Para Deputi, Tenaga Profesional, Tenaga Pengkaji, Tenaga Pengajar, Pejabat Struktural Lemhannas RI, Staf Lemhannas RI dan para tamu undangan.

 

 

Peserta PPRA LVI menyelenggarakan Seminar Nasional yang bertajuk “Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan guna Merajut Kebhinekaan dalam Ketahanan Nasional”. Seminar tersebut merupakan bagian akhir dari program pendidikan.

 

Dalam konferensi pers yang digelar di Lobi Gedung Pancagatra Lantai I, Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo menjelaskan Program Kerja Lemhannas RI.

 

“Lemhannas tidak termasuk dalam dinamika politik, akan tetapi Lemhannas lebih banyak mengkaji program-program kebijakan strategis jangka panjang dan melakukan evaluasi terhadap program-program tersebut,”jelas Agus Widjojo.

 

Hal-hal yang perlu ditingkatkan pada masyarakat saat ini, lanjut Agus, adalah peningkatan kompetensi pada masyarakat tentang kompentensi dalam bidang informasi teknologi, pendidikan umum kepada publik agar masyarakat dapat menilai berita yang baik dan benar atau sebaliknya, serta penegakan hukum.

 

Pada seminar nasional yang diselenggarakan di Ruang Dwi Warna Gedung Pancagatra Lantai I Lemhannas RI, Terdapat tiga narasumber yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono X, Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, Dr. Imam B. Prasodjo,  dan dimoderatori oleh dr. Lula Kamal.  

 

 

Peserta PPRA (Program Pendidikan Reguler Angkatan) LVI mengadakan seminar nasional dengan tema “Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan guna Merajut Kebhinekaan dalam Rangka Ketahanan Nasional”. Seminar yang digelar pada Selasa (19/9) tersebut bertempat di Ruang Dwi Warna, Gedung Pancagatra Lantai I, Lemhannas RI.

 

Pada seminar yang dimoderatori oleh dr. Lula Kamal tersebut terdapat tiga narasumber yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono X, Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, dan Dr. Imam Prasodjo dengan dua penanggap utama yaitu, Zannuba Arrifah Chafsoh Rahman Wahid (Yenny Wahid) dan Dr. J. Kristiadi.

 

Di awal seminar tersebut, Kolonel Laut Dr. Ivan Yulivan, S.E., M.M., M.Tr (Han) selaku Ketua Seminar Nasional tersebut menyampaikan mengenai proses-proses pembuatan seminar.

 

“Proses pembuatan naskah seminar ini telah melalui beberapa tahapan, meliputi pemilihan judul dari 13 judul lalu menjadi satu judul terpilih yang didasarkan pada fenomena terkini dan berbagai permasalahan yang terkait dengan nilai-nilai kebangsaan dan kebhinekaan. Selanjutnya kami adakan RTD (Round Table Discussion) bersama pakar terkait kemudian revisi tata naskah dan akhirnya dilaksanakan seminar pada hari ini,” jelas Ivan Yulivan.

 

Dalam sambutannya yang sekaligus menjadi pembuka dalam acara seminar nasional tersebut, Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo mengatakan bawa seminar ini menjadi ajang tukar pikiran bagi peserta PPRA LVI.

 

“Seminar merupakan salah satu kegiatan utama dan program pendidikan reguler yang diselenggarakan di Lemhannas RI. Seminar ini sebagai ajang tukar pikiran bagi peserta PPRA dan sekaligus sebagai wahana untuk menuangkan berbagai kemampuan ilmu dan pengetahuan serta pengalaman yang diperoleh dalam mengikuti kegiatan di lembaga ini. Melalui seminar ini kepada peserta diharapkan dapat merumuskan konsep-konsep strategis dalam menyelesaikan permasalahan nasional yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia,” jelas Agus Widjojo.

 

Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam paparannya menjelaskan bagaimana masyarakat menjaga konsistensi nilai-nilai Pancasila. Sri Sultan juga menyatakan bahwa sebaiknya Pancasila diawali dengan sila kelima soal keadilan yang menjadi basic dalam segala hal. Sementara Franz Magnis lebih menyoroti tentang bagaimana agama bisa dihubungkan dengan nilai-nilai kebangsaan, sehingga perlu diketahui bagaimana cara bicara berbagai agama dalam bentuk nilai-nilai kebangsaan.

 

Selanjutnya, seminar ini dilanjutkan dengan diskusi oleh penanggap utama dan peserta seminar. Acara seminar tersebut kemudian akhiri dengan pemberian cenderamata oleh Gubernur Lemhannas RI kepada para narasumber.

 

 

Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo membuka penyelenggaraan Penataran Istri/Suami Peserta PPRA LVI pada Senin (18/9)di Ruang Auditorium Gadjah Mada Gedung Pancagatra Lantai III, Lemhannas RI. Penataran yang berlangsung selama 5 hari dari tanggal 18-22 September tersebut diikuti oleh 109 peserta yang merupakan istri atau suami peserta PPRA LVI.

 

Acara yang menjadi bagian akhir dari penyelenggaraan program pendidikan PPRA tersebut, diisi dengan beberapa materi. Sebagaimana yang disampaikan oleh Plt. Deputi Pendidikan Pimpinan Tingkat Nasional dalam laporan kesiapannya mengatakan bahwa materi-materi yang akan disampaikan pada penataran tersebut adalah pembekalan oleh Gubernur Lemhannas RI, orientasi penataran, pengenalan Lembaga Ketahanan Nasional RI, peran Istri/Suami dalam menunjang karir Suami/Istri dalam perspektif psikologi dan ekonomi, peningkatan ketahanan keluarga guna membangun ketahanan nasional, peranan perempuan dalam pembangunan nasional, Empat Konsensus Dasar Negara Indonesia, pencegahan bahaya narkoba, perilaku koruptif dan dampak sosialnya, etiket berbusana dalam pergaulan, peninjauan kerajinan dan budaya nusantara.

 

Dalam sambutannya, Agus Widjojo mengatakan bahwa keberhasilan yang diraih oleh para peserta pendidikan di Lemhannas RI tidak terlepas dari peran pendampingnya.

 

“Keberhasilan para peserta Lemhannas RI di dalam meniti karir dan mengemban tugas negara dari waktu ke waktu nantinya tidak mungkin terwujud tanpa adanya peran istri/suami selaku pendamping. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya keharmonisan suami/istri terus dijaga melalui pemeliharaan dan penyesuaian wawasan, moral dan etika,” ungkap Agus Widjojo.

 

Pembukaan Penataran Istri/Suami Peserta PPRA LVI yang ditandai dengan penyematan tanda peserta secara simbolis ini kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan penataran selama 5 hari.

 

Hadir dalam Pembukaan Penataran tersebut Wakil Gubernur Lemhannas RI Marsdya TNI Bagus Puruhito, S.E,. M.M, para Deputi, Pejabat Struktural dan Fungsional Lemhannas RI.

 

 

Lemhannas RI menyelenggarakan Upacara Bendera Rutin di Lapangan Tengah Lemhannas RI pada Senin (18/9). Upacara bendera yang dipimpin oleh Gubenur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo ini diikuti oleh seluruh Pejabat Struktural, Peserta PPRA LVI dan PPSA XXI serta staf Lemhannas RI.

 

Dalam sambutannya, Agus Widjojo mengatakan bahwa Lemhannas RI harus memiliki kesadaran untuk dapat mencermati dan memahami dinamika lingkungan strategis nasional, regional, maupun global. Lemhannas RI yang juga merupakan pusat studi geopolitik juga harus dapat menyikapi isu-isu geopolitik kawasan dengan cerdas dan bijak.

 

Agus Widjojo menuturkan bahwa perubahan dalam lingkup geopolitik yang berubah sangat cepat dan intens mendorong kita sebagai bangsa Indonesia untuk terus bergerak menyesuaikan dengan dinamika perkembangan lingkungan strategis. “Kita tidak bisa lagi menggunakan paradigma yang hanya tertambat kepada masa lalu tanpa memiliki visi ke masa depan,” jelas Agus Widjojo.

 

Dalam hal cara bertindak dan tatanan, bangsa Indonesia juga tidak bisa hanya berorientasi pada masa lalu seperti ungkapan “biasanya memang seperti ini” namun harus mencari kesepakatan  yang didasarkan pada argumentasi yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan konteks.

 

Selain itu, Agus Widjojo juga mengingatkan bahwa kualitas dinamika masyarakat saat ini mendorong rakyat Indonesia untuk memprioritaskan perhatian kepada persamaan yang dimiliki di tengah-tengah perbedaan. Begitu pula saat memandang permasalahan bangsa, rakyat Indonesia harus melihat dari sisi kesamaan yang didasarkan pada Empat Konsensus Dasar Bangsa karena rakyat Indoesia dinilai belum cukup cerdas untuk memandang suatu masalah berdasarkan perspektif kekayaan perbedaan.

 

“kita harus menempatkan perhatian kita kepada masa lalu, masa kini, dan masa depan secara proporsional dan kontekstual. Tantangan kita hari ini adalah bagaimana kita mengambil nilai intrinsik atau nilai hakiki dari doktrin yang kita warisi dari masa lalu dan disusun dalam era perjuangan perjuangan kemerdekaan guna mendapatkan nilai instrumental atas nilai implementasi yang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat, bangsa, dan negara.” Tegas Agus Widjojo.

 

Selanjutnya, Agus Widjojo menyampaikan mengenai kinerja Lemhannas RI, efisiensi anggaran dan juga capaian serapan Lemhannas RI hingga triwulan ketiga. Terkait dengan Program Pendidikan Reguler Angkatan LVI dan Program Pendidikan Singkat Angkatan XXI, Agus Widjojo juga menghimbau seluruh pihak yang turut memfasilitasi berjalannya kedua program tersebut untuk selalu mempersiapkan sebaik-baiknya.

 

Sebelum mengakhiri sambutannya, Agus Widjojo mengingatkan seluruh jajaran Lemhannas RI untuk mempersiapkan diri dalam  pelaksanaan evaluasi reformasi yang dilakukan oleh Kementerian Pendayagunaan aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

 

 

Peserta PPSA XXI menggelar RTD (Round Table Discussion) pada Kamis (14/9) di Ruang Auditorium Gadjah Mada, Gedung Pancagatra Lantai III, Lemhannas RI. RTD Pra Seminar yang mengangkat tema “Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Sistem Pendidikan Guna Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional” tersebut  dimoderatori oleh Brigjen Pol Drs. Firli Bahri, M.Si dan Aviani Malik.

Dalam diskusi yang dibuka oleh Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo tersebut, terdapat empat narasumber yaitu Tokoh Pendidikan  Prof Dr. Indria Samego, M.A, Intelektual TNI Brigjen TNI (Purn) Dr. Saafroedin Bahar, Praktisi dari Klini Pancasila Dr. Dodik dan Tokoh Pendidikan Dr. Nani Nurrahman Sutojo. 

Sebelum diskusi dimulai, Prof. Dr. Reni Mayerni selaku Ketua Seminar membacakan laporan tentang kegiatan RTD yang merupakan rangkaian dari acara seminar yang akan dihelat pada 16 November 2017 mendatang. Reni menyampaikan bahwa tujuan RTD Pra Seminar ini adalah untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai isu pendidikan di Indonesia saat ini.

Round Table Discussion pada hari ini dengan tujuan diperoleh gambaran komprehensif tentang kondisi saat ini terkait dengan isu pendidikan kita. Pada tahapan ini para pihak yang terlibat dalam seminar dapat menampilkan fakta-fakta obyektif terkait dengan sistem pendidikan kita baik yang positif maupun yang negatif serta pengaruhnya terhadap kesatuan dan persatuan bangsa,” jelas Reni.

Dalam sambutannya, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo yang juga bertindak sebagai keynote speaker mengungkapkan bahwa pancasila merupakan pedoman bagi masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa.

“Sebagai dasar negara Pancasila merupakan ideologi, pandangan dan falsafah hidup yang harus dipedomani bangsa Indonesia dalam proses penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya merupakan nilai-nilai luhur yang digali dari budaya bangsa yang memiliki nilai dasar yang diakui secara universal dan tidak akan berubah oleh berjalannya waktu,” ungkap Agus Widjojo.

Jalannnya rangkaian diskusi tersebut kemudian dilanjutkan dengan paparan Brigjen TNI Heri Wiranto, S.E., M.M., M.Tr (Han) dan Andy Yentriani, S.Sos., M.A.. Dalam paparannya mengenai aktualisasi nilai Pancasila dalam sistem pendidikan, disebutkan bahwa berdasarkan survey dari sebanyak 1600 siswa yang tergabung dalam Rohis  disekolah-sekolah, 6% menyatakan setuju dan mendukung ideologi kelompok negara ISIS dan 33% meyakini para terdakwa teroris seperti Amrozi adalah contoh muslim yang melaksanakan jihad.   

Selanjutnya dijelaskan pula mengenai aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan untuk memperkokoh NKRI yang diharapkan dapat menghasilkan sistem pendidikan yang efektif, materi pendidikan yang terintegrasi dan dilengkapi dengan kearifan lokal, guru dan tenaga kependidikan dengan pemahaman kebangsaan yang mumpuni dan terampil dalam metodologi, lingkungan pendidikan yang kondusif serta metode dan pedekatan pengajaran yang reflektif dan variatif.