LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
10 April

Kepala BNPT Bicara Terorisme dan Radikalisme di Hadapan Peserta PPRA LVII

Peserta PPRA LVII kali ini kedatangan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Drs. Suhardi Alius, M.H. dalam rangka memberikan ceramah terkait Mewaspadai pengaruh gerakan radikalisme era global terhadap nasionalisme dan eksistensi NKRI, Selasa (10/4) di ruang NKRI Gd.Pancagatra Lemhannas RI. Dalam ceramahnya Suhardi memaparkan tentang perkembangan radikalisme ke arah terorisme.


Menurutnya paham radikalisme mengalami perubahan secara total dan bersifat revolusioner, dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada. Terdapat beberapa faktor yang memotivasi perubahan tersebut yakni faktor internasional seperti ketidakadilan global dan politik luar negeri yang arogan. Yang kedua faktor domestik di antaranya persepsi ketidakadilan hingga balas dendam, serta faktor kultural seperti pemahaman agama yang dangkal dan penafsiran kitab suci yang sempit.


Suhardi mengatakan bahwa baru-baru ini BNPT berhasil mengamankan 18 orang anak kecil yang berpotensi menjadi teroris. “Ada 18 org yang diselamatkan oleh BNPT yang berpotensi menjadi teroris karena terlibat dalam pelatihan militer di Syria,” ujarnya. Suhardi menekankan agar mengubah pandangan terorisme yang mengaitkan dengan stigma agama. “Jangan stigmakan agama, saya muslim ini penyimpangan. Kekejamannya mengatasnamakan agama,” tegasnya.


Disamping itu Suhardi mengatakan bahwa kelompok ISIS jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan Al-Qaeda. “ISIS lawannya siapa saja, perempuan, laki-laki, anak-anak kalau bertentangan di eksekusi di tengah jalan. ISIS punya wilayah teritorial dan di Indonesia pengaruh-pengaruh ini sudah masuk,” ujar Mantan Sestama Lemhannas RI ini sembari memperlihatkan video kekejaman ISIS kepada para peserta PPRA LVII.


Di BNPT, seperti yang diungkapkan Suhardi, terdapat alat yang digunakan untuk menganalisis kejadian-kejadian radikalisme di seluruh dunia. Pola baru terorisme yakni cyber jihad dan khilafah, self radicalizaton, indoktrinasi online, rekrutmen dan pembantaian online serta lone wolf. Oleh karena itu BNPT merekrut duta-duta damai dari generasi muda karena yang menjadi sasaran pencucian otak dari kelompok radikal adalah anak-anak muda karena masih mencari identitas, masih labil emosionalnya, dan mudah dipengaruhi. “Target brain washing itu 15-25 tahun. Mereka pintar, mencari jati diri, dan emosi masih stabil, gampang dimasukin. Disitulah kita masuk. Mereka harus menyebarkan anti radikal dan pesan damai dengan bahasa milenial, jangan pake bahasa kita,” sebutnya.


Suhardi berpesan kepada para peserta PPRA LVII sebagai calon-calon pimpinan nasional agar memanfaatkan kesempatan belajar di Lemhannas dengan sebaik mungkin. “Pandai-pandailah melihat situasi saat ini, tanggung jawab moral, bangsa ini milik anak cucu kita, globalisasi merubah dunia.  Karena perkembangan teknologi digital mempengaruhi dinamika geo politik. Kita titipkan pada teman-teman PPRA 5 sampai 10 tahun kedepan. Anda sudah mendapat kesempatan, manfaatkan sebaik mungkin belajar di Lemhannas, hal ini punya kebanggaan tersendiri,” katanya.


Suhardi yang juga alumni dari PPSA 17 berbagi pengalamannya kepada para peserta pada saat dirinya mengikuti pendidikan di Lemhannas RI. “Manfaat sekolah di Lemhannas ada dua, Lemhannas tidak punya pekarangan yang luas, tetapi panji-panji nasionalisme bertebaran dimana-mana, saya merasa terbakar lagi nasionalisme saya. Yang kedua  network, tidak ada sekolah seperti disini, TNI, Polri, Birokrasi, LSM semua ada disini. Tidak ada satupun sekolah yang seperti ini, calon pemimpin semua ini,” ujarnya dengan semangat.

Dibaca 106 kali