LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
09 April

Peserta PPRA LVII Diskusi terkait Terorisme dengan Mahasiswa US Army War College

Prof. Zachry Abuza dari US National War College bersama dengan mahasiswanya bertandang ke Lemhannas RI untuk melakukan diskusi dan tukar pendapat dengan beberapa orang peserta PPRA LVII. Kegiatan diskusi mengangkat dua topik besar yakni Terorisme dan Kejahatan Transnasional yang diadakan di Anjungan Gd. Trigatra Lemhannas RI, Senin (9/4) siang. Tujuan diadakannya diskusi ini untuk mempresentasikan masalah Kesuksesan Indonesia dalam penegakan hukum menanggulangi terorisme, serta Strategi Indonesia dalam menghadapi kejahatan Transnasional. Diskusi dipandu oleh Taprof Bidang Kepemimpinan Nasional Lemhannas RI Mayjen TNI (Purn) Albert Inkiriwang sebagai Moderator, dan Irjen. Pol. Dr. Drs. H. Anas Yusuf, Dipl.krim., S.H., M.H., M.M. sebagai pemapar.


Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo didampingi oleh Wakil Gubernur Marsdya TNI Bagus Puruhito dan Sestama Komjen Pol Drs. Arif Wachyunadi turut hadir ditengah-tengah para peserta diskusi. Dalam paparannya Anas menyampaikan bahwa Indonesia telah diakui oleh negara-negara sahabat sebagai negara yang berhasil menanggulangi kasus-kasus terorisme. Di antaranya kasus Bom Bali Satu dan Dua, Bom di Hotel JW Marriot, Bom di Kedutaan Besar Australia di Kuningan Jakarta, dan kejadian terorisme lainnya.


Menurutnya pencapaian tersebut karena dukungan dan kerjasama yang erat antara semua pemangku kepentingan dan instansi-instansi terkait. Di Indonesia sendiri memiliki beberapa instansi yakni BNPT, BIN dan TNI. Sedangkan khusus penanganan kasus terorisme, Indonesia memiliki Densus 88. “Terorisme di Indonesia terpengaruh oleh isu terorisme global, seperti konflik yang terjadi di Irak dan Syria (ISIS), Filipina Selatan (Marawi), dan Myanmar. Banyak orang Indonesia yang pergi ke negara-negara tersebut melakukan aksi teror yang mereka percayai sebagai perbuatan Jihad, serta mengajak orang untuk melakukan teror di Indonesia,” jelasnya.


Anas menjelaskan mengenai strategi Indonesia dalam menanggulangi aksi terorisme dengan mempraktekkan dua pendekatan, yaitu soft power dan hard power. Pendekatan soft power disoroti dari beberapa hal, antara lain deteksi diini dan opersi intelejen, lalu proses deradikalisasi yang komprehensif dengan melibatkan pemerintah, pemangku kepentingan organisasi non pemerintah, serta masyarakat sipil. Kemudian dilakukan penyelidikan terkait profil dan dilakukan pemantauan di area yang berpotensi adanya pertumbuhan kelompok radikal. Langkah selanjutnya dengan menembus batas teritorial teroris, memantau profil tokoh-tokoh teroris baik di dalam maupun di luar penjara. Polisi juga melakukan kontrol ketat di dunia maya, dan melakukan pendekatan terhadap para narapidana teroris sebagai sumber informasi dan upaya deradikalisasi. Tak luput menjalin kerjasama di dalam negeri serta mitra asing. “Sedangkan pendekatan hard power dengan melakukan operasi intelijen dan penegakan hukum,” katanya.


Berbicara menganai kejahatan Transnasional saat ini sudah menjadi ancaman terhadap keamanan dan kemakmuran global. Hal tersebut tentu berdampak pada Indonesia. “Tren kejahatan transnasional di Indonesia cukup memprihatinkan, khususnya masalah narkotika dan psrikotropika metamfetamin, yang banyak berdedar di Indonesia yang berasal dari China,” ujar Anas.


Kasus lain yang cukup mendapat perhatian adalah perdagangan manusia, pencucian uang, korupsi, kejahatan dunia maya, kejahatan lingkungan, dan perdagangan hewan yang terancam punah, serta kejahatan ekonomi transnasional.

 

Prof. Zachry Abuza menyampaikan bahwa Ia hadir ke Lemhannas RI dengan tujuan untuk mengapresiasi atas capaian Indonesia selama ini yang mampu menanggulangi terorisme. “Saya ke sini datang untuk mengapresiasi atas apa yang Indonesia telah capai selama ini dalam menanggulangi terorisme, dalam berdemokrasi, penegakan hukum, dan penegakan HAM. Makanya saya bawa mahasiswa ke sini,” ujarnya. Ia berpendapat bahwa Indonesia memiliki berbagai institusi yang mampu bekerja dengan baik dalam penanggulangan terorisme.

 

“Terorisme sangat dipengaruhi oleh tren global. Yang harus dipikirkan adalah apa yang akan terjadi setelah Suriah kolaps. Apa tren ke depan? Apa yang harus kita fokuskan? Apakah kita harus fokus pada jaringan ISIS?” tanya Prof. Zachry kepada para peserta diskusi. Menurutnya kita perlu memikirkan tren terbaru apa yang akan terjadi, seperti masalah yang terjadi di Myanmar, dan Bangladesh. Zachry berpesan agar seluruh komponen mampu berperan aktif dalam memimpin bangsa Indonesia, terutama di daerah-daerah perbatasan. “Saya meminta teman saya di sini, di Indonesia untuk berperan aktif memimpin kawasan ini, terutama dalam manajemen perbatasan. Kalian perlu bekerja sama dengan Negara lain seperti Malaysia, Thailand,” ujarnya.

Dibaca 149 kali