LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
04 Oktober

Kuliah Umum oleh Mr.Keith, Deputy (policy) Singapore Ministry Of Defence di Lemhannas RI

 

Mr.Keith, Deputy (policy) Singapore Ministry Of Defence memberikan kuliah umum di lingkungan Lemhannas RI yang bertempat di Auditorium Gajah Mada pada Rabu(04/10). Kuliah umum diawali dengan sambutan dari Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo. Agus Widjojo mengatakan bahwa Kedatangan Mr. Keith merupakan tanda hubungan baik antara kedua negara Indonesia-Singapura dalam bidang pendidikan dan hubungan bilateral. Singapura adalah tetangga baik Indonesia yang memiliki aspek kesamaan dalam masyarakat, sosial dan budaya serta beberapa isu terkait ancaman keamanan yang dihadapi saat ini. Adapun kedatangan Wakil Menteri Pertahanan Bagian Kebijakan diharapkan dapat memberikan wawasan terkait hubungan bilateral pertahanan Indonesia-Singapura.

 

Pada kuliah umumnya, Mr. Keith menyampaikan bahwa Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) dan Angkatan Bersenjata Singapura (SAF), memiliki hubungan yang penting dengan Lemhannas. Sejak tahun 2009, perwira tinggi SAF mulai mengikuti kursus PPRA Lemhannas setiap tahun. Para alumni Lemhannas dari SAF melaporkan bahwa kurikulum yang disampaikan lengkap dan sangat bermanfaat. Adapaun manfaat lain yang didapat adalah terjalinnya persahabatan akrab dengan para peserta maupun rekannya. Mr. Keith sangat berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada para peserta atas pengetahuan terkait dengan perkembangan gobal, regional maupun lokal. Hubungan pertahanan bilateral Indonesia dan Singapura terjalin erat dan kuat, hal tersebut dapat dilihat dengan berlangsungnya kegiatan flypast persama pada September lalu dalam perayaan 50 anniversary hubungan diplomatik ke-50 tahun antara Indonesia dan Singapura.

 

Mr. Keith menyampaikan bahwa berdasarkan kerjasama yang terjalin baik antara kedua belah pihak dalam mewujudkan perdamaian dan keamanan wilayah dari segala upaya ancaman, Singapura dan Indonesia harus meningkatkan efektivitas kerja bersama, untuk menghadapi ancaman baru dan bersifat non-konvensional, seperti terorisme.  TNI dan SAF harus terus-menerus melaksanakan kegiatan latihan dan pelatihan bilateral, dan berusaha menambah cara baru yang dapat membantu kita menghadapi ancaman baru dan mengemuka (seperti terorisme serta keamanan maritim) dalam skenario latihannya. Latihan Bersama atau LATMA dirasa penting guna meningkatkan kemampuan operasional, maupun memberi kesempatan kepada personil untuk berinteraksi dan saling belajar. Sebagai contoh, pada tahun 1974, seorang junior perwira AL Singapura Mayor Teo Chee Hean mengikutsertai LATMA EAGLE INDOPURA pertama. Perwira AL tersebut sekarang berjabatan sebagai Wakil Perdana Menteri Singapura. Mayor Teo Chee Hean masih memiliki kenang-kenangan tentang LATMA tersebut, yaknipengalaman yang membantu pengertian tentang pentingnya membangun hubungan bilateral yang kuat.

 

Selain itu Mr. Keith juga menyampaikan bahwa Indonesia dan Singapura harus menciptakan lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi antara para personil. “Saya khawatir bahwa kurang banyak rekan saya di MINDEF dan SAF memahami Indonesia secara mendalam. Mereka mungkin hanya kenal tiga “B”s: Bintan, Batam dan Bali! Ternyata, kondisi Indonesia lebih rumit daripada itu. Demikian pula, Singapura juga bukan hanya Orchard Road, Bandara Changi dan Marina Bay,“ tegas Mr. Keith.

 

Mr.Keith berharap akan lebih banyak perwira, baik dari TNI maupun SAF, serta kedua kementerian pertahanan, dapat mengeluarkan lebih banyak waktu di negara satu sama lain supaya dapat memperdalam pengertian tentang sejarah, budaya, harapan dan aspirasi kedua rakyat.

 

Selanjutnya, Mr. Keith menyampaikan harapannya agar Indonesia dan Singapura dapat menemukan kesempatan baru untuk memperkuat ASEAN. “Kita merayakan ulang tahun ke-50 ASEAN pada tahun ini, dan prestasi ASEAN memang banyak sejak bentuknya pada tahun 1967. Pada zaman ini, ASEAN menghadapi berbagai tantangan, misalnya Laut China Selatan, atau menanggulangkan bencana alam dan krisis kemanusiaan, atau pertumbuhan kegiatan teroris di wilayah kita. Permasalahan tersebut tidak dapat diatasi suatu negara di ASEAN sendiri. Diharapkan  Indonesia dan Singapura dapat berkerjasama untuk mendapatkan solusi yang bersifat ASEAN-centric, sehingga dapat membantu ASEAN mencapai visinya untuk menjadi wilayah yang dinamis dan terbuka,” jelas Mr. Keith

 

Secara pribadi, Mr. Keith merasa sangat optimis terhadap masa depan Indonesia. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam, ekonomi yang kuat, kaum buruh mudah yang berpendidikan, serta sistem demokrasi yang berkembang dengan baik. Selama 20 tahun ini, Indonesia dianggap sebagai salah satu negara dengan perkembangan terbaik di Asia, dan merupakan sesuatu “keajaiban Asia”. Mr Keith juga berharap dapat memperdalam kemitraan khusus antara kedua negara demi berlangsungnya generasi masa depan.

 

Dibaca 133 kali