LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
12 September

Kuliah Umum oleh Duta Besar RI untuk Myanmar di Lemhannas RI

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Negara Myanmar, DR. Ito Sumardi DS Drs., S.H., M.H., M.B.A., M.M. memberikan kuliah umum kepada Peserta PPSA XI, PPRA LVI, Pejabat Struktural dan Fungsional Lemhannas RI, Pengurus IKAL, dan Pengurus Perista Lemhannas RI yang bertempat di Auditorium Gajah Mada, Lemhannas RI pada Selasa (12/9) siang.

 

Kuliah umum diawali dengan sambutan dari Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo. Agus Widjojo mengatakan bahwa di Indonesia saat ini sedang marak berkembang isu krisis kemanusiaan yang terjadi di Myanmar, yakni mengenai etnis Rohingya, yang sedang viral di media sosial. “Banyak hal-hal yang terkait dengan kemampuan teknis dari media sosial. Misalnya hoax, berita-berita yang tidak benar, serta gambar-gambar yang permasalahan sebenarnya sudah selesai kemudian dimunculkan kembali sehingga menimbulkan implikasi dan dampak kesampingan yang kurang menguntungkan.” Untuk itu kuliah umum dari Dubes RI untuk Myanmar sangat diperlukan.

 

Menurut Agus Widjojo, Dubes Ito Sumardi telah melakukan tugasnya dengan sangat baik, bisa membuat Indonesia menjadi sangat dekat dengan lingkaran elit di Myanmar, memiliki hubungan kedekatan dengan Aung San Suu Kyi, Pemimpin National League for Democracy (Persatuan Nasional untuk Demokrasi atau NLD), dapat memperjuangkan kepentingan Indonesia, dan membuka akses terhadap etnis Rohingya. Di samping itu, Ito Sumardi juga mampu meyakinkan pemerintah Myanmar bahwa Indonesia bisa menjadi negara yang dapat dijadikan kawan untuk mencari penyelesaian terkait konflik di Rakhine.

 

Dalam kuliah umumnya, Dubes Ito Sumardi menjelaskan tentang awal mula penyebab pecahnya krisis kemanusiaan di Rakhine. Bagi pemerintah Myanmar, etnis Rohingya di kampung Rakhine dianggap pendatang ilegal. Oleh sebab itu, Rohingya tidak diakui sebagai warga negara Myanmar.

 

Pada tanggal 25 Agustus 2017, terjadi penyerangan terkoordinasi terhadap 30 pos polisi dan tentara di wilayah Rakhine Utara hingga menimbulkan beberapa korban jiwa. Tiga wilayah yang menjadi sasaran penyerangan yakni Rathedaung, Maungdaw, dan Buthidaung. Diketahui pelaku berasal dari kelompok militan yang dikenal dengan ARSA atau Arakan Rohingya Salvation Army. Kelompok ini dipimpin oleh Abu Ammar, dan beranggotakan oleh sebagian besar masyarakat dari etnis Rohingya.

 

Duta Besar Ito Sumardi juga menyampaikan situasi terakhir di wilayah Rakhine kepada para peserta kuliah umum. Perkembangan situasi di Rakhine Utara sejak tanggal 7 September lalu tidak terjadi lagi kontak senjata, Aparat Keamanan Myanmar lebih memprioritaskan kegiatan dalam bentuk patroli dan penjagaan pemukiman warga Myanmar untuk akses bantuan kemanusiaan. ARSA melayangkan surat permintaan gencatan senjata selama satu bulan dari tangga 10 September hingga tanggal 10 Oktober 2017.

 

Kuliah umum Duta Besar Ito Sumardi ini pada dasarnya untuk memberikan informasi terkait konflik di Rakhine State, Myanmar yang dialami oleh etnis Rohingya. Selain itu, Ito Sumardi juga  meyakinkan bahwa pemerintah Indonesia telah bertindak sesuai dengan kebijakan politik luar negeri nya bebas aktif dan mengutamakan perdamaian dunia serta kemanusiaan.

Dibaca 448 kali