LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI
13 Juli

Asia Bagian Timur Berpotensi menjadi World Center

 

 

Prof. Yan Xuetong, intelektual Hubungan Internasional ternama dari Tiongkok mengatakan Asia Bagian Timur (Eastern Asia) berpotensi menjadi pusat dalam tatanan internasional yang kini sedang berevolusi. "Jumlah GDP Tiongkok dan Jepang yang besarnya lebih besarnya daripada GDP seluruh negara di Eropa dan anggaran militer kedua negara yang cukup besar, serta menurunnya performa Uni Eropa dalam menyelesaikan permasalahan finansialnya menjadikan Asia Bagian Timur berpotensi menjadi pusat dunia," ujar Yan Xuetong yang mengunjungi Lemhannas RI dan berdiskusi dengan sejumlah pejabat Lemhannas RI dan Peserta Program Pendidikan Angkatan LVI (PPRA LVI) di Ruang Nusantara II Lemhannas, Kamis (13/7).

 

Yan menuturkan, konsep integrasi ala Uni Eropa pasca Brexit dan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang "menarik" diri dari tatanan internasional membuat gerakan anti establishment mendapatkan momentum. Mau tidak mau, kecenderungan tatanan internasional pun berubah. Amerika, satu-satunya negara adidaya berlepas diri atas perannya selama ini dan model integrasi Uni Eropa yang dielukan ternyata lamban dalam menangani krisis finansial kawasan. Kedaulatan negara (sovereignty) yang dianggap tradisional ketika marak terjadi integrasi kawasan, kian memegang peranan di masa depan. Sementara itu Asia Bagian Timur, yaitu kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, adalah kawasan yang secara ekonomi stabil dan relatif damai, meski belum mempunyai arsitektur keamanan regional.

 

Inilah tantangan dalam perwujudan Asia Bagian Timur menjadi pusat dunia. Absennya arsitektur keamanan regional membuat negara-negara di dalamnya belum mempunyai kesadaran satu sama lain untuk membangun Asia Bagian Timur menjadi pusat tatanan dunia. Ini menjadi tugas rumah masing-masing negara di kawasan ini. 

 

Dalam sengketa Laut Tiongkok Selatan misalnya, kenapa baru satu dekade ini konflik tentang batas wilayah menguat? Itu karena hubungan politik kita. "Yang menjadi masalah bukanlah 9 dash line, tetapi hubungan politik (antar negara). Selama Tiongkok dan Indonesia melihat isu ini dari level strategis, bukan dari pertimbangan lokal, tetapi dari pertimbangan politik di masa depan tentang sengketa ini maka tidak ada masalah sulit dalam menyelesaikan masalah ini", ungkap Yan Xuetong menjawab pertanyaan salah satu peserta diskusI 

 

Dipimpin oleh Deputi Pengkajian Strategik Lemhannas RI Prof. Djagal Wiseso Marseno, M.Agr, diskusi tentang "Evolusi Tatanan Internasional" bersama Prof. Yan Xueng ini berlangsung hangat dan diakhiri dengan foto bersama.

 

 

Dibaca 162 kali