Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo menerima audiensi Chief Executive Officer (CEO) MNC Group Hary Tanoesoedibjo bertempat di Ruang Tamu Gubernur Lemhannas RI pada Jumat, (17/07).

Hary menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Lemhannas RI atas penerimaan kunjungannya. Audiensi tersebut dilakukan untuk mendiskusikan kerja sama antara Lemhannas RI dengan MNC Group.  Menurut Hary, bekerja sama dengan Lemhannas RI merupakan suatu kehormatan.

 

“Saya melihat memang peluang untuk kolaborasi itu besar sekali,” sambut Agus. Di antaranya, Lemhannas RI pada bulan Oktober 2020 akan mengadakan program internasional tahunan, yakni Jakarta Geopolitical Forum yang akan menimbulkan potensi kerja sama antara kedua belah pihak.

 

Tidak lupa Agus juga menjelaskan wawasan kebangsaan dan 4 Konsensus Dasar Bangsa sebagai inti dari Lemhannas RI. Agus juga memperkenalkan program Pemantapan Nilai-Nilai di Lemhannas RI yang terbuka untuk seluruh masyarakat,  sehingga tidak menutup kemungkinan dapat dilaksanakan untuk pihak MNC Group.


Kepala Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) Heru Winarko memberikan ceramah dengan topik “Bersinergi Menyelamatkan Generasi dan Menjaga Negeri dari Ancaman Kejahatan Narkoba“ kepada Peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 61 pada pada Rabu, (15/07).

 

Pada kesempatan tersebut Heru menjelaskan mengenai pola internasional perdagangan narkoba, yakni The Golden Triangle, The Golden Crescent, dan The Golden Peacock. Pertama adalah The Golden Triangle atau Segitiga Emas yang terdiri dari Thailand, Myanmar, dan Laos. Kedua adalah The Golden Crescent atau Bulan Sabit Emas yakni Afganistan, Pakistan, dan Iran. Ketiga adalah The Golden Peacock yang berasal dari Amerika Latin.

 

“BNN membangun strategi defence active (pertahanan aktif),” ujar Heru. Pertahanan aktif dilakukan sebagai upaya dalam pencegahan peredaran gelap, pemberantasan peredaran gelap, pencegahan penyalahgunaan, pemberantasan penyalahgunaan, serta pemulihan dan rehabilitasi. Dalam mewujudkan pertahanan aktif, BNN bekerja sama dengan badan narkotika negara lain, mendatangi negara-negara yang terlibat dalam pola internasional perdagangan narkoba, saling bertukar informasi, dan mengupayakan mitigasi. “Jadi dari hulunya kita lakukan pencegahan dan pemberantasan,” tutur Heru.

 

Heru juga menyampaikan bahwa perkembangan teknologi informasi juga menjadi salah satu celah dalam pengedaran narkoba. Oleh karena itu, BNN melakukan operasi siber untuk memberantas peredaran narkoba melalui dunia maya.

 

“Menangani narkoba harus holistik, harus komprehensif, tidak bisa parsial,” ujar Heru. Hal tersebut juga mendorong BNN membuat kebijakan dan strategi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) yang terdiri dari langkah Pencegahan, Pemberantasan, dan Rehabilitasi.

 

Pertama adalah Pencegahan dengan membangun sistem pencegahan dan membangun kemampuan masyarakat dalam menjaga dan melindungi setiap individu dari kejahatan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Kemudian Pemberantasan, yakni dengan memperkuat hubungan kerja sama baik ditingkat nasional maupun internasional untuk mencegah masuknya narkoba dari luar negeri ke NKRI sehingga tidak beredar di masyarakat. Pada langkah Pemberantasan juga dilakukan penindakan pada pelaku dan perampasan aset pelaku kejahatan peredaran gelap narkoba.

 

Terakhir adalah Rehabilitasi, yaitu membangun sistem rehabilitasi penyalahguna dan pecandu narkoba yang komprehensif dan meningkatkan aksesibilitas dan kualitas layanan rehabilitasi sebagai upaya pemulihan penyalahguna dan pecandu narkoba.


Menjelang berakhirnya Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 60, Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) mengadakan Penataran Istri/Suami Peserta PPRA 60.

Sebanyak 97 orang yang terdiri dari 87 istri dan 10 suami akan mengikuti penataran selama 5 hari mulai Kamis, 16 Juli 2020 hingga Rabu 22 Juli 2020. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, penataran tahun ini diselenggarakan secara virtual.

“Penataran Istri/Suami Peserta PPRA 60 Lemhannas RI kali ini sangat berbeda dengan sebelumnya, karena diselenggarakan secara virtual dan dilaksanakan di tempat masing-masing,” kata Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo dalam sambutannya pada Upacara Pembukaan Tar Istri/Suami Peserta PPRA 60, Kamis, (16/07).

Agus mengakui bahwa memerlukan beberapa penyesuaian dalam pelaksanaan penataran kali ini karena diselenggarakan secara virtual. Sehingga peserta dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan kegiatan penataran yang dilaksanakan secara jarak jauh tanpa mengurangi kualitas proses belajar mengajar.

Tujuan Penataran Istri/Suami Peserta PPRA 60 adalah untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan dan cakrawala pandang para istri/suami agar sejalan dengan makin berkembangnya wawasan dan pengetahuan serta cakrawala pandang para peserta PPRA 60 setelah mengikuti pendidikan di Lemhannas RI. Selanjutnya adalah mempererat nilai kekeluargaan di antara sesama istri/suami peserta termasuk dengan personel organik Lemhannas RI. “Keakraban dan saling mengenal yang dilandasi dengan ikatan batin yang kokoh diharapkan dapat menjadi wahana terciptanya iklim persahabatan yang kondusif bagi pelaksanaan tugas maupun secara pribadi di masa mendatang,” ujar Agus.

Penataran tersebut diselenggarakan karena keberhasilan para peserta Lemhannas RI dalam meniti karier dan mengemban tugas negara tidak mungkin terwujud tanpa adanya peran istri/suami selaku pendamping. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya keharmonisan istri/suami terus dijaga melalui pemeliharaan dan penyesuaian pengetahuan wawasan dan etika. Melalui penataran ini, diharapkan dapat dipahami makna moral dan etika kebangsaan yang selanjutnya dapat diimplementasikan dalam pola pikir, pola sikap, dan pola tindak dalam kehidupan sehari-hari.



Hak cipta © 2020 Lembaga Ketahanan Nasional RI. Semua Hak Dilindungi.
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 10 Jakarta 10110
Telp. (021) 3451926 Fax. (021) 3847749