Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo menjadi pembicara kunci pada Webinar Kepemimpinan Strategis Terkait Integritas Notaris Sebagai Pejabat Umum Dalam Menjalankan Jabatannya yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia (PP INI), Rabu (2/9).

“Hasil sebuah proses kepemimpinan tidak kita lihat pada pemimpinnya, tetapi pada organisasinya dan pada anggotanya,” kata Agus. Menurut Agus, hasil sebuah proses kepemimpinan dapat terlihat dari organisasi yang dipimpin apakah menjadi lebih efisien dan efektif atau sebaliknya. Selain itu, hasil sebuah proses kepemimpinan juga dapat dilihat dari anggotanya, apakah anggotanya menjadi lebih kompeten, terampil, dapat bekerja sama, dan mengikuti perkembangan jika dibandingkan dengan sebelumnya. Maka dapat dikatakan bahwa hasil proses kepemimpinan dilihat dari organisasi dan kinerja anggota pada pelaksanaan tugas pokok.

Oleh karena itu, Agus berpesan bahwa anggota Ikatan Notaris Indonesia perlu mempunyai kemampuan untuk membaca perkembangan lingkungan strategis dan mengantisipasi perubahan. Yang dimaksud dengan mampu mengantisipasi perubahan yakni, mengenai dinamika, mengenai peraturan perundang-undangan dan mengenai proses transformasi yang bersifat irasional.

Notaris sebagai pemimpin strategis perlu memiliki keluwesan atau fleksibilitas guna menyesuaikan diri dengan dinamika perubahan. “Perubahan sekarang ini begitu cepat dan begitu drastis, sehingga kalau kita terlena di dalam sikap bussiness as usual, kita bisa ketinggalan kereta,” ujar Agus.

Pada kesempatan tersebut Agus juga mengingatkan bahwa dalam menghadapi era digital, keahlian softskill sangat diperlukan. Hal tersebut juga berlaku bagi anggota Ikatan Notaris Indonesia, bahwa softskill akan sangat banyak digunakan dan diperlukan bagi para anggota Ikatan Notaris Indonesia di dalam melaksanakan tugasnya.


Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo menjadi pembicara dalam Webinar Opini Seri 8: Refleksi 75 Tahun Pluralisme Indonesia yang diselenggarakan Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM (Balitbang Kumham) Kementerian Hukum dan HAM, Kamis (27/8).

Pada kesempatan tersebut, Agus menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan Pluralisme adalah sebuah pemikiran kolektif bangsa yang terbangun dari kekuatan persatuan di tengah keberagaman. Dalam memahami makna pluralisme dalam konteks persatuan dibutuhkan kesamaan pandangan, sikap, dan pemikiran. Agus juga menegaskan bahwa perlu adanya kesadaran bahwa Indonesia sebagai sebuah bangsa  membutuhkan persatuan.

Agus juga mengaitkan pluralisme dengan realitas kekinian. Menurut Agus, era globalisasi tidak selalu membawa kemudahan dalam mencapai solusi permasalahan bangsa. Penetrasi informasi yang intens dan tidak mengenal batas wilayah dinilai rentan menimbulkan persoalan baru yang berdampak luas bagi persatuan bangsa. Oleh karena itu, memandang pluralisme dalam persatuan memerlukan kematangan pada perseorangan dan juga kelompok.

Menurut Agus, jika kondisi ketahanan nasional kuat, pluralisme seharusnya dapat diwujudkan dengan baik. “Jika kondisi ketahanan nasional kuat, pluralisme seharusnya dapat diwujudkan dengan baik dan digunakan dalam mengatasi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan,” kata Agus.

Agus menjelaskan bahwa ketahanan nasional merupakan kondisi atau hasil yang digunakan untuk mengatasi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan dalam rangka pencapaian tujuan nasional. Ketahanan nasional, jelas Agus, dapat diwujudkan dengan pendekatan gatra ideologi, gatra ekonomi, gatra politik, gatra sosial budaya, gatra pertahanan dan keamanan, serta gatra spasial geografis melalui keadaan masing-masing provinsi. Bila ketahanan tiap-tiap gatra bisa dibangun dan bisa dicapai dengan baik, maka ketahanan nasional bisa dikatakan dalam situasi baik. Namun, jika ada salah satu gatra yang lemah maka akan mempengaruhi kondisi ketahanan nasional.

Lebih lanjut Agus menyampaikan beberapa pemikiran dalam merespons tantangan pluralisme. Menurut Agus, aspirasi masyarakat harus difasilitasi dengan membentuk forum musyawarah. Selanjutnya Agus juga menyarankan adanya pembinaan atas berbagai lembaga keagamaan dan perbaikan kurikulum pendidikan yang menyebarkan kultur, sejarah, dan nilai-nilai kebangsaan. “Mengaktifkan kembali berbagai kegiatan yang berisi penanaman nilai-nilai kebangsaan,” ujar Agus.


Sekretaris Utama (Sestama) Badan Intelijen Negara (BIN) Komjen Pol. Drs. Bambang Sunarwibowo, S. H., M.Hum. mengunjungi Lemhannas RI, Jumat, (28/8). Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo.

Dalam kunjungan tersebut, Sestama BIN didampingi beberapa jajarannya, yakni Gubernur Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) Laksma TNI Dr. Ivan Yulivan, M.M., SHRMP., M.Tr (Han), Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Kapuslitbang) BIN Dr. Armi Susandi, M.T, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Kapusdiklat) BIN Brigjen TNI R. Toto Oktaviana, S.Sos., Kepala Biro - 03 Gede Agung Patra Wicaksana, S.H., M.H, Staf Khusus Kepala BIN Riri Satria, S.Kom., M.M., ACP., DBA(c), dan Staf Khusus Wakil Kepala BIN Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Soemantri.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kerja sama antara kedua instansi terutama kerja sama yang terkait dengan prediksi ancaman nasional ke depan. “Lemhannas RI tentunya memiliki data base yang lebih komprehensif dalam hal ini,” kata Bambang. Lebih lanjut, Bambang menjelaskan bahwa data yang dimiliki Lemhannas RI dapat memperkaya indeks ancaman nasional yang disusun BIN, sehingga indeks ancaman nasional yang disusun menjadi lebih spesifik dan berkualitas. Indeks tersebut nantinya dapat dijadikan sebagai panduan instansi dalam bekerja dan memelihara Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibnas).

“Kami juga berharap bisa ada kerja sama berkaitan dengan peningkatan di bidang pendidikan,” ujar Bambang. Dalam hal tersebut Bambang menyampaikan kemungkinan jajaran BIN untuk dimanfaatkan menjadi narasumber dan personel BIN bisa menjadi peserta pendidikan. Selain itu, Bambang juga menyampaikan kemungkinan kerja sama dalam menyusun kajian sehingga akan meningkatkan kualitas data, analisis, dan hasil kajian. “Tentunya ini akan berpengaruh terhadap kinerja kita, yang secara sinergi antar lembaga ini menjadi sangat penting sekali kedepannya,” tutur Bambang.

Menurut Agus, Lemhannas RI sangat terbuka atas kerja sama yang ingin dilakukan. Kerja sama yang dilakukan bukan hanya tentang saling menggunakan hasil akhir yang telah disusun, namun dari proses diskusi dan penyusunan. “Kami selalu terbuka apalagi yang berkaitan dengan fungsi dan peran Lemhannas RI untuk masuk di berbagai program pendidikan yang ada di Lemhannas, kerja sama peningkatan kapasitas, kami selalu terbuka,” kata Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo.


Menjelang berakhirnya kepengurusan Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI (IKAL) Masa Bakti 2015-2020, IKAL mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) IV guna menentukan kepengurusan IKAL periode berikutnya di Ruang Dwi Warna, Gedung Pancagatra, Kamis,(27/8). Munas IV tersebut juga disiarkan secara virtual agar dapat diikuti oleh para peserta yang tidak dapat hadir di tempat penyelenggaraan.

Sebelum memulai Munas IV, Ketua Umum IKAL Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar menyampaikan ucapan terima kasih kepada panitia Munas IV atas kerja kerasnya sehingga Munas IV tersebut dapat terlaksana. Agum juga mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Lemhannas RI atas dukungan dan kerja sama pada setiap kegiatan IKAL selama ini. “Saya sangat berharap, siapa pun gubernurnya nanti dan siapa pun Ketua Umum IKALnya nanti, hubungan kerja seperti ini tetap bisa terlaksana dengan baik,” kata Agum.

Kemudian Agum juga berpesan kepada seluruh peserta Munas IV agar melaksanakan Munas IV dengan penuh pengertian, yakni mengerti  tujuan Munas IV dilaksanakan, dan pelaksanaan Munas IV yang serba terbatas karena dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19. Kemudian Agum juga menghimbau agar seluruh peserta melaksanakan Munas IV dengan sungguh-sungguh dengan mematuhi tata tertib dan peraturan yang berlaku. 

“Munas ini adalah Munas IKAL, suatu organisasi yang begitu prestisius. Jadi saya mohon seluruh peserta untuk mengikutinya dengan penuh rasa kerja sama, kebersamaan, dan gembira,” kata Agum.

“Di tengah pasang surut dan dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam lima tahun terakhir, IKAL senantiasa menunjukkan komitmen dan konsistensinya dalam memberikan berbagai sumbangsihnya baik tenaga, pemikiran, materil maupun moril bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” kata Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo saat memberikan sambutan.

Menurut Agus, capaian tersebut tentu tidak terlepas dari kualitas, integritas, dan soliditas kepengurusan IKAL masa bakti 2015-2020. Hal tersebut harus dijadikan sebagai motivasi dan sumber inspirasi untuk memantapkan langkah dan pikiran dalam menentukan kepengurusan IKAL periode berikutnya, agar IKAL semakin tumbuh dan berkembang sebagai tempat bersandar bagi seluruh komponen bangsa yang mendambakan Indonesia yang bersatu, maju, dan sejahtera. Oleh karena itu, Agus menghimbau bahwa kehadiran alumni Lemhannas RI yang tersebar di daerah perlu diberdayakan dan dimanfaatkan dalam menyosialisasikan nilai-nilai kebangsaan dalam berbagai aktivitas seperti yang termuat dalam misi IKAL.

“Tidak dapat dipungkiri bahwa IKAL di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan sebuah organisasi yang strategis,” ujar Agus. Menurut Agus, hal tersebut bukan saja karena cerminan dari kurikulum Lemhannas RI yang telah dibekalkan kepada para anggota IKAL, tetapi juga merupakan cerminan dari struktur organisasi IKAL sendiri.

Agus menyampaikan bahwa IKAL mewakili komponen bangsa baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Secara vertikal dalam pengertian dimensi waktu karena meliputi dari angkatan pertama sampai angkatan 61 yang saat ini sedang mengikuti program pendidikan. Di sisi lain, secara horizontal yang dimaksud adalah pengertian kewilayahan di mana IKAL menjadi wadah para alumni yang tersebar di banyak daerah.

Di penghujung sambutannya, Agus menyampaikan bahwa reputasi dan nama sebuah lembaga pendidikan akan selalu dibawa dan dicerminkan oleh sikap dan perilaku para alumninya, begitu pula dengan Lemhannas RI. “Untuk itu kami selalu mengingatkan bahwa kemana pun anggota IKAL berada, di dalam sikap dan perilakunya akan selalu membawa nama Lemhannas RI,” kata Agus.

Setelah serangkaian kegiatan, akhirnya Munas IV IKAL menetapkan Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar kembali terpilih menjadi Ketua Umum IKAL Masa Bakti 2020-2025.



Hak cipta © 2021 Lembaga Ketahanan Nasional RI. Semua Hak Dilindungi.
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 10 Jakarta 10110
Telp. (021) 3451926 Fax. (021) 3847749