Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) menggelar Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-55 Lemhannas RI, Rabu, 20 Mei 2020. Bertempat di Ruang Nusantara, upacara tersebut juga sekaligus memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang bertepatan dengan HUT Lemhannas RI tanggal 20 Mei.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo selaku Inspektur Upacara menyampaikan bahwa secara tersirat alasan Lemhannas RI diresmikan bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional karena jiwa dan semangat perjuangan Lemhannas RI merupakan semangat kebangkitan nasional yang mampu mendorong bangkitnya kesadaran bersama untuk hidup bersatu dalam kebhinnekaan dan sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat. “Jiwa dan semangat kebangkitan nasional inilah, yang seharusnya senantiasa dipedomani dan dipahami oleh seluruh jajaran dan keluarga besar Lemhannas RI dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya,” ujar Agus Widjojo.

Selanjutnya Agus menyampaikan bahwa memasuki tahun 2020 ini, Indonesia dihadapkan pada konflik di Perairan Natuna dan bencana banjir di beberapa wilayah. Kemudian memasuki bulan Maret 2020 Indonesia dilanda Pandemi COVID-19 yang sampai saat ini sudah mencapai lebih dari 15.000 kasus dan membuat beberapa daerah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pandemi COVID-19 juga membuat pertumbuhan ekonomi di Indonesia semakin menurun dan membuat banyak sektor usaha mengalami kerugian dan terpaksa melakukan pemotongan upah kerja bagi beberapa karyawan, atau bahkan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Menghadapi situasi tersebut, pemerintah mulai aktif memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak COVID-19. Selain itu, angka kesembuhan pasien di Indonesia juga meningkat dan tidak terlepas dari perjuangan dan pengorbanan para tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Tema yang diangkat dalam peringatan HUT ke-55 Lemhannas RI yakni “Dengan Semangat Kebangkitan Nasional, Kita Bangun SDM Unggul Indonesia Maju” memiliki relevansi dengan situasi dan kondisi nasional saat ini.Bersama tema ini, dan dengan berlandaskan semangat kebangkitan nasional, Lemhannas RI melalui peran dan fungsinya, ingin menumbuhkan kembali semangat persatuan dan kesatuan dalam melawan virus COVID-19,” kata Agus Widjojo.

Agus Widjojo juga menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada seluruh personel Lemhannas RI atas kerja keras dan berbagai capaian serta prestasi yang diraih Lemhannas RI. Namun, tetap harus disadari bahwa Lemhannas RI masih memiliki kekurangan yang harus diperbaiki. “Lemhannas RI harus semakin peka dalam merespons berbagai dinamika kehidupan nasional dan beradaptasi dengan ekspektasi dan tuntutan masyarakat yang terus berkembang terkait dengan peran Lemhannas RI ke depan,” tutur Agus Widjojo.

Pada akhir amanatnya, Agus Widjojo mengingatkan kepada seluruh personel Lemhannas RI beberapa hal yang harus dipedomani. Hal pertama adalah memegang teguh dan mempertahankan cita-cita luhur dan marwah Lemhannas RI sebagai pengawal jati diri, karakter dan persatuan bangsa berdasarkan Empat Konsensus Dasar Bangsa. Selanjutnya, menjaga komitmen dan konsistensi pengabdian Lemhannas RI dengan memperkuat soliditas dan kebersamaan berdasarkan semangat kegotongroyongan.

Personel Lemhannas RI juga diharapkan dapat mengembangkan budaya pemikiran strategis yang menjangkau keluar (outward looking) dengan tetap berpedoman pada jati diri bangsa dan kepentingan nasional. Terakhir adalah mencermati dan menyikapi secara cerdas berbagai isu aktual yang berkembang, agar Lemhannas RI tidak terjebak dalam penyebaran berita bohong yang menyebabkan kepanikan di tengah masyarakat.

Upacara tersebut hanya dihadiri oleh beberapa pejabat struktural, pejabat fungsional, perwakilan personel dan peserta PPRA 60 serta PPRA 61. Sedangkan sejumlah personel Lemhannas RI lainnya mengikuti upacara secara dalam jaringan (daring). Hal tersebut dilakukan demi menjaga physical distancing sebagai upaya pencegahan penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19), namun tentunya tidak mengurangi kekhidmatan dalam melaksanakan upacara.


Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Letjen (Purn) Agus Widjojo memberikan pengarahan kepada Tenaga Ahli Pengajar (Tajar), Tenaga Ahli Pengkaji (Taji), dan Tenaga Profesional (Taprof) pada Jam Pimpinan, Jumat, 15 Mei 2020. Sebagian Taji, Tajar, Taprof hadir langsung di Auditorium Gadjah Mada, sedangkan sebagian lainnya mengikuti Jam Pimpinan dari tempat masing-masing secara virtual. Tujuan dari Jam Pimpinan tersebut adalah sebagai forum komunikasi atas evaluasi proses belajar mengajar dalam konteks operasionalisasi kurikulum.

Agus membuka Jam Pimpinan tersebut dengan menjelaskan bahwa untuk mencapai tujuan nasional, negara harus bisa mengatasi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan. Oleh karena itu, diperlukan ketahanan nasional dengan pendekatan pancagatra yakni ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan dan keamanan, serta trigatra yakni geografi, sumber kekayaan alam, dan demografi. Pendekatan gatra tersebut diperlukan karena ketahanan nasional merupakan hasil multidimensional dari gatra-gatra yang ada.

Selanjutnya Agus juga menjelaskan bahwa dalam mencapai tujuan nasional, diperlukan kebijakan yang berdasarkan pengetahuan dan kompetensi dan tidak boleh asal menentukan. Kebijakan yang dijalankan juga tidak boleh terlepas dari 4 Konsensus Dasar Bangsa, semua kebijakan harus berdasar pada 4 Konsensus Dasar Bangsa. Agus juga menyatakan bahwa Lemhannas RI yang salah satu fungsinya adalah penyelenggaraan pendidikan harus memberikan pengetahuan pada peserta yang akan digunakan dalam mengisi kebijakan setelah nantinya menjadi alumni. “Kita harapkan para alumni menggunakan pengetahuan yang didapatkan di Lemhannas RI untuk mengisi kebijakan yang dilahirkan ketika nanti bekerja di lapangan,” kata Agus.

Pada kesempatan tersebut Agus menegaskan bahwa tujuan pendidikan Lemhannas RI adalah memantapkan pimpinan nasional yang berkarakter negarawan, yang memiliki wawasan strategis dan terampil memecahkan persoalan strategis. 

Untuk menyiapkan seorang pemimpin, Lemhannas RI harus terus mengembangkan metodologi pendidikan. Dulu metodologi pendidikan masih klasikal berbentuk satu arah. Kemudian metodologi pendidikan berkembang menjadi partisipasi aktif yang mengizinkan terbangunnya komunikasi 2 arah.

Kemudian sekarang Lemhannas RI hampir mencapai metodologi diskusi. Artinya bukan hanya partisipasi aktif antara pengajar dan peserta, namun juga terjadi diskusi antarpeserta dan terbangun pertukaran pendapat atau penambahan pendapat. Lalu setelah semua metodologi sudah terlewati, maka akan menuju metodologi studi kasus.

Untuk mencapai metodologi studi kasus diperlukan persiapan dari para tenaga pengajar, karena pada metodologi tersebut sudah mulai dibudayakan pemberian bahan bacaan sebelum masuk ke dalam diskusi. Oleh karena itu, penting bagi peserta harus memiliki wawasan, namun lebih penting tenaga pengajar memiliki wawasan yang lebih daripada peserta. “Tenaga pengajar harus bisa memberikan kedalaman pemahaman kepada esensi-esensi permasalahan sebuah kasus,” kata Agus.


“Semua nilai dalam sila-sila Pancasila itu sejalan dengan ajaran semua agama,” kata Menteri Agama RI Jenderal (Purn) Fachrul Razi saat memberikan ceramah kepada peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 61, Senin 18 Mei 2020. Pada kesempatan tersebut Fachrul mengangkat topik “Implementasi Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Beragama”.

Topik tersebut diangkat dengan tujuan untuk menyampaikan pentingnya menerjemahkan nilai-nilai Pancasila dalam konteks kehidupan keagamaan. Fachrul menyampaikan bahwa Pancasila mempersatukan berbagai keragaman yang Indonesia miliki, baik dari segi agama, budaya, bahasa, suku, etnis, dan keragaman lainnya. Akan tetapi, Fachrul juga mengakui bahwa dalam perjalanan Bangsa Indonesia, masih ada pihak-pihak yang masih berusaha membenturkan nilai-nilai Pancasila dengan nilai-nilai agama. Ada sebagian pihak yang menyebutkan bahwa tidak ada hukum yang lebih tinggi selain hukum Tuhan. “Padahal, Pancasila itu sendiri dirumuskan oleh para pendiri bangsa yang termasuk di dalamnya ahli agama,” tutur Fachrul.

Indonesia sebagai negara Pancasila juga memfasilitasi dan mengakomodasi penyelenggaraan aktivitas keagamaan setiap warga negara, serta pada saat yang sama tetap menjamin kebebasan setiap warga negaranya untuk menjalankan keyakinan serta kepercayaannya masing-masing, tanpa ditentukan oleh Negara. Maka, Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama mana pun.

“Keragaman dalam hal agama merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia,” ujar Fachrul. Menurut Fachrul, saat ini konflik yang berbasis isu keagamaan masih sesekali terjadi diakibatkan menajamnya perbedaan penafsiran, hingga konflik yang diakibatkan oleh adanya sikap intoleransi, ekstremisme, radikalisme, hingga terorisme. 

Oleh karena itu, perlu ada upaya terus menerus untuk menjelaskan dan memberikan pengertian bahwa nilai-nilai Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama mana pun. Bahkan Pancasila dapat dianggap sebagai jalan tengah yang mampu mengakomodasi nilai-nilai agama untuk diterjemahkan dalam konteks bernegara dan dapat dikatakan bahwa pengaruh agama sangat kuat mewarnai rumusan berbagai isi perundang-undangan, peraturan, serta regulasi-regulasi turunannya di Indonesia.

Pancasila sebagai sebuah ideologi negara telah teruji karena lahir dari kesepakatan bersama antarkelompok yang beragam. Lahirnya Pancasila tidak hanya melibatkan tokoh dari kalangan satu agama saja, melainkan juga tokoh-tokoh agama lain dan kelompok nasionalis. “Namun, dalam implementasinya, nilai-nilai Pancasila masih perlu diterjemahkan secara lebih konkret agar betul-betul dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat beragama,” kata Fachrul.

Kemudian Fachrul menyampaikan bahwa sebagai upaya mensinergikan nilai-nilai Pancasila dengan ajaran agama, Kementerian Agama (Kemenag) RI telah merumuskan sebuah gagasan yang disebut sebagai Moderasi Beragama. Melalui Moderasi Beragama, Kemenag mendorong pertumbuhan cara pandang, sikap, dan perilaku beragama yang moderat, tidak ekstrem atau berlebihan, karena agama apapun memang melarang setiap umatnya untuk berlebih-lebihan. Kemenag sudah merumuskan sejumlah indikator keberhasilan Moderasi Beragama, yang salah satunya adalah adanya wawasan kebangsaan yang kuat pada umat beragama. “Komitmen kebangsaan umat beragama penting sebagai benteng dari dalam untuk menghalau merebaknya ideologi yang berlawanan dengan Pancasila,” ujar Fachrul.


Perwakilan tenaga medis di sejumlah daerah telah menerima Bantuan Alat Kesehatan dari Lemhannas RI. Bantuan alat kesehatan yang disalurkan terdiri dari Alat Pelindung Diri (APD), Sarung Tangan, dan Masker.

 

Beberapa daerah yang telah menerima bantuan alat kesehatan, antara lain IDI Cabang Sorong, Papua; Radjak Hospital Purwakarta, Jawa Barat; RSUD Dr. Moewardi Solo, Jawa Tengah; IDI Cabang Ende, NTT; RSD Kalabahi Alor, NTT; RSUP Sanglah Denpasar, Bali; RSU Tanjung Pura Langkat, Sumatera Utara; RSUD Dr. Saiful Anwar/ Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur; Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Aceh; dan RSU Naili DBS serta beberapa puskesmas di Sumatera Barat.

 

Bantuan alat kesehatan tersebut sebelumnya diserahkan secara simbolis oleh Gubernur Lemhannas RI Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo kepada perwakilan dokter bertempat di Lemhannas RI pada Rabu, 29 April 2020. Agus mengatakan bahwa bantuan ini diberikan sebagai apresiasi dan dukungan bagi tenaga medis dalam mengatasi Covid-19 di Indonesia. “Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada rekan-rekan tenaga medis dan sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo dalam Rapat Terbatas untuk ikut berkontribusi memberikan perlindungan optimal bagi dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya dalam menangani pandemi Covid-19”, ujar Agus.

 

Pemberian bantuan tersebut, lanjut Agus,  juga merupakan suatu bentuk keprihatinan terhadap tenaga medis yang meninggal dunia dalam menangani Covid-19. “Melihat keprihatinan tersebut menjadi alasan Lemhannas RI untuk turut memberikan sumbangsih alat bantu Kesehatan yang terdiri dari alat pelindung diri (APD), sarung tangan, dan masker kepada beberapa rumah sakit dan puskesmas”, ujar Agus.

 

Sebelumnya, Lemhannas RI juga menyalurkan bantuan ke beberapa Rumah Sakit dan Puskesmas terdekat di Jakarta. Kegiatan penyerahan bantuan alat kesehatan merupakan salah satu rangkaian HUT Lemhannas RI ke-55 yang bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, yaitu tanggal 20 Mei. Sebelumnya, panitia HUT telah melaksanakan lomba kebersihan yang dilaksanakan di lingkungan Lemhannas RI. Selain lomba kebersihan dan penyerahan bantuan alat Kesehatan, Lemhannas RI juga akan melaksanakan lomba pegawai teladan dan bakti sosial Perista berupa penyerahan buku.

 



Hak cipta © 2020 Lembaga Ketahanan Nasional RI. Semua Hak Dilindungi.
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 10 Jakarta 10110
Telp. (021) 3451926 Fax. (021) 3847749