Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo menerima audiensi dari Dewan Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada Selasa (21/12). Hadir dalam audiensi tersebut Ketua Umum Dewan Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Pebri Nurhayati dan Ketua Bidang Sosial Politik Dewan Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Achmad Danial.

Dalam audiensi tersebut, Ketua Umum Dewan Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyampaikan terima kasih atas kesediaan Lemhannas RI mengirimkan perwakilan untuk menjadi narasumber dalam webinar “Suara Pancasila” yang diselenggarakan pada peringatan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2021. Tenaga Profesional Bidang Ideologi dan Strategi Lemhannas RI Brigjen TNI (Purn) A.R. Wetik, M.Sc. hadir dalam webinar tersebut dan menjadi narasumber dalam sesi yang mengangkat topik “Apa Kabar Kemanusiaan?”.

Gubernur Lemhannas RI menyampaikan bahwa dalam dinamika kehidupan masyarakat, kehadiran negara sangat diperlukan. Sejalan dengan hal tersebut, Gubernur Lemhannas RI mengharapkan dalam cakupan lingkup kewenangan Dewan Mahasiswa secara fungsional proporsional, Dewan Mahasiswa menunjukkan kehadirannya dalam kehidupan mahasiswa. “Saya harapkan secara fungsional proporsional, Dewan Mahasiswa menunjukkan kehadiran di dalam kehidupan mahasiswa,” kata Gubernur Lemhannas RI.

Turut hadir mendampingi Gubernur Lemhannas RI dalam audiensi tersebut Tenaga Profesional Bidang Sosial Budaya dan Kepemimpinan Lemhannas RI Dr. Anhar Gonggong serta Tenaga Profesional Bidang Kewaspadaan Nasional dan Ideologi Lemhannas RI Mayjen TNI (Purn) Dr. I Putu Sastra Wingarta, S.I.P., M.Sc.


Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo menjadi salah satu narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) Staf Khusus Presiden Bidang Hukum dengan judul “Rancangan Perpres Tugas TNI dalam Mengatasi Aksi Terorisme” bertempat di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (15/12). Pada FGD tersebut, Gubernur Lemhannas RI mengangkat topik Pelibatan TNI dalam Penanganan Kontra Terorisme.

Gubernur Lemhannas RI menyampaikan bahwa pengertian terorisme memiliki aspek nasional dan internasional sehingga memberikan pemahaman bahwa ancaman terorisme tidak dapat dipisahkan secara mutlak sebagai ancaman dari dalam atau luar negeri.

Menurut Gubernur Lemhannas RI, penindakan tindak terorisme yang terjadi di luar negeri merupakan tugas dan peran untuk TNI dalam bentuk operasi militer. Sedangkan penindakan tindak terorisme yang terjadi di yurisdiksi wilayah hukum nasional dalam negeri merupakan tugas bagi aparat penegak hukum dalam criminal justice system. Namun, Gubernur Lemhannas RI memandang belum ada batasan yang tegas dan eksplisit tentang peran TNI dan Polri dalam kontra terorisme. Hal tersebut memberi peluang untuk menentukan batas kewenangan antara TNI dan Polri dalam kontra terorisme.

Mengakhiri paparannya, Gubernur Lemhannas RI menekankan bahwa upaya penindakan terorisme pada hakikatnya membutuhkan konsistensi respons penegakan hukum oleh aparat penegak hukum. Upaya menangani terorisme saat ini sudah cukup efektif dilakukan oleh Polri. Gubernur Lemhannas RI berpendapat peran TNI dalam penanganan kontra terorisme dapat diartikan untuk menangani tindak terorisme yang terjadi di luar wilayah yurisdiksi hukum nasional. Di dalam negeri, peran TNI dapat diwadahi dalam operasi perbantuan TNI kepada otoritas sipil di masa damai.


“Mari kita cari di mana kita bisa bersinergi untuk kepentingan bangsa dan negara ini,” kata Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo saat menerima audiensi ACT Consulting. Hadir dalam audiensi tersebut Dewan Pembina dan Dewan Penasihat ESQ Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P. yang didampingi oleh Direktur Utama ESQ Luki Alamsyah, Direktur Graha Hariyo Puguh W, dan Senior Corporate Culture Consultant Uswatun Khasanah.

Dalam audiensi yang dilaksanakan pada Jumat, 17 Desember 2021 tersebut, kedua pihak berdiskusi dan saling bertukar informasi mengenai instansi masing-masing. Gubernur Lemhannas RI menyampaikan bahwa diskusi yang dilakukan antara kedua instansi merupakan hal yang baik, karena kedua instansi sama-sama mendapatkan kedalaman mengenai instansi satu sama lain.

Pada kesempatan tersebut Gubernur Lemhannas RI didampingi oleh Tenaga Profesional Bidang Geopolitik dan Wawasan Nusantara Lemhannas RI Mayjen TNI (Purn) E. Imam Maksudi, S.E., Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Sosial Budaya Lemhannas RI Prof. Dr. Ir. Bondan Tiara Sofyan, M.Si., Kepala Biro Hubungan Masyarakat Brigjen TNI A. Yudi Hartono, S.Sos., M.M., M.Han., dan Kepala Bagian SDM Lemhannas RI Kolonel Mar Dr. Budi Santoso, M.A.P.


Persatuan Istri Anggota Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Perista Lemhannas RI) menyelenggarakan Pertemuan Pengurus, Anggota Perista, dan Karyawati Lemhannas RI pada Rabu, 15 Desember 2021 bertempat di Ruang Dwi Warna Purwa, Lemhannas RI. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Melindungi Anak dari Bahaya Narkoba, Gadget, dan Pornografi” dengan menghadirkan Deputi Rehabilitasi BNN Dr. dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS sebagai narasumber.

 

“Dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin canggih, membuat orang tua terkadang kewalahan dengan anak-anak zaman milenial ini yang lebih canggih dari orang tuanya,” kata Plt. Ketua Perista Lemhannas RI Lisa Wieko Syofyan. Menurut Plt. Ketua Perista, adanya jurang perbedaan antara teknologi di masa dahulu dan saat ini, sedikit banyak membuat kesulitan mendidik anak dalam pergaulan sehari-hari. Diharapkan dengan dilaksanakannya kegiatan tersebut dapat berguna bagi setiap peserta yang hadir.

 

“Tidak ada satu alasan yang pasti (mengapa) orang menggunakan narkoba, banyak faktor yang mempengaruhi,” kata Deputi Rehabilitasi BNN Dr. dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS. Lebih lanjut Deputi Rehabilitasi BNN menyebutkan beberapa alasan seseorang menggunakan narkoba, di antaranya ialah untuk menggali jati diri, untuk mengubah perasaan, untuk melarikan diri dari rasa bosan dan putus asa, untuk meningkatkan interaksi sosial, serta untuk meningkatkan pengalaman sensoris dan kesenangan.

 

Menurut Deputi Rehabilitasi BNN ada beberapa faktor pelindung untuk mencegah terjadinya adiksi terhadap narkoba. Beberapa faktor tersebut adalah keterikatan yang kuat dan positif dalam keluarga, peran yang jelas dalam membangun kekuatan dalam keluarga secara konsisten, dan keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak-anak.

 

Deputi Rehabilitasi BNN menyampaikan bahwa kondisi kecanduan gadget saat ini semakin meningkat di kalangan dewasa muda di dunia, 90% di antaranya menggunakan sosial media pada gadget yang dimiliki. Lebih lanjut Deputi Rehabilitasi BNN menyampaikan beberapa tanda-tanda kecanduan gadget di antaranya adalah pekerjaan mulai terganggu, merasa takut ketinggalan informasi apabila tidak mengecek gadget, panik dan cemas bila tidak membawa gadget, serta menggunakan gadget secara sembunyi-sembunyi. “Kita terima sebagai bagian dari perubahan zaman, tapi kita juga sedih dengan situasi seperti ini,” kata Deputi Rehabilitasi BNN.

 

Kemudian Deputi Rehabilitasi BNN menyampaikan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah kecanduan gadget pada anak. Pertama, orang tua membuat aturan, tetapi aturan yang dibuat harus didiskusikan dengan anak. Kedua, mengalihkan perhatian anak agar tidak terus terfokus dengan gadget. Ketiga, orang tua membatasi akses penggunaan dengan mengatur menu dan fitur yang boleh diakses anak pada gawai. Keempat, menyediakan permainan alternatif yang menarik dan bersifat edukatif. Kelima, orang tua menjadi contoh yang baik dengan membuat waktu tanpa gadget untuk seluruh anggota keluarga. Keenam, perbanyak waktu bersama anak agar anak selalu merasa diperhatikan. Hal-hal tersebut harus dilakukan dengan disiplin, konsisten, dan tegas.

 

Selanjutnya, dalam mencegah serangan pornografi pada anak, Deputi Rehabilitasi BNN menekankan bahwa orang tua harus meluangkan banyak waktu untuk bersama anak. Orang tua juga harus mengajak anak untuk bicara dan diskusi bersama mengenai teman, sekolah, dan lingkungan permainan serta memberitahu mana perilaku yang baik dan perilaku yang buruk. “Awasi apa yang dilakukan anak-anak. Kalau sudah terjadi, rangkul dan peluk (anak),” kata Deputi Rehabilitasi BNN menjelaskan mengenai tindakan yang tepat dilakukan orang tua dalam menghadapi anak.

 

Jika sudah terjadi serangan pornografi pada anak, orang tua harus mendekati anak dan mengajak bicara dengan tenang. Orang tua harus bisa mengontrol emosi dan menghindari kekerasan serta menjelaskan dampak negatif dari sering melihat pornografi. Deputi Rehabilitasi BNN juga mengingatkan orang tua harus bisa memosisikan diri dengan tepat dan memberi cerita-cerita positif yang membangun anak.

“Adiksi adalah penyakit keluarga. Seseorang yang terkena adiksi, maka seluruh anggota keluarganya akan menderita,” kata Deputi Rehabilitasi BNN menutup paparannya.



Hak cipta © 2022 Lembaga Ketahanan Nasional RI. Semua Hak Dilindungi.
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 10 Jakarta 10110
Telp. (021) 3451926 Fax. (021) 3847749