“Kerjasama ini tentu memiliki arti penting bagi peningkatan kapasitas dan kapabilitas kedua institusi sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang diemban masing-masing,” kata Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo saat memberikan sambutan pada Penandatanganan Nota Kesepahaman antara Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) dan Lemhannas RI di Gedung BPK RI pada Jumat, (27/11).

Bagi Lemhannas RI, kerja sama yang telah terjalin tentu semakin memperluas jejaring kerja dalam penyerasian kebijakan, kajian dan inovasi, serta penyelenggaraan pemantapan nilai-nilai kebangsaan dalam rangka ketahanan nasional. Dengan komitmen dan kapasitas yang dimiliki oleh kedua instansi ini, kerja sama akan memberikan manfaat dan kontribusi besar bagi penguatan dan peningkatan kualitas dalam berbagai bidang bagi kedua belah pihak.

“Saya berharap penandatanganan nota kesepahaman ini tidak sekedar menjadi acara seremonial semata, namun perlu diimplementasikan dalam kerangka kerja yang lebih nyata secara konsisten. Dengan demikian, potensi yang dimiliki oleh kedua instansi dapat saling bersinergi untuk menghasilkan capaian dan sasaran yang lebih optimal,” ungkap Agus.

 


“Forum diskusi ini merupakan wadah silaturahim antara pimpinan Lemhannas RI  dengan para pemimpin redaksi beserta para rekan – rekan wartawan media yang bertujuan untuk mempererat hubungan dalam melakukan sinergi peran kita bersama bagi bangsa dan negara,” kata Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo saat memberi sambutan pada Forum Diskusi dengan Pemimpin Redaksi Media dengan tema “Ketahanan Nasional di Tengah Pandemi” secara daring, Kamis (26/11).

 

Memulai diskusi tersebut, Tenaga Profesional Bidang Sumber Kekayaan Alam dan Ketahanan Nasional Lemhannas RI Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, D.E.A. membawakan materi mengenai “Penguatan Ketahanan Nasional di Tengah Pandemi COVID-19”. Prof. Dadan menyampaikan bahwa Pandemi COVID-19 telah mempengaruh hampir semua aspek kehidupan. Hal ini tentu saja mengganggu ketangguhan ketahanan nasional Indonesia di berbagai aspek yang ada di dalamnya. “COVID-19 tidak hanya menginfeksi manusia, tapi juga ketahanan nasional. Pandemi global yang sudah berlangsung lama dan belum dapat diperkirakan kapan akan berakhir, membawa kecemasan dan kepanikan secara global,” kata Prof. Dadan melanjutkan.

 

Berdasarkan Indeks Ketahanan Nasional pada Desember 2019 dan Juli 2020, hasil pengukuran Laboratorium Ketahanan Nasional memperlihatkan bahwa COVID-19 berpengaruh pada Ketahanan Nasional. Hal ini terlihat dari adanya penurunan Indeks Ketahanan Nasional yang menunjukkan bahwa Indeks Ketahanan Nasional pada bulan Juli 2020 seolah kembali pada kondisi tahun 2015. Lebih lanjut Prof. Dadan menyampaikan bahwa pandemi ini berpengaruh langsung pada Gatra Demografi, Ekonomi, selanjutnya berdampak pada gatra Politik, Sosial Budaya, Ideologi dan gatra lainnya.

Dalam diskusi daring tersebut, Lemhannas RI merekomendasikan bahwa Indonesia perlu membangun Konsep Dasar Ketahanan Nasional di Masa Depan. “Strategi Penguatan Ketahanan Nasional  sebagai landasan pembangunan bangsa di mana prioritas pembangunan ketahanan nasional adalah penguatan ketahanan insani,” kata Prof. Dadan.

 

Ada tiga aspek ketahanan nasional yang perlu diperhatikan, lanjut Prof. Dadan, yaitu ketahanan sosial budaya dan ideologi, ketahanan ekonomi berbasis prinsip kedaulatan dan kemandirian, ketahanan politik dalam arti kapasitas pemerintahan, serta pola manajemen sistem pemerintahan perlu dievaluasi guna meningkatkan harmonisasi pelaksaan kebijakan di tingkat pusat dan daerah.

 


Alumni Pelatihan untuk Pelatih (PUP)/Training of Trainers (ToT) bagi Dosen, Guru dan Widyaiswara Angkatan ke II Lemhannas RI Tahun 2020 kembali menyelenggarakan Webinar dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional yang diselenggarakan pada Kamis (26/11). Webinar yang menggandeng Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Komisariat Provinsi Kalimantan Selatan ini merupakan Webinar Series kedua dan mengangkat tema “Peningkatan Profesionalisme Guru Sebagai Benteng Ketahanan Negara di Era Pandemi Covid 19”

 

Webinar Series kedua ini dibuka langsung oleh Ketua Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Komisariat Provinsi Kalimantan Selatan Bapak Drs. Zulkifli, M.P. Hadir sebagai pembicara kunci pada kegiatan tersebut Direktur Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK)  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Dr. Praptono, M.Ed. Praptono dalam pidatonya menyampaikan model kompetensi guru, di antaranya penguasaan pengetahuan profesional, praktik pembelajaran profesional, dan pengembangan profesi yang berkelanjutan.

 

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan oleh dua narasumber, yaitu Direktur GTK Madrasah Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Dr. Muhammad Zein, M. Ag. dan Ketua Asosiasi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Indonesia Dr. Sri Rahmi, M.A. Sri memaparkan ciri-ciri guru sukses, antara lain selalu mempunyai kelebihan satu cara dalam menghadapi suatu permasalahan dan menjalin komunikasi dan saling sinergi dengan orang tua maupun keluarga siswa/murid. Lebih lanjut Sri mengingatkan, dalam menjadi guru milenial, guru harus dapat memperkuat literasi, menggunakan internet dan media sosial secara bijak, terbuka terhadap pengalaman baru dan membangun ide dan visi ke depan, serta percaya diri.

 

 

 

Webinar yang dipandu oleh Dr. Suhari Dr. Sutoro selaku Moderator ini diikuti oleh 289 peserta. Peserta berasal dari berbagai Provinsi di Indonesia dan dari Malaysia serta Amerika.

 

 


“Merupakan hal terpenting ketika kita menjaga komitmen dalam menggapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dengan tetap memperhatikan hak-hak perempuan dalam pembangunan dan perdamaian” kata Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo saat memberikan sambutan dalam Acara Pembukaan Konferensi Internasional tentang Perempuan, Perdamaian, dan Masyarakat Inklusif “Building Grounded & Sustainable Peace: Women’s Experience in Post Conflict Situation and The Realm of Radicalism” kerja sama Lemhannas RI dengan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada Kamis (26/11). Konferensi tersebut membahas peran perempuan dalam mempertahankan perdamaian guna memperkuat ketahanan nasional.

 

Pada kesempatan tersebut, Agus menyampaikan bahwa seruan untuk pemberdayaan perempuan dan melindungi hak perempuan menjadi bagian dari kesepakatan global sebagaimana tertuang dalam agenda pembangunan. Komitmen yang dibuat oleh semua negara mewajibkan pemerintah semua negara mengambil sikap dan tindakan untuk memajukan dan melindungi hak-hak perempuan, agar semangat dan komitmen visioner yang tertanam dalam setiap kebijakan negara tidak akan hilang. Agus menekankan bahwa menciptakan sebuah kebijakan yang mendukung peran perempuan dalam proses pembangunan adalah suatu kepastian. Perempuan dapat menikmati hak asasinya sebagai komitmen internasional dan prasyarat untuk kerja sama yang lebih luas dalam pembangunan, demokrasi, perdamaian, dan keamanan.

 

“Kesetaraan perempuan bukanlah masalah moril dan bukanlah masalah kemanusiaan, akan tetapi lebih condong pada masalah keadilan. Oleh karena itu, memberikan hak yang sama terhadap perempuan dalam proses pembangunan merupakan keniscayaan jika pembangunan ingin bergerak maju, stabil, dan aman,” ujar Agus.

Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani dalam sambutannya menyampaikan bahwa mengupayakan pemulihan bagi perempuan korban konflik dan mendukung kepemimpinan perempuan dalam membangun perdamaian merupakan langkah strategis untuk mendukung pemenuhan hak konstitusional, terutama pada jaminan atas rasa aman, kehidupan yang bermartabat dan bebas dari diskriminasi atas dasar apa pun.

“Komnas Perempuan sangat berbangga bahwa Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) juga memiliki aspirasi serupa. Hal ini tidak terlepas dari kepemimpinan Bapak Letjen (Purn.) Agus Widjojo yang juga kita kenali kiprahnya di dalam mendorong upaya-upaya perdamaian dalam berbagai ruang,” ungkap Andy.

Lebih lanjut Andy menyampaikan harapannya agar kerja sama dalam menyelenggarakan konferensi internasional ini akan berlanjut dengan lebih menginstitusionalisasikan perspektif gender di dalam kajian-kajian dan pendidikan tentang ketahanan nasional. 

 

Konferensi yang dilaksanakan dalam rangka peringatan 20 Tahun Resolusi 1325 PBB dan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (25 November-10 Desember 2020) tersebut, dihadiri oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati selaku pembicara kunci. Selain itu, terdapat lima pembicara, yaitu Pakar Internasional tentang Keadilan Transisional Profesor Fabian Savioli, Co-Founder dan Direktur Eksekutif PAIMAN Alumni’s Trust, APWAP’s Affiliate Dr. Mossarat Nadim, Wakil Indonesia untuk AICHR Yuyun Wahyuningrum, komisioner Komnas Perempuan Prof. Dr. Alimatul Qibiyah, dan Tenaga Ahli Pengajar Bidang Sosial Budaya Lemhannas RI Prof. Dr. Njaju Jenny Malik Toni Hardjatno.

 



Hak cipta © 2021 Lembaga Ketahanan Nasional RI. Semua Hak Dilindungi.
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 10 Jakarta 10110
Telp. (021) 3451926 Fax. (021) 3847749