LEMHANNASRI (c) Telematika Lemhannas RI

 

Sebanyak 23 mahasiswa Politeknik Negri Bandung (Polban), yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), mengunjungi Lemhannas RI. Kunjungan diterima oleh Kepala Biro Humas Lemhannas RI Brigjen TNI Mindarto di Ruang Syailendra Gedung Astagatra Lemhannas RI, pada Jumat (21/11).

 

Kunjungan yang disebut dengan Wisata Pemerintahan tersebut, merupakan program kerja  dari Departemen Hubungan Eksternal BEM Polban yang bertujuan untuk mengenal lebih jauh tentang Lemhannas dan kedepannya dapat membentuk suatu kemitraan.

 

“Wisata pemerintahan ini tujuannya untuk membangun kerjasama strategis, khususnya dengan lembaga pemerintahan. Nantinya pada program wisata pemerintahan ini kita ingin mengenal lebih jauh tentang fungsi dan program (Lemhannas RI)  yang InsyaAllah, dari kami menginginkan terbentuknya suatu kemitraan,” ungkap Ketua BEM Polban Ghifaris Vasha Irhamsyah dalam sambutannya.

 

Sebelum masuk ke pembahasan, pembawaan materi diawali dengan pemutaran videoprofil Lemhannas RI. Selanjutnya, Mindarto menjelaskan mengenai sejarah, struktur organisasi, tugas dan fungsi serta program-program kerja yang dilakukan oleh Lemhannas RI.  Kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi.

 

Selain menerima paparan tentang Lemhannas RI, para mahasiswa juga mengunjungi Labkurtannas (Laboratorium Ketahanan Nasional) untuk mengetahui Indeks Ketahannan nasional pada setiap Provinsi di Indonesia, serta mengunjungi Laboratorium Jajak Pendapat Lemhannas RI yang diresmikan oleh Gubernur Lemhannas RI pada 1 Februari 2017.  

 

 

Peserta PPSA XXI telah menyelesaikan rangkaian pendidikan di Lemhannas RI. Pendidikan yang berlangsung selama 5,5 bulan tersebut, secara resmi ditutup oleh Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo. Upacara penutupan dilaksanakan di Ruang Dwi Warna Purwa Gedung Pancagatra Lantai I Lemhannas RI, pada Kamis (23/11).

 

Acara diawali dengan paparan yang disampaikan oleh Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata, mengenai perubahan paradigma dalam masyarakat seiring dengan hadirnya generasi baru millenial dan perkembangan teknologi di saat ini dan masa di depan.

 

Ridzki menyebutkan terdapat tiga generasi yang memiliki perbeda dari segi pola pikir dan tingkah laku, yaitu generasi baby boomers, generasi x dan generasi millenial. Dalam penjelasannya, Ridzki lebih menyoroti pada generasi millenial yang lahir di dunia digital. Generasi millenial dinilai sebagai generasi yang percaya terhadap pemerintah, memperhatikan kelangkaan sumber daya alam dan menyukai hal-hal yang bersifat otentik.

 

Menghadapi generasi millenial dan perkembangan teknologi, Ridzki menjelaskan peluang dan tantangan untuk pembuat kebijakan. Kaum muda dalam waktu ke depan akan lebih produktif seiring dengan persaingan global , regulasi harus mempersiapkan masa depan dan menjadikan Indonesia sebagai pemimpin di Industri baru serta peran keluarga dan lingkungan terkecil akan semakin penting dalam membentuk karakter bangsa.

 

Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Deputi Bidang Pendidikan Pimpinan Tingkat Nasional Mayjen TNI Karsiyanto, S.E, dari 81 jumlah peserta PPSA XXI, sebanyak 79 dinyatakan lulus. Selain itu, Dewan Penilai menetapkan 1 orang peserta predikat taskap dan predikat nilai terbaik serta mendapatkan penghargaan wibawa seroja nugraha.

 

Agus Widjojo dalam sambutannya menyampaikan harapan besar kepada alumni PPSA XXI. “Lemhannas RI menaruh harapan besar kepada seluruh alumni PPSA XXI bahwa para alumni mampu mengimplementasikan  seluruh ilmu pengetahuan dan wawasan yang telah diperoleh selama pendidikan melalui pemahaman dan cara berpikir holistik, komprehensif, integral dan sistemik,” ungkap Agus Widjojo.

 

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Lemhannas RImemberikan penghargaan Wibawa Seroja Nugraha kepada Brigjen Pol Teddy Minahasa Putra, S.H., S.I.K yang medapatkan predikat taskap dan nilai akademik terbaik.

 

Penutupan PPSA XXI ditandai dengan penanggalan tanda peserta dan penyematan pin Lemhannas oleh Gubernur Lemhannas RI kepada perwakilan Peserta PPSA XXI. Selanjutnya, acara tersebut ditutup dengan pengukuhan alumni PPSA XXI sebagai pengurus IKAL (Ikatan Keluarga Alumni) Lemhannas RI masa bakti 2017-2022.

 

 

Menjelang akhir pendidikan, peserta PPSA XXI mendapatkan pembekalan dari Ketua Umum IKAL (Ikatan Keluarga Alumni) Lemhannas RI Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar, M.Sc. Pembekalan yang diselenggarakan di Ruang Bhineka Tunggal Ika Gedung Pancagatra Lantai III Lemhannas RI pada Selasa (21/11).

 

Pembekalan diawali dengan pengenalan organisasi IKAL yang disampaikan oleh Wakil Ketua 2 IKAL Lemhannas RI Komjen Pol (Purn) Drs. Togar M. Sianipar, M.Si. Semula IKAL merupakan akronim dari Ikatan Alumni Lemhannas. Akan tetapi berdasarkan Muasyawarah Nasional (Munas) pada tahun 2016, akronim IKAL saat ini adalah Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas. Hal tersebut bertujuan agar semua peserta pendidikan di Lemhannas RI dapat disatukan sehingga dapat menjadi kekuatan besar, yang mampu memberikan sumbangsih pemikiran dan karya nyata dalam pembangunan nasional. IKAL merupakan organisasi resmi yang mewadahi alumni Lemhannas, yang bersifat indepenen dan netral.

 

Selanjutnya, Agum Gumelar berpesan kepada seluruh peserta PPSA XXI agar berhati-hati dalam melangkah dan membuat keputusan, sehingga tidak mengukir catatan negatif dan menggagalkan tujuan dari setiap peserta. Selain itu, ia juga menyampaikan agar selalu peduli terhadap perkembangan situasi dan kondisi bangsa.

 

“Kita harus selalu peduli terhadap situasi yang berkembang, tidak boleh apatis. Anggota IKAL itu berwawasan kebangsaan. Ketika berseragam IKAL maka kita mengedepankan kepentingan bangsa dan negara, tidak boleh ada kepentingan partai atau golongan masing-masing. Kita satu dalam memandang kepentingan bangsa,” pungkas Agum Gumelar.

 

Penataran Istri/Suami (Tar Istri/Suami) peserta PPSA XXI yang berlangsung selama enam hari sejak tanggal 15 November 2017, secara resmi ditutup oleh Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo, Selasa (21/11) pagi. Sebagai simbol berakhirnya kegiatan ini, gubernur melepas tanda peserta perwakilan peserta Tar Istri/Suami dan memberikan sertifikat kegiatan.


Penataran diikuti oleh 77 orang peserta, terdiri dari 73 orang istri dan 4 orang suami peserta PPSA XXI. Disamping pemberian ceramah dan diskusi oleh narasumber, peserta penataran juga melakukan kunjungan ke beberapa objek budaya seperti Museum Kepresidenan Balai Kirti, Rumah Budidaya Jamur Tiram di Gadog, dan PT Haeng Nam Sejahtera Indonesia (HSI).  


Agus Widjojo berharap melalui penaratan ini, peserta memperoleh wawasan tentang peran istri/suami sebagai pendamping pimpinan tingkat nasional dan menjadi teladan bagi keluarga besar unit kerja dan masyarakat. “Diharapkan pembekalan tersebut dapat memperluas wawasan serta menambah kemantapan diri para peserta penataran dalam menghadapi berbagai tantangan guna mendampingi tugas dan tanggung jawab suami/istri di masa mendatang,” kata Agus Widjojo.


Sebagai seorang pendamping bagi pasangannya, istri/suami harus mampu memposisikan diri sebagai motivator baik dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam menjalani tugas kedinasannya, “Peran seorang istri/suami sangatlah penting dalam mendukung karir pasangan, kita harus bisa memposisikan diri sebagai motivator agar pasangan dapat melaksanakan tugas dengan optimal sebagai kepala rumah tangga, dan juga sukses dalam tugas kedinasan sebagai pimpinan nasional,” ujar gubernur Lemhannas RI dalam sambutannya.


Keluarga menjadi elemen terkecil dari sebuah bangsa, jika setiap keluarga mempunyai karakter yang baik, maka bangsa Indonesia akan memiliki karakter yang baik pula. Seperti yang diharapkan Agus Widjojo kepada peserta penataran yang dapat menanamkan nilai-nilai positif didalam keluarganya, dan terus berkembang hingga ke lingkungan masyarakat.


Pengembangan karakter bangsa yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila sehingga terwujud sebuah keluarga yang berkualitas, merupakan salah satu pendekatan keluarga dalam character building. Oleh sebab itu, peserta Tar Istri/Suami diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya, agar dapat mengembangkan perannya sebagai seorang ibu/bapak bagi para generasi penerus bangsa, pendamping suami/istri serta perannya dalam masyarakat guna ikut memajukan bangsa.

 

Peserta PPSA XXI dan alumni PPRA LVI Lemhannas menerima pembekalan dari Wakil Presiden RI Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla. Pembekalan yang disertai dengan paparan hasil seminar nasional PPSA XXI dan PPRA LVI diselenggarakan di Gedung 2, Istana Wakil Presiden pada Senin (20/11).

 

Acara diawali dengan laporan Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo kepada Wakil Presiden terkait dengan hasil seminar yang nantinya dapat dijadikan sebagai rekomendasi kebijakan pemerintah. Paparan hasil seminar nasional PPRA LVI dengan tema “Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan Guna Merajut dalam Rangka Ketahanan Nasional”, dibacakan oleh Kolonel Czi Rido Hermawan, M.Sc merekomendasikan pemecahan masalah penguatan nilai-nilai kebangsaan dengan aktualisasi materi nilai-nilai kebangsaan dan penguatan fungsi kelembagaan.

 

Pada seminar nasional PPSA XXI dengan tema “Peran Pancasila dalam Memperkokoh NKRI”, paparan hasil seminar dibacakan oleh Andy Yentriani, S.Sos, M.A. Seminar tersebut merokemendasikan agar terdapat kebijakan untuk  media massa dalam menyajikan program-program tentang aktualisasi Pancasila dan mendorong partai politik, ormas, maupun lembaga-lembaga lain untuk mengintegrasikan aktualisasi nilai-nilai Pancasila.

 

Sejalan dengan paparan hasil seminar yang telah dibacakan, Jusuf Kalla menyatakan bahwa keragaman yang dimiliki oleh Indonesia justru menjadi kekuatan. “Kita mengakui perbedaan karena itu ada Bhineka Tunggal Ika. Tetapi, perbedaan itulah menjadi kekuatan kita,”ungkap Jusuf Kalla.

 

Menghadapi perbedaan dan keberagaman, lanjut Jusuf Kalla, mengharuskan adanya sikap saling menghargai dan toleransi. Selain sebagai ideologi bangsa, Pancasila juga perlu diaktualisasikan dan dibangun.  Semua rezim pemerintahan selalu mengakui Pancasila dalam ideologinya, tetapi tanpa membangun, itu sama saja tidak menyelesaikan masalah.

 

Turut hadir dalam acara pembekalan tersebut adalah Wakil Gubernur Lemhannas RI Marsdya TNI Bagus Puruhito, Sekretaris Utama Komjen Pol Drs. Arief Wachyunadi, para Deputi, Tenaga Profesional, Tenaga Pengkaji, Tenaga Pengajar , Pejabat Struktural dan Fungsional Lemhannas RI.

 

Kehadiran sosok istri akan memberikan dampak besar untuk karir dan profesional suami, begitu pula sebaliknya. Peranan Istri/ Suami dalam menunjang karir pasangannya sangat mempengaruhi keberhasilan bagi lulusan PPSA XXI Lemhannas RI. Penataran yang diberikan oleh Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo Jumat (17/11) siang bertujuan untuk memberi bekal pengetahuan kepada para pendamping peserta PPSA XXI Lemhannas RI tahun 2017.


Gubernur diawal ceramahnya memperkenalkan lebih jauh terkait visi, misi dan core Lemhannas RI, agar para peserta dapat memahami terlebih dahulu terkait pendidikan yang sedang diikuti oleh pasangannya, baik suami maupun istrinya. Selain itu, peran istri/suami peserta PPSA, menurut Agus Widjojo, dibagi menjadi dua, yakni sebagai seorang pendamping dan penyeimbang. Peranannya sebagai pendamping yang nantinya diharapkan dapat mempengaruhi dan menentukan keberhasilan para peserta PPSA XXI menjadi pimpinan tingkat nasional yang memiliki karakter kebangsaan yang kuat, amanah serta mengutamakan kepentingan bangsa. Peran kedua sebagai penyeimbang, diharapkan dapat saling menunjang serta memberikan dukungan moral dalam sebuah keluarga yang utuh.


Dalam menghadapi perkembangan sosial di lingkungan keluarga, penting bagi Istri untuk memiliki pendidikan pengetahuan yang baik, agar dapat memenangkan ‘kompetisi’ di berbagai profesi. Selain itu diharapkan para pendamping memiliki kesiapan menghadapi kemajuan teknologi informasi & komunikasi, khususnya pemanfaatan media sosial yang dapat membawa pengaruh positif & negatif dalam kehidupan keluarga.

 

Peserta Penataran Isteri/Suami Peserta PPSA XXI menerima pembekalan materi dari Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Polhukam Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dr. A. Darsono, M.Si. Pembekalaan yang dilaksanakan di Ruang NKRI Gedung Pancagatra Lantai III Lemhannas RI pada Jumat (17/11), membahas tentang peran perempuan dalam pembangunan nasional.

 

Diawal paparannya, Darsono mengatakan bahwa ada empat variabel dalam mengukur Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

 

 

“Indonesia bila diliat lebih kasat mata, baik di negara kita maupun internasional, itu bisa dilihat dari perkembangan dan kemajuan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM itu diukur dari empat variabel penting, yaitu lamanya sekolah, jumlah pendahulu perempuan, kontribusi perempuan di dalam pendapatan nasional rata-rata setahun, dan kesehatan,” ungkap Darsono.

 

 

Dalam sejarah, lanjut Darsono, Indonesia tidak pernah mempermasalahkan kesetaraan. Hal ini disebabkan oleh laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam memimpin negri untuk membangun masa depan Indonesia. Selain itu, tradisi masa lau pula yang memberikan peran politik perempuan untuk mencapai kejayaan nusantara, sehingga makna kesetaraan di Indonesia tidak perlu berkiblat dengan negara lain.

 

Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada September 2015  di New York,yang dihadiri oleh para kepala negara dan pemerintahan telah menetapkan Pembangunan Berkelanjutan (Sustianability Development Goals/SDGs). Salah satu tujuan dari program tersebut adalah untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (target to gender equality dan women empowerment). Untuk mendukung hal tersebut,UN Woman yang merupakan salah satu dari lembaga PBB, memasukan Indonesia sebagai champion dari  10 negara yang dipersiapkan untuk menuju Planet Gender Equality 50:50 pada 2030 mendatang.

 

Pembekalan materi dilanjutkan dengan diskusi mendalam mengenai peran perempuan dalam pembangunan dan tanya jawab dengan peserta. 

 

PPSA XXI sukses menggelar Seminar Nasional Lemhannas RI dengan mengangkat tema besar “Peran Pancasila dalam Memperkokoh NKRI” Kamis (16/11) Pagi, di ruang Dwiwarna Purwa, Gedung Panca Gatra Lemhannas RI. Seminar yang mengangkat judul “Aktualisasi Pancasila dalam Sistem Pendidikan Guna Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa, dalam rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional” ini menghadirkan Wakil Presiden ke-6 Jend TNI (Purn) Try Sutrisno sebagai keynote speaker atau pembicara utama. Lima orang narasumber utama yakni, seorang Akademisi Indonesia Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., Aktivis Islam sekaligus Politikus Yenny Wahid, Seorang Sastrawan, dan Sosiolog Dr. Ignas Kleden, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta Prof. Dr. Arif Rahman, serta yang terakhir Sejarawan Indonesia Prof. Dr. Anhar Gonggong.


Di awal seminar, Prof. Dr. Ir. Reni Mayerni, M.P. sebagai Ketua Seminar melaporkan kesiapan acara dihadapan seluruh undangan, yang terdiri dari Pejabat Struktural Lemhannas, Pejabat Kementerian, TNI, Polri, Rektor dari beberapa Perguruan Tinggi, serta Perwakilan Mahasiswa.


Menurutnya, penyelenggaraan seminar nasional ini telah disusun kedalam rangkaian kegiatan yang terdiri dari empat acara utama, yang diawali dari Focus Group Discussion pada 7 September 2017, kemudian dilanjutkan dengan Round Table Discussion pada 14 September 2017 lalu, telah diadakan pula Seminar PPSA XXI pada 24 Oktober 2017, dan puncaknya penyelenggaraan Seminar Nasional Lemhannas RI pada hari ini. “Hari ini seminar Lemhannas RI merupakan puncak dari rangkaian seminar yang akan menghasilkan konsep strategis yang utuh tentang aktualisasi nilai-nilai pancasila dalam sistem pendidikan guna memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka meningkatkan ketahanan nasional,” ujar Reni dalam laporannya.


Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo, Menurut Agus Widjojo, Pancasila tidak akan berarti jika nilai-nilai yang terkadung didalamnya tidak di aktualisasikan kedalam kehidupan sehari-hari. “Pancasila harus di aktualisasikan supaya kita tidak menjadi negara ‘urak-urak’ pancasila yang didalamnya hanya menjadi mantra. Proses aktualisasi harus terus dirawat dan ditumbuh kembangkan,” ujar Agus Widjojo. Karena di era globalisasi ini, Pancasila mendapat tantangan dari ideologi lain yang bertentangan dengannya, yang dapat dengan mudah diakses melalui media sosial. Etnonasionalisme berbasis kesukuan dan agama kembali muncul di permukaan, dalam konteks tersebut aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam sistem pendidikan nasional menjadi bagian dari upaya rejuvenasi Pancasila. Yang sangat disayangkan, sistem pendidikan di Indonesia belum mencerminkan secara aktual nilai-nilai Pancasila, sehingga belum mampu berkontribusi dalam memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa.


Try Sutrisno sebagai keynote speaker berbicara mengenai kesadaran akan kemerdekaan yang dibangun melalui pendidikan. Dilihat dari proses kemerdekaan Indonesia, dimana para pendahulu mulai membangunkan kesadaran melalui pendidikan, karena menggunakan perlawanan fisik dapat dengan mudah dipatahkan oleh penjajah Belanda. “Digugahlah pendidikan satu-persatu, kepartaian mulai dibentuk, dan dari kebangkitan kebangsaan itu disongsong oleh pemuda dan mulai tergalang akan pendidikan, membuat sumpah pemuda yang mampu mengikrarkan 3 hal yang termuat di dalamnya,” tegas Wakil Presiden ke-6 itu.


Di akhir seminar, diserahkan produk-produk hasil kajian peserta PPSA XXI berupa lima buah modul dalam bentuk buku untuk anak usia 7 – 11 tahun, beserta CD lagu berjudul “Sikap Pancasila”, dan buku Pancasila di Era Globalisasi kepada Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo.

Lemhannas RI menggelar forum komunikasi antara Pimpinan Lemhannas RI dengan Pimpinan Redaksi media massa pada Rabu (15/11). Kegiatan yang diberi nama Coffee Morning tersebut, digelar di Anjungan Trigatra Lemhannas RI. Dengan dimoderatori oleh Maulana Isnarto, diskusi ini membahas tentang peran Lemhannas RI dalam penguatan pendidikan karakter guna memperkuat ketahanan nasional yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Lemhannas dalam mendidik calon pemimpin nasional.

 

Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo dalam pengantar diskusi menyampaikan bahwa forum ini merupakan laboratorium wacana isu-isu kebangsaan bagi peserta pendidikan di Lemhannas sebelum mereka terjun langsung memimpin instansi masing-masing ke depannya. Menurut Agus, Lemhannas menguatkan pendidikan karakter peserta dengan mengajarkan cara berpikir (framework of thinking).

 

“Kami Lemhannas memang terus berpikir dan selalu mengadakan diskusi-diskusi internal. Karena setelah program pendidikan ini selesai, langsung kita sambung dengan evaluasi mengenai kekurangan dan bagaimana bisa mewujudkan apa yang kita inginkan dari hasil didik program pendidikan. Diantaranya yang menonjol yang bisa saya sampaikan di sini adalah bahwa Lemhannas tidak hanya untuk mengajarkan tentang apa, siapa, dimana bilamana, tetapi lebih banyak Lemhannas itu mengajarkan cara berpikir,” ujar Agus Widjojo.

 

Untuk itu, lanjut Agus Widjojo, para peserta dan alumni pendidikan di Lemhannas dibekali cara berpikir agar dapat menangani isu-isu strategis mengenai hal apapun dengan berbagai pendekatan.

 

Coffee Morning sendiri merupakan program rutin Biro Humas Lemhannas RI sebagai ajang silaturahmi dan juga diskusi dengan media massa.  

 

“Kegiatan forum komunikasi ini merupakan ajang silaturahmi antara pimpinan Lemhannas RI, para pejabat struktural maupun fungsional dengan pimpinan redaksi dan teman-teman wartawan dari berbagai media. Saya harapkan kegiatan ini menjadi wadah untuk saling mengisi dan bertukar informasi,” ungkap Kepala Biro Humas Lemhannas RI Brigjen TNI Mindarto dalam sambutannya.

 

Selain itu, Mindarto juga memberikan informasi tambahan mengenai kegiatan seminar yang diselenggarakan oleh peserta PPSA XXI yang bertema “Peran Pancasila dalam Memperkokoh NKRI” pada esok hari, Kamis (16/11).

 

Forum ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi mendalam dengan para pemimpin redaksi dan wartawan media massa dan ditutup dengan ramah tamah.

 

Turut hadir dalam forum komunikasi yaitu Wakil Gubernur Lemhannas RI Marsdya TNI Bagus Puruhito, Sekretaris Utama Komjen Pol Drs. Arief Wachyunadi, para Deputi, Tenaga Profesional, Tenaga Pengkaji, Tenaga Pengajar, Pejabat Struktural Lemhannas RI dan peserta PPSA XXI.

Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo menjadi salah satu narasumber dalam kursus singkat yang diadakan oleh Mahkamah Konstitusi, bagi Perwakilan Mahkamah Konstitusi Negara Lain. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang perwakilan mahkamah konstitusi dari 13 negara yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, Korea Selatan, Mongolia, Afganistan, Kirgistan, Kazakhstan, Pakistan, Tajikistan, dan Azerbaijan. Pada paparannya, Agus Widjojo mengangkat topik “Pengelolaan Keberagamaan dalam Bingkai Negara Kesatuan”, yang diadakan di ruang Syailendra, Gedung Asta Gatra Lemhannas RI, Selasa (14/11) siang.

 

Agus Widjojo dalam paparannya berbicara mengenai geopolitik dan posisi geografis di Indonesia, menurutnya untuk dapat memahami geopolitik dari suatu negara, perlu dipahami terlebih dahulu tiga faktor berikut, yakni sejarah negara, makna bangsa dan negara, serta aspirasi rakyat dan ideologi yang diyakini.

 

Awal tonggak kebangkitan bangsa yang telah sekian lama terbenam dalam penjajahan, bermula ketika kebijakan politik etnis kolinial Belanda memberikan kesempatan pendidikan bagi rakyat Indonesia, kemudian didirikan sekolah serta mengirim putra dan putri terbaik Indonesia untuk belajar di luar negeri. Pendidikan mulai membuka pikiran rakyat tentang kemerdekaan.

 

Kesadaran berbangsa diawali oleh berdirinya gerakan Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908, dan selanjutnya diikuti dengan berdirinya berbagai komunitas yang dipelopori pemuda tanah air, baik organisasi keagamaan, maupun partai politik. Hingga akhirnya pada 28 Oktober menjadi hari diikrarkannya Sumpah Pemuda yang merupakan tonggak utama dalam memberikan penyemangat pemuda-pemudi Indonesia untuk menegakkan berdirinya Negara Indonesia. Semangat Sumpah Pemuda yang membudayakan nasionalisme, rasa kewarganegaraan dan semangat nasional sampai akhirnya bangsa Indonesia menyatakan Proklamasi Kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

 

Dalam ceramahnya dihadapan seluruh peserta kursus singkat, Agus Widjojo juga memaparkan terkait empat konsensus dasar bangsa. Diantaranya Pancasila sebagai dasar negara dan fondasi ideologis bangsa, Sesanti Bhinneka Tunggal Ika yang untuk pertama kalinya dicetuskan oleh Mpu Tantular dan dituangkan dalam bukunya berjudul Kakawin Sutasoma yang bermakna “Keanekaragaman berarti satu”, serta NKRI dan UUD 1945 untuk menjaga keberagaman. Seperti yang tertuang dalam pembuakaan UUD 1945, menyiratkan tujuan pembentukan pemerintah nasional dengan tugas untuk melindungi bangsa dan tanah air.

 

Untuk mempertahankan keberagaman bangsa Indonesia bukan hal yang mudah, melihat jumlah kelompok etnik mencapai 1.340 kelompok (BPS 2010), serta 245 agama dan kepercayaan yang terdapat di Indonesia. Tantangan yang dihadapi antara lain dinamika lingkungan internasional, serta adanya persaingan ide dan ideology yang terus berkembang. Oleh sebab itu melalui kursus singkat ini, diharapkan para peserta dapat memahami nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi yang dapat melindungi hak-hak warga negara dan HAM di Indonesia, serta menjadikannya sebagai titik acuan dan norma dalam kehidupan masyarakat Indonesia.